Alat Pengering Gabah Tenaga Surya Kecewakan Menteri BUMN Dahlan Iskan

Menteri BUMN, Dahlan Iskan-foto: Aryan/MC.com

Menteri BUMN, Dahlan Iskan-foto: Aryan/MC.com

Petani Kurang Berminat, Cost-nya Terlalu Mahal | Oleh:Aryan

Maduracorner.com, Bangkalan– Menteri BUMN, Dahlan Iskan merasa kecewa saat meninjau alat pengering gabah tenaga surya hasil penelitian dan karya dari mahasiswa Universitas Brawijaya Malang (Unibraw), di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya.

“Alat pengering gabah tenaga surya ini masih harus disempurnakan lagi dan jangan dibawa pulang dulu. Sebab jika petani enggan memakainya, tidak ada gunanya juga,” ujar Dahlan Iskan, kepada 4 mahasiswa peneliti dan pencipta alat pengering gabah tenaga surya, Sidik, Sandi, Riyan, Ilman yang disaksikan oleh ratusan petani Desa Buduran dan Desa Plakaran, Sabtu, (18/4).

Menurut Dahlan Iskan, saat ini banyak model pengering gabah yang ditawarkan, namun cost atau biaya operasionalnya dinilai terlalu mahal harganya karena menggunakan bahan bakar solar. Sedangkan alat pengering gabah tenaga surya hasil penelitian empat mahasiswa Unibraw, Sidik dkk ini masih dinilai belum layak untuk dipakai petani dan masih perlu disempurnakan lagi. Sebab percuma saja jika alat pengering gabah dengan bahan dasar, seng, 4 lempengan kaca ukuran 20×30 cm, tinggi lebih kurang 2 meter, lebar 40 cm dan memakai tenaga surya atau matahari itu.Sebab kwalitas kaca sebagai penyerap panas surya atau matahari mutunya dibawah standart dan mahasiswa takut membeli kaca penyerap panas yang harganya lebih mahal sehingga hasilnya kurang sempurna.

“Sebelum saya datang kemari, para mahasiswa peneliti dan pencipta alat pengering gabah tenaga surya ini, luar biasa¬†ngototnya agar melihat hasil penelitian mereka. Setiap hari saya tiga di SMS seperti mau minum obat, bahkan mengejar saya sejauh 200 km ke Kabupaten Tulungagung dengan menggunakan sepeda motor hanya sekedar memperlihatkan desain hasil penelitiannya. Bagusnya, setelah saya lihat ternyata desain gambarnya masuk akal juga, kemudian saya kasih uang Rp 10 juta dengan pesan jadikan hasil penelitiannya dalam bentuk kenyataan dulu,” kata Dahlan Iskan.

Dia menambahkan, alat pengering gabah tenaga surya yang dibuat oleh Sidik dkk itu, belum sempurna dan belum diterima oleh petani, maka dari itu masih perlu ada pembenahan dan beberapa komponennya yang harus diganti sehingga alat pengering gabah tenaga surya itu menjadi lebih sempurna.

“Harapan saya, petani mau memakai alat itu bukan karena terpaksa, apalagi belum diterima oleh petani. Tapi okelah sebagai karya ilmiah mahasiswa, itu saya hargai,” paparnya.

Sementara itu, salah seorang petani di Desa Buduran, Supriyadi mengatakan, yang diperlukan petani selama ini adalah alat pengering gabah pada saat musim hujan dengan coast atau biaya murah, sehingga tidak lagi perlu menjemurnya. Apalagi dirinya mendengar harga per unitnya mencapai Rp.10 juta, rasanya terlalu mahal dan sulit dijangkau oleh para petani kecil.

“Kalau alat pengering gabah tenaga surya ini, saya yakin muatannya atau isinya tidak sampai 1 kwintal gabah dan belum tentu bisa mengeringkan gabah dengan sempurna. Malah lebih cepat kering dengan cara alami atau dijemur menggunakan terpal seperti yang dilakukan petani selama ini. Apalagi harganya dianggap terlalu mahal, kelabihannya, hanya ayam tidak bisa masuk, jadi petani masih pikir – pikir dulu untuk menggunakan alat ini,” pungkasnya. (yan/shb).

Email Autoresponder indonesia