Akibat Ulah Tengkulak, Petani Cabai Tak Nikmati Mahalnya Harga Cabai

Petani Cabai Jadi Sapi Perah Tengkulak | Oleh : Aryan

Nur Rahmat  dan cabainya yang masih berwarna hijau-Foto : Sumaryanto/MC.com.

Nur Rahmat dan cabainya yang masih berwarna hijau-Foto : Sumaryanto/MC.com.

Maduracorner.com,Bangkalan – tingginya harga cabai kriting saat ini ternyata tidak berdampak kepada para petani cabe didesa Ko’ol Kecamatan Klampis Kabupaten Bangkalan. Meskipun harga cabai merah keriting diseluruh pasar tradisional yang ada di Kabupaten Bangkalan naik, namun harga cabai merah keriting ditingkat petani masih rendah, karena mereka menjual hasil panennya kepada para tengkulak yang langsung bergeriliya kedesa – desa.

“Cabai keriting merah yang dibeli langsung ketika petani panen disawah perkilo gramnya cuma dihargai antara Rp.22 ribu – Rp.25 ribu. Padahal harga cabai dipasaran sekarang ini Rp.40 ribu/kg-nya,” keluh Nur Rahmat petani cabai di Desa Ko’ol Kecamatan Klampis

Tidak hanya itu kata Nur Rahmat, demi mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya, cabai yang masih berwarna hijaupun sering menjadi sasaran empuk bagi para tengkulak untuk dibeli dengan harga murah. Caranya, lanjut dia, para tengkulak kayaknya sudah tahu betul mana petani yang butuh uang cepat atau minimal para tengkulak itu sudah menaruh orang-orang keperyaannya untuk menggali informasi siapa- siapa saja petani yang sedang mengalami kesulitan dalam soal keuangan.

“Contohnya, ya saya ini mas, cabai yang masih berwarna hijau dan beratnya 50 kg ini, terpaksa saya jual Rp.12 ribu/kg-nya. Saya butuh uang Rp.600 ribu untuk biaya Unas anak saya di SMKN 1 Arosbaya. Tapi untuk yang 3 petak lagi, saya tidak jual dan menunggu sampai cabai keritingnya berwarna merah, agar harganya lebih mahal,” pungkasnya. (yan/min)

Email Autoresponder indonesia