Berakhirnya Era Tiki-Taka (Bagian II)

774 views
Ilustrasi

Ilustrasi

 
Kuat di Lini Serang, Lemah di Pertahanan (Bagian II) | Oleh Mamad el Shaarawy

maduracorner.com, Bangkalan – Tulisan ini adalah lanjutan sebelumnya (bagian I). Pembahasan atau analisa tentang hancurnya permainan Timnas Spanyol saat meladeni Timnas Belanda dalam pertandingan Piala Dunia 2014 tadi malam (14/6).
 
Alasan kedua, pertahanan dan penyerangan pemain Spanyol yang tidak seimbang. Jika melihat para pemain Spanyol yang mengisi pos lini tengah dan depan, semuanya sepakat bahwa mereka diisi para pemain bagus. Tak ada yang meragukan itu. Namun lihatlah lini belakang utamanya duo centreback mereka yakni Sergio Ramos dan Gerald Pique.

Saat melihat laga Belanda vs Spanyol, kedunya seperti dimintai oleh RVP dan Arjen Robben agar lebih belajar lagi. Penjagaan keduanya lemah saat mengawal striker ‘licik’ seperti RVP dan Robben. Duo striker ini lihat berkelit berkat skill individu dan kecepatan yang mereka punyai. Hal ini terlihat jelas dari gol-gol Belanda yang dicetak keduanya.

Jika ada kontes one on one antara Pique vs RVP dan Ramos vs Robben atau sebaliknya, saya yakin duo RVP serta Robben akan mudah menaklukkan duo centreback Spanyol tersebut. Jika harus flashback, rasanya pemain belakang hebat macam Alessandro Nesta dan Paolo Madini saja yang bisa menaklukkan pemain ‘licik’ macam RVP – Robben .

Gagalnya Pique – Ramos mengawal lini belakang Spanyol semakin menegaskan buruknya pertahanan tim Matador tersebut. Hal ini terlihat, saat mereka asyik melakukan tiki-taka, dua bek sayap mereka yakni Jordi Alba – Azpilicuenta pasti melakukan. overlapping. Nah, begitu bola berhasil direbut pemain Belanda, maka di pos pertahanan terakhir hanya tersisa Pique – Ramos.
 
Saat itulah duel RVP – Robben membuktikan mereka akan dengan mudah melewati duo Pique – Ramos. Dalam hal ini pemain sayap Timnas Belanda, Daley Blind, patut diberi apresiasi tinggi. Pemain FC Ajax kelahiran tahun 1990 cukup jeli melihat posisi RVP maupun Robben saat ia memegang bola. Alhasil, dua
assist melalui umpan panjang berhasil dikonversikan menjadi gol.
Apakah hilangnya Carles Puyol jadi penyebab buruknya pertahanan Spanyol? Bisa jadi. Jika dibandingan Pique dan Ramos, kemampuan Puyol lebih mumpuni. Meski postur pemain berambut keriting lebih pendek, namun ia lebih bagus saat melakukan
marking pada lawan. Namun jika Puyol tetap bermain tadi malam sekalipun, rasanya kondisi tidak akan terlalu berbeda. ‘Kenakalan’ ala RVP dan Robben cukup sulit dijinakkan.
Dua alasan utama tersebut yang saya pakai sebagai prediksi sebelum laga Belanda vs Spanyol. Prediksi untuk kemenangan Belanda ini dituruti salah seorang teman yang lagi taruhan. Dia pun menang besar.

Setiap sistem permainan sepakbola pasti memiliki keunggulan sendiri-sendiri. Namun juga memiliki kelemahan yang bisa dengan mudah dipelajari lawan. Jika masih tetap berpatokan pada sistem atau gaya yang sama dan tidak melakukan inovasi, rasanya Spanyol harus pulang lebih awal dengan rasa malu sebagai juara bertahan.
 
Saran saya sederhana, cobalah menurunkan pemain lain. Masih ada sejumlah pemain lain yang layak mengisi starting XI tim matador. Para pemain yang memang tidak fasih melakukan tiki-taka karena mereka berasal dari luar klub Barcelona. Namun mereka mampu memperagakan permainan yang lebih effektif untuk mencetak gol ke gawang lawan. Yang harus dicatat, skor akhir-lah yang menentukan pertandingan bukan besarnya persentase
ball possession. (mad)

Email Autoresponder indonesia