Begini Sakralnya Penjamasan Keris Leluhur dan Pusaka Keraton Sumenep

Ritual penjamasan keris leluhur Aeng Tong-Tong dan pusaka Keraton Sumenep berlangsung Sakral.

Ritual penjamasan keris leluhur Aeng Tong-Tong dan pusaka Keraton Sumenep berlangsung Sakral.

SUMENEP, MAIRACORNER.COM– Penjamasan keris leluhur Aeng Tong-Tong dan pusaka keraton Sumenep berlangsung sakral, Minggu (1/10/2017). Penyucian delapan pusaka tersebut dilakukan oleh sesepuh Desa Aeng Tong-Tong, Kecamatan Saronggi.

Ritual pembersihan pusaka ini digelar secara tertutup di komplek Bujuk Agung dan disaksikan langsung oleh Skretaris Daerah (Sekda) Sumenep. Setelah penjamasan selesai, pusaka itu diarak menuju Bujuk Duwek diiringi kesenian tradisional.

“Penjamasan delapan keris ini sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur kami. Tujuh pusaka asli warisan leluhur Aeng Tong-Tong dan satu pusaka dari keraton Sumenep,” jelas Panitia Penjamasan, Wawan Novianto.

Alumnus UMM Jogjakarta itu menuturkan, sebagai penerus para leluhur menjadi sebuah kewajiban untuk menjaga dan melestarikan keberadaan pusaka-pusaka peninggalan tersebut. Terlebih, keris adalah budaya bangsa dan warisan dunia dari Indonesia yang mendapat pengakuan UNESCO.

“Sumenep menjadi pusat peradaban pusaka dan telah ditetapkan sebagai kota keris,” ucapnya.

Menurutnya, tidak dapat dipungkiri perkembangan zaman sangat mempengarungi kelestarian benda pusaka yang memiliki nilai sejarah. Namun, hal itu justu menjadi tantangan tersediri untuk tetap konsisten mempertahankan benda-benda keramat tersebut.

“Mata pencaharian masyarakat Aeng Tong-Tonga rata-rata sebagai pengrajin keris. Kegiatan semacam ini akan dilaksanakan setiap tahun, ” imbuhnya.

Sementara itu, Sekda Sumenep RB Mohammad Idris mengucapkan terimakasih kepada masyarakat Aeng Tong-Tong yang telah menyelenggarakan haul akbar dan penjamasan keris tersebut. Hal ini menjadi langkah positif untuk pelestarian pusaka kedepannya.

“Menjaga kelestarian pusaka itu tidak mudah. Jadi butuh kreasi dan inovasi dari para pengrajin keris. Apalagi, bisa dijadikan sebagai objek wisata,” paparnya.

Idris memaparkan, tradisi penjamasan keris merupakan budaya sakral yang perlu digelar secara berkelanjutan. Pengembangan keris bisa dilakukan secara kultural atau turun temurun agar tidak punah. Banyak sisi positif yang bisa dipetik dari prosesi penyucian itu.

“Hikmah yang dapat kita petik dalam ritual ini yaitu senantiasa ingat kepada Allah dan terhadap perjuangan para leluhur,” katanya. (*)

Penulis: Heriyanto Ahmad
Editor: Achmad

Posting Terkait