Ju-Potre

1261 views
Ju-Potre,5 / 5 ( 1voting )

10685610_784840091558294_3523755993187959669_n

Bangkalan,Maduracorner.com – Orang/masyarakat Madura menyebutnya “Ju-Potre” dalam pengertian yang sebenarnya ad “Putri Raja” dengan mengenakan Busana khusus yang disebut “Kebaya” seperti apa yang ditemukan dibeberapa literatur yang telah menjadi pedoman bagi para pencinta Seni Budaya Busana daerah…!!!

Dhin Ajuh Potre R.Ayu Menik Anisya Sasradiningrat yang menempati Keputren di Kraton Putri “Pandigung” foto ini tidak sengaja ditemukan pada file lama sewaktu menelusuri Jejak “Ju-Potre” dalam istilah yg sering diucapkan oleh masyarakat awam di madura…!!!

KEBAYA
1. Pengertian Kebaya
Dari bentuknya Kebaya adalah sebuah blus berlengan panjang yang dipakai sebelah luar kain atau sarung yang menutupi sebagian dari badan . Panjang kebaya ini berkisar sekitar pinggul sebelah atas sampai dengan lutut. Kebaya pendek dibuat dari bahan katun yang berbunga atau polos, sutra, brocade, lame, bahan-bahan sintetis, brokat, lurik, dan organdi atau katun polos yang halus yang seluruh pinggirnya dihiasi dengan renda. Apabila dari asalnya kebaya bukanlah busana asli Indonesia, siluet dari kebaya yang merupakan pengembangan baju panjang yang berasal dari asia. Ada kemiripan antara baju panjang dengan kimono di Cina dan blus orang-orang Islam di Asia Selatan dan timur Tengah. Kebaya sendiri kemungkinan berasal dari kata “ Cambaia”, sebuah kota di India, yang para pendudiknya membuat dan berdagang tekstil ke kepulauan yang terhampar di Samudera Hindia. Bahan yang mereka tawarkan adalah cita tipis bernama muslin atau namsuk yang sesuai dibuat baju untuk daearah panas. Bahan ini kemudian disebut kain Cambaj (kambai), yang kemudian bahan tersebut dinamakan kebaya atau kebaya.
2. Variasi Kebaya
Kebaya dikenakan oleh sebagian besar wanita di Indonesia dengan wilayah penyebaran antara lain: Pulau Jawa dari Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY. Jawa Timur, Madura. Pulau Bali, Kalimantan. Dari beberapa daerah tersebut muncul beberapa variasai kebaya dengan ciri khas yang berbeda, variasi ini terjadi pada umumnya dipengaruhi budaya local suatu tempat. Di Pulau Jawa umumnya kebaya merupakan busana daearah yang utama disamping pemakain kemben. Kebaya biasanya dipadu dengan kain batik yang berupa kain panjang dan sarung, panjang kebaya tergantung selera pemakai atau disesuaiakan dengan keadaan.
Kebaya di Jawa Barat bentuknya beragam, Kebaya Sunda biasanya berupa blus pendek, tanpa tambahan bagian depan,memakai atau tanpa lekuk leher, terbuat dari brokat atau sutera berwarna cerah,lengan bajunya agak melebar dibanding kebaya di jawa tengah. Kain batiknya dililitkan dengan cara biasa (tanpa wiron), berwarna cerah. Pakaian yang dikenakan wanita Sunda umumnya berwarna mencolok.
DKI mempunyai ciri khas tertentu dalam berkebaya, antara lain warna cerah, dipadu dengan sarung batik yang cerah (motif pesisiran), bagian depan tanpa kain tambahan,bagian kerah biasanya diberi hiasan kerancang atau sulaman, bagian lengan diberi manset agar mempermudah membuka lengan ketika berwudhu, bentuk kebaya DKI dipengaruhi oleh budaya China yang memunculkan kebaya Encim, yang pada awalnya dikenakan oleh China peranakan,salah satu cirri khas kebaya ini hiasan sulam atau kerancang di bagian leher sampai bawah. Pemakaian selendang sebagai pelengkap busana tidak disampirkan di pundak melainkan dipakai sebagai kerudung.
Pemakaian kebaya di Jawa tengah berkiblat pada pemakaian kebaya para wanita di kraton (Surakarta dan Yogyakarta), tatacara berkebaya di keraton menunjukkan status pemakaianya. Antara lain, permaisuri mengenakan kebaya panjang dari bahan yang halus antara lain, sutera, beludru, dengan hiasan sulaman yang indah, untuk para putrid mengenakan kebaya yang lebih pendek dengan warna- warna tertentu dan tata cara pemakaian kain panjang dengan teknik tertentu pula, yang menunjkkan usia, untuk para selir memakai kebya gulon, sedangkan untuk keluarga kaum ulama memakai kebaya yang terbuat dari saten. Biasanya kebaya di Surakarta dipadu dengan kain panjang dari batik, kemudian teknik pemakaianya diwiru dibagian depan, untuk anak-anak dengan sabuk wolo. Ciri khas dari kebaya Solo dan Yogya adalah adanya penambahan kain di depan (bef) yang disebut kutubaru yang pada awalnya dipakai sebagai tempat menempelkan perhiasan para putri, namun dikemudian hari menjadi patron kebaya di kalangan perempuan lainya…!!!

‪#‎File1981

By : Doink

Email Autoresponder indonesia