Berakhirnya Era Tiki-Taka (Bagian I)

694 views
Ilustrasi

Ilustrasi

 
Tidak Effesien, Hanya Unggul Di
Ball Possesion (Bagian I) | Oleh Mamad el Shaarawy

maduracorner.com, Bangkalan – Skor akhir laga Piala Dunia 2014 antara Belanda vs Spanyol (14/6) sungguh mengejutkan. 5 gol tim orange hanya mampu dibalas 1 gol penalti oleh Xavi Hernandes dkk. Angka 5 – 1 untuk keunggulan Robin Van Persie cs ini pasti tidak ada yang memprediksi sebelumnya. Bahkan di hampir semua bandar judi bola mengunggulkan Spanyol. Tapi faktanya, sang negeri kincir angin akhirnya unggul telak dan membuat malu skuad matador.
Saat Xabi Alonso mencetak gol lewat titik putih dan membuat Spanyol unggul, semua masih maklum. Karena memang hampir semua penggila bola memasang mereka sebagai pemenang laga ini.

Saat RVP melakukan super flying header dan menyamakan skor, semua masih tetap pada prediksi semula, Spanyol pasti menang! Namun memasuki babak II, semua prediksi itu berubah.

Terlihat bagaimana frustasinya anak asuh Del Bosque masuk ke pertahanan Belanda. mereka hanya berkutat di tengah sambil terus mengoper bola. Meski sesekali mampu menciptakan peluang, namun selalu bisa digagalkan berkat solidnya lini belakang Belanda dan antisipasi yang baik dari sang kiper, Jasper Cillesen. Sementara skuad Orange tetap fokus bermain, mengamati tiap gerak lawan yang sedang kebingungan dengan bola di kaki mereka. Alhasil, ketenangan ini berbuah manis. Mereka mampu menggelontor 4 gol di babak II menjadikan skor akhir 5-1 untuk Arjen Robben dkk.
 
Saat sebagian besar orang menjagokan Spanyol, saya mungkin hanya salah satu orang yang memprediksikan bahwa Belanda-lah yang memenangkan laga ini. Apa sebab? Ada 2 alasan yang mendasari prediksi saya tersebut. Yakni:
 
Alasan pertama, gaya permainan tiki-taka masih tetap dipakai Timnas Spanyol. Hal ini terlihat dari lini tengah Spanyol yang diisi para pemain Barca. Ada Sergio Busquet, Iniesta serta Xavi Hernandes yang bermain sejak menit pertama. Belum lagi Fabregas dan Pedro yang masuh di paruh babak II. Ditambah Gerald Pique serta Jordi Alba yang mengisi 2 diantara 4 pemain yang mengisi pos kuartet lini belakang. Secara keseluruhan, sistem tiki taka Spanyol pada sabtu dinihari tersebut berjalan bagus seperti biasanya. Bola mengalir dari kaki ke kaki para pemain Spanyol yang dimotori para pemain Barca tersebut.
 
Namun apa lacur, dominasi penguasaan bola tersebut tak membuat pemain Belanda ‘tertarik’. Mereka membiarkan tim lawan asyik bertiki-taka. Sementara mereka tetap fokus pada sistem pertahanan yang dirancang sejak lini tengah. Nigel De Jong dan De Gusman yang mengisi pos gelandang bertahan tampil apik. Berkali-kali aliran bola para pemain Matador berhasil mereka patahkan, baik melalui
intercept maupun merebut bola dari kaki lawan.

Bahkan saat bola bisa melewati kedua pemain tersebut, pemain Orange lainnya seperti Janmaat, Vlaar, De Vrij, Martins Indi hingga Daley Blind dengan sigap meng-cover pertahanan Belanda sebelum bola masuk ke kotak penalti. Alhasil, tiki-taka pemain Spanyol menemui jalan buntu.

Saat kondisi ini terjadi dan bola berhasil direbut, gantian pemain Belanda yang berkuasa. Ada 2 hal yang bisa mereka lakukan ketika mereka menguasai bola tersebut. Yakni permainan umpan perlahan sambil terus menusuk ke pertahanan lawan dan permainan umpan panjang langsung ke jantung pertahanan lawan. Dari gol-gol Belanda yang terjadi semalam, cara terakhirlah yang paling efektif.

Dengan mengandalkan 2 striker hebat mereka yakni Robin Van Persie dan Arjen Robben, tim Orange mampu membuat malu Del Boque dan skuadnya. RVP dan Arjen Robben tipikal pemain depan yang lengkap dan sempurna. Memiliki dribbling bola yang bagus serta mempunyai modal kecepatan yang mumpuni.

Yang mengherankan, kenapa Del Bosque masih
keukeuh memperagakan tiki-taka. Padahal sistem yang menitik beratkan pada permainan umpan pendek merapat dan penguasaan bola ini, sudah banyak dipelajari oleh para pelatih dunia. Hal ini dilakukan untuk menaklukkan sistem yang sempat dipuji banyak orang ini. Namun kini tidak ada lagi yang menakutkan dari sistem ini. Malah cenderung membosankan ketika bola hanya
muter-muter di lini tengah karena gagal membongkar pertahanan lawan.
 
Dulu pada awal munculnya sistem ini memang cukup efektif. Umpan satu dua dan pergerakan pemain Spanyol/Barcelona seringkali memancing pemain lawan. Hal ini mengakibatkan terciptanya ruang kosong di daerah pertahanan. Kondisi tersebut bisa dimanfaatkan betul oleh Xavi Hernandez maupun Iniesta berkat presisi dan akurasi umpan mereka yang memang jempolan.
 
Tapi sekarang seiring perubahan waktu dan sudah ditemukannya cara menaklukkan tiki-taka, tim lawan lebih sabar atau tidak terpancing umpan-umpan maupun pergerakan pemain Spanyol/Barcelona. Mereka hanya menunggu dan fokus pada daerah pertahanan serta sesekali melakukan perebutan bola langsung.
 
Jika Spanyol tidak berbenah, sepertinya mereka harus angkat koper lebih cepat dari gelaran Piala Dunia 2014. Salah satu lawan mereka yakni Timnas Chille, memiliki potensi besar melakukan hal serupa pada mereka seperti yang dilakukan Timnas Belanda. (mad)

Email Autoresponder indonesia