Awal Berdirinya Kraton Pangeran Blega

522 views

Bangkalan, maduracorner.com –Setelah wafatnya Pangeran Pratano (Ki Lemah Duwur) Kerajaan Arosbaya diganti oleh puteranya yaitu: Pangeran Tengah pada tahun: 1592 – 1620. Di Blega yang jadi raja Pangeran Blega pada tahun: 1593 – 1624

Dikisahkan antara Pangeran Tengah dan Pangeran Blega terjadi kesalah pahaman.Di saat jaya-jayanya detik bersaudara timbul hanya masalah sepele yaitu telat pembayaran oleh karena Pangeran Blega masih di bawah pemerintahan Pangeran Tengah (Arosbaya). Sudah ada Pangeran Blega setiap tahun uang upeti kepada raja Arosbaya (Pangeran Tengah)

Diwaktu tahun berikutnya, Pangeran Blega menghabiskan uang upeti, Wisma ada perwakilan dari Pangeran Tengah untuk menagih uang upeti tersebut. Disaat yang berbeda gerbang pintu atau nama sekarang diberi nama Desa Bates (Kec Blega) melihat iring – iringan menunggang kuda lengkap dengan senjatanya. Seketika itu pula kedua penjaga pintu gerbang sambil menunggang kudanya kencang sekali menuju ke Kraton Blega. Sesampainya di Pangeran Pangeran, ke dua orang penjaga pintu gerbang memberi tahu bahwa ada iring-iringan banyak dan lengkap dengan senjatanya.

Setelah mendengar apa yang disebut kedua masa itu, akhirnya Pangeran Blega meminta patihnya yaitu: Pangeran Macan Putih. Pngeran macan putih langsung bertiga bersama kedua orang itu mencoba pintu gerbang menuju perbatasan atau desa Bates. Kemudian memisahkan Pangeran Tengah telah sampai di pintu gerbang. Setelah ditanya oleh Pangeran Macan Putih apa maksud dan tujuan mereka membawa banyak dan lengkap dengan senjatanya. Pada akhirnya dijawab oleh Prajurit Pangeran Tengah.

Maksud dan tujuan untuk menagih uang upeti. Tidak layak hanya untuk menagih biaya untuk jumlah itu, orang yang cukup sayang Patih Pangeran Macan Putih. Pokoknya mau tak mau masuk, katanya Prajurit Pangeran Tengah yang dari Arosbaya. O, kalau begitu langkahi mayat saya dulu, baru bisa masuk, katanya: Patih Pangeran Macan Putih. Maka terjadilah perang antara Arosbaya dengan Pangeran Macan Putih dan kedua penjaga pintu gerbang.

Dengan peperangan yang tidak seimbang itu Pangeran Macan Putih dengan gagah dan beraninya, seketika itu Patih Pangeran Macan Putih menjelma menjadi Macan Putih Kembar.Dengan kedua gerbang pintu gerbang mengamuk bagaikan banteng tato (gila). Aigbaya banyak yang terbunuh, sebagian arah ke Arosbaya. Kemudian Patih Pangeran Macan Putih bersama kedua penjaga pintu gerbang paksa untuk memberi tahu kepada rajanya yaitu Pangeran Blega. Setelah memberi tahu apa yang terjadi di depan, pintu kedua pintu masuk ke pintu. Tak lama kemudian sekitar jam 03.00 sakit penjaga pintu gerbang terdengar khabar, itu ada banyak sekali.

Anehnya, kisah-kisah yang mengamuk tidak pilih kasih kepada orang tua muda laki-laki perempuan. Setelah mencari tahu pintu gerbang, menunjukkan bahwa proses ini tidak dilakukan dari Arosbaya.Dengan hati yang tidak menentu pintu gerbang langsung menunggang kudanya kencang sekali, menuju kraton Pangeran Blega untuk memberi tahu kepada raja Pangeran Blega bahwa ada mengamuk dan membunuh banyak orang. Pada waktu itu hari sudah makin sakit sekitar pukul 05.00 sakit. Setelah mendengar apa yang telah diucapkan kedua penjaga pintu gerbang itu, Pangeran Blega sangat terkejut sekali. Seketika itu juga Pangeran Macan Putih disuruh tampak perang.

Di negara yang tidak siap, seorang lampu menyala (tukang lampu) sampai sekarang makamnya diberi nama Makam Pademaran (Makam Tukang lampu) dan tempat ada di Kampung Karang Kemasan sebelah timurnya Pangeran Makam Agung Karang Kemasan Blega. Satu orang lagi membunyikan kenong (menabuh kenong) .Visula-ptajurit se kerajaan Blega mengumpulkan semua untuk menghadapi musuh. Sampai sekarang dinamakan makam Pangeran Kenong tempatnya di kampung Mandala Desa Nyormanis.

Dengan keadaan tidak siap itu, maka datanglah aombaya-awa dan langsung ditunda oleh Pangeran Macan Putih, Kiyai Panombak dan Demas-Iblis, mengamuk Friedrich terjadilah peperangan yang sengit. Tidak ketinggalan pula Pangeran Gidang Tengah, konon diwaktu penderitaan.

Pangeran Gidang Tengah tidak kebagian kuda. Dengan tidak sengaja mengambil gidang ( kuda-kudaan dari gedek ) langsung mengamuk ke arah prajurit Arosbaya, dan ternyata gidang yang ditunggangi oleh prajurit itu, menjadi kuda sungguhan. Sampai sekarang diberi nama Makam Pangeran Gidang Tengah. Bertempat di Kampung Tendereh desa Blega Oloh. Ada juga prajurit Blega setelah menginjakkan kakinya ke bumi tiga kali langsung menjadi manusia raksasa.

Makamnya ada di Kampung Tendereh Desa Blega Oloh. Artinya Oloh adalah atas.Maka tempatnya di penghulu Desa Blega. Tapi naas bagi Pangeran Kambeng ( mengambang ). Beliau terbunuh dan mengambang di Kampung Sebbeggen Desa Blega. Sampai sekarang dikenal dengan sebutan Makam Pangeran Kambeng. Di dalam peperangan itu, banyak prajurit yang terbunuh, dengan amukan Pangeran Macan Putih dan semua kesatria prajurit Blega. Juga dengan mengamuknya Kiyai Panumbak, prajurit-prajurit banyak sekali yang terbunuh, sebagian melarikan diri.

Dan, ternyata yang memimpin perang prajurit Arosbaya itu ialah Pangeran Siding Gili kakak tertua dari kelima bersaudara dan beragama Budha. Oleh karena itu, setelah kalah perang Pangeran Siding Gili melarikan diri ke Pulau Mandangin yaitu pulau di sebelah selatan Kabupaten Sampang. Sampai sekarang diberi nama Pulau Gili Mandangin.
Pangeran Blega tidak membayar upeti atau sampai terlambat, karena Pangeran Blega berfikir dalam hati, saya di utus dan mengajak orang beragama Islam sedangkan kakak sendiri Pangeran Siding Gili beragama Budha. Bermula dari itulah sehingga menjadi kesalah pahaman.

Dirangkum/disusun oleh Ach. Jailani bin KH. Maulana Ishak; Juru Pelihara / juru kunci Pangeran Makam Agung Blega. Gambar : Salah satu situs bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit yang berada di Kabupaten Bangkalan-Mudara. Pasarean Pangeran Blega, dari: http://www.komunitasblega.co.cc/