Bukan Operasi Plastik

1449 views

Guangzhou_Baiyun_Airport_2

Guangzhou,maduracorner.com-Sesaat setelah turun dari pesawat, seharusnya saya sedih dan kesal karena kami harus berlama-lama di bandara Baiyun, Guangzhou. Petugas imigrasi menahan kami di bandara karena wajah istriku sangat berbeda dengan foto yang terpampang di paspor. Setiap kali masuk ke imigrasi di bandara, petugas imigrasi akan mengambil foto setiap orang dicocokkan dengan foto yang ada di paspor.

Saat ditahan di bandara, ingatanku justru mengarah pada banyaknya pemberitaan tentang banyak wanita Cina yang kesulitan pulang ke kampung halaman karena wajahnya berbeda setelah menjalani operasi plastik di Korea Selatan. Bukan hanya artis yang gandrung melakukan operasi plastik di wajah, warga China maupun Korea juga menganggap bahwa operasi plastik merupakan hal yang sudah jamak.

Agar tidak terjadi kesulitan ketika hendak pulang ke kampung halamannya, rumah sakit penyelenggara operasi plastik membuat sertifikat ‘perubahan wajah’agar lolos pemeriksaan petugas imigrasi di bandara. Sayangnya, istriku tidak menjalani operasi plastik sehingga tidak memilki sertifikat ‘perubahan wajah’.

Bermodal bahasa Inggris sekadarnya, kucoba menjelaskan bahwa istriku sedang menjalani perawatan medis karena sakit kanker ovarium. Penjelasanku sia-sia meski sudah kutunjukkan juga bukti medis dari rumah sakit, petugas imigrasi tetap menahan kami di bandara.

Suasana bandara cukup padat hari itu, Selasa (21/04/2015), nampak banyak sekali penumpang yang antri di imigrasi. Pintu imigrasi dibagi menjadi dua jalur utama. Jalur pertama untuk warga lokal, sedangkan jalur kedua diperuntukkan bagi warga asing yang hendak masuk ke Guangzhou.

Jumlah antrian kedua jalur tersebut jauh berbeda, tidak nampak antrian di jalur warga lokal. Sedangkan kami harus antri cukup lama meski sudah ada belasan loket yang dibuka khusus untuk warga asing. Kalau menggunakan kursi roda, urusan imigrasi biasanya kita lalui dengan lancar. Kami sengaja tidak memesan kursi roda karena merasa sudah sehat. Antrian padat, tapi tetap tertib-lancar.

Wajahku tidak menampakkan ekspresi sedih maupun kesal meski ditahan di imigrasi bandara Baiyun. Alasannya sederhana, itu artinya kerja keras keluarga besar kami untuk membantu penyembuhan istriku atas kanker ovarium yang dideritanya sudah banyak menampakkan hasil positif. Wajahnya yang dulu mirip ‘tengkorak hidup’, sudah berubah menjadi ‘manusia hidup’. Alhamdulillah…

Petugas imigrasi akhirnya memperbolehkan kami masuk ke Guangzhou setelah kami menunjukkan bukti yang lebih lengkap bahwa kami hendak berobat ke salah satu rumah sakit di Guangzhou.

Kali ini adalah kedatangan yang ketiga kalinya ke Guangzhou. Suasana bandara Baiyun di Guangzhou yang tak henti-hentinya membangun, seakan mengukuhkan bahwa Cina menjadi salah satu negara dengan pertumbunan ekonomi yang fantastis di dunia. Iya, pertumbuhan ekonomi yang menurutku juga menimbulkan sederet persoalan.

Polusi menyebabkan buruknya kualitas udara di sejumlah kota besar di Cina menjadi salah satu persoalan utama imbas dari industrialisasi yang begitu dahsyat. Jika pertumbuhan ekonomi Cina menanjak tinggi, pertanyaannya kemudian kenapa PKL semakin menjamur di depan rumah sakit?

Untuk sekadar informasi, selama tiga kali ke Guangzhou, jumlah pedagang kaki lima (PKL) di depan rumah sakit semakin bertambah. Padahal sudah sering ditertibkan oleh petugas Satpol PP maupun Dinas Perhubungan (Dishub). Kok tahu kalau itu petugas Satpol PP atau Dishub? Saya sekadar menebak saja. Kalau Satpol PP berbaju hijau tua menertibkan PKL yang berjualan di pinggir jalan kecil, sedangkan petugas Dishub menertibkan PKL di pinggir jalan raya dengan mengenakan baju biru langit.

Jalan-jalan saban pagi menjadi pilihan yang menarik sekaligus menikmati udara segar. Kebetulan ada area perbukitan yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit. Sambil berjalan kaki, kami berdua menikmati sejuknya udara pagi sembari mengamati tingkah-polah PKL yang sedang menjajakan dagangannya. Saat asyik menawar ikan segar, tiba-tiba kami dikejutkan oleh keributan kecil para PKL yang buru-buru memindahkan barang dagannya. Ternyata ada penertiban petugas pemerintah yang mengenakan pakaian hijau tua mirip seragam Satpol PP.

Selain jalan pagi, saat petang pun kami bisa jalan sekali-sekali. Sekadar cuci mata atau sekadar membeli jagung manis rebus. Satu batang jagung manis rebus kami beli seharga 3 Yuan, atau sekitar 6 ribu Rupiah. Sambil duduk santai di depan toko onderdil mobil yang sudah tutup, kami menikmati jagung manis rebus. Tak berapa lama, sejumlah petugas berbaju biru langit membuyarkan kerumunan pembeli yang antre untuk beli jagung. Karena PKL jagung rebus berjualan di pinggir jalan raya, berarti yang menertibkan mereka adalah petugas Dishub, anggap saja begitu. Habisnya, mau nanya ke siapa, bahasa Cina kami tak paham.

Kedatangan kami yang ketiga di Guangzhou pada hari pertama sangat berkesan, bukan hanya karena petugas imigrasi yang menahan kami, tapi juga soal indahnya pemandangan di sungai Zhujiang (sungai mutiara: pearl river) pada malam hari. Sehari setelah tiba di rumah sakit, kami berkesempatan ikut melihat indahnya pemandangan sungai Zhujiang yang terkenal itu.

Kerlap-kerlip lampu aneka warna bertaburan di gedung-gedung sekitar sungai yang lebarnya kira-kira dua kali sungai Kalimas Surabaya. Gedung paling mencolok adalah gedung Canton Tower yang diselimuti lamput warna-warni, seolah-olah selalu berganti selimut setiap lampunya berubah warna. Ketinggiannya yang melebihi gedung-gedung sekitarnya membuat penampilannya lebih mencolok.

Selain itu, jembatan yang melintas di atas sungai juga semakin menambah keindahan sungai yang membelah kota Guangzhou tersebut. Air di sungai mutiara juga cukup bersih. Konon, biaya perawatannya sekitar 100 juta Yuan perbulan atau sekitar 200 milyar Rupiah.

image

sungai Zhujiang

Dengan membayar 128 Yuan, kita juga bisa menikmati makan malam di atas kapal  yang dihias layaknya restoran mewah. Istilah Inggrisnya, candle light dinner atau semacamnya lah. Kapal  tiga lantai ini semakin terkesan mewah dengan lampu interior yang temaran layaknya restoran di hotel-hotel berbintang. Menunya sih biasa, menurutku yang membuat tidak biasa adalah pemandangan sungai Zhujiang di waktu malam. Ya, sebelas-dua belas dengan keindahan selat Madura pada malam hari.

Satu kali perjalanan wisata di sungai Zhujiang memakan waktu sekitar satu jam. Kita juga bisa mengabadikan perjalanan di atas sungai dengan membayar juru foto yang memang sudah siap sedia. Atau kita bisa ber-selfie ria sepuasnya tanpa harus merogoh isi kocek.

Rasanya seperti dua remaja yang baru pacaran, kan memang kami baru pacaran karena istriku yang sekarang sudah memiliki wajah baru yang berbeda dengan wajah yang ditempel di paspor.

Penulis : Buyung Pambudi

By : Jiddan

Email Autoresponder indonesia