AQ Tegaskan Nyanyian Rasis Itu Hanya Isu Provokatif

1300 views
 K-Conk Mania -Foto : Mamad/MC.com

K-Conk Mania -Foto : Mamad/MC.com

Provokator Uji Soliditas Suporter Madura | oleh : lazamalover

Maduracorner.com, Bangkalan – Geliat prestasi sepak bola Madura dalam tiga tahun terakhir cukup ampuh mengusik patriotisme warga pulau garam. Dalam arti yang positif, usikan itu kemudian menjelma menjadi fanatisme seiring munculnya Perseba Super Bangkalan dan Persepam Pamekasan di level  kompetisi domestik.

Sejak itu pula, Madura mulai dikenal sebagai kekuatan baru yang memiliki basis supporter besar. Lebih-lebih, ketika Persepam bermetamorfosa menjadi Persepam Madura united (P-MU), mengundang 4 kabupaten di pulau Madura, berbondong-bondong memberikan dukungan melalui bendera komunitasnya masing-masing.

Meski terfragmentasi di tiap kabupaten, komunitas-komunitas supporter di Madura yang terdiri dari K-conk mania (Bangkalan), Taretan Mania (Pamekasan) dan Peccot mania (Sumenep), terbilang akur. Bahkan ketiga komunitas supporter besar di Madura tersebut, rela berbagi tempat duduk di tribun stadion. Sebuah hal unik sekaligus teladan yang membedakan mereka dengan para komunitas suporter di luar madura.

Namun pada perkembangannya, banyak kalangan yang menganggap bahwa kerukunan antara supporter Madura, tidak akan berjalan lama. Kisruh antar supporter bertetangga seperti yang terlihat di daerah lain seperti Jakarta – bandung, Surabaya – Malang serta supporter bertetangga lainnya, lambat laun juga akan menjalar ke bumi jokotole.

Fanatisme berlebihan dan egoisme kedaerahan, berpotensi menjadi biang keladinya munculnya perpecahan tersebut, selain pengaruh negatif dari eksternal suporter Madura.

“Supporter Madura ini ibarat bayi sedang lucu-lucunya. Tentu banyak yang gemas dan ingin menghampiri untuk sekedar meremas pipinya,” ujar Mimit Jenggot, dirijen k-conk mania.

Hal yang sama juga dilontarkan Achsanul Qosasi. Manajer P-MU tersebut bahkan mengatakan bahwa provokator tersebut sudah mulai muncul. Lawatan P-MU ke stadion Kanjuruhan menjadi salah satu indikasinya.

“Supporter Madura harus tetap rukun. Saya menilai ada oknum yang sengaja mengadu domba khususnya saat Pertandingan di malang kemarin (Rabu 10/4),” ujar AQ, sapaan akrab Achsanul.

Politisi senayan itu juga mengkhawatirkan bahwa pasca pertandingan yang berakhir dengan kekalahan bagi publik sepak bola Madura itu, benih-benih konflik antar supporter Madura, sudah mulai muncul.

“Kalau benar saat ini sudah mulai muncul benih-benih konflik, maka obat yang dilempar provokator tersebut sudah bekerja.” Imbuh AQ.

Memang terjadi sedikit kesalahpahaman  antar suporter pasca berakhirnya pertandingan away p-mu tersebut. Sebuah sumber tidak bertanggung jawab mengatakan bahwa saat mendukung tim kebanggaannya, taretan mania dan aremania yang beraksi dalam 1 stadion, menyanyikan umpatan bagi salah satu suporter Madura.

“Saya pastikan tidak ada yel-yel umpatan yang ditujukan untuk k-conk mania di stadion kanjuruhan. Ini hanya ulah pihak yang menginginkan perpecahan antar suporter madura. Justru supporter tuan rumah menyanyikan yel-yel selamat datang bagi supporter Madura yang didalamnya juga menyebut nama k-conk mania,” imbuh AQ.

Pernyataan AQ juga diperkuat oleh komunitas suporter Tretan Mania yang menyaksikan langsung di kandang Arema. Umpatan maupun nyanyian yang terdengar rasis itu tidak ada.

“Yang dinyanyikan Aremania itu “kalau bonek, bukan kconk bonek”. Jika ada yang memplesetkan itu menjadi nyanyian umpatan rasis bagi suporter madura, jelas ini sebuah upaya provokasi agar komunitas suporter madura pecah,” ujar Rossi, pengurus Tretan Mania korwil JCC.(laz/krs)

Email Autoresponder indonesia