Catatan Pildun 2014 (Bagian 4): Pembantaian Jerman Atas Brazil, Lini Tengah Der Panzer Lebih Superior

Suporter Jerman

Suporter Jerman

Bukan Sekedar Absennya Neymar dan Tiago Silva | Oleh Mamad el Shaarawy

maduracorner.com, Bangkalan – Sungguh sebuah tragedy besar bagi masyarakat Brazil. Mereka yang memuja sepakbola dan menempatkan olahraga ini sebagai agama kedua dilukai secara perih oleh Timnas Jerman. Kalah 7-1 dari
Die National Mannschaft di tanah sendiri menghadirkan horror bagi mereka. Apalagi momen ini terjadi pada ajang besar, babak semifinal Piala Dunia 2014.
 
Kekalahan tersebut adalah kekalahan terbesar tim Samba dalam sejarah keikutsertaan mereka di piala dunia setelah sebelumnya dikalahkan 3-0 oleh Timnas Perancis pada babak final Piala Dunia 1998. Catatan lain menyebutkan, belum ada tim lain yang kebobolan 5 gol pada babak semifinal piala dunia selain tim Brazil 2014 ini. Miris memang, rekor ini malah dicatatkan oleh tim nasional sebuah negara yang memiliki nama besar dalam belantika sepakbola dunia.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan skuad Selecao? Salah satu yang menjadi sorotan adalah hancurnya control lini tengah skuad Brazil. Luis Gustavo dan Fernandinho yang mengisi sentral lini vital ini gagal menjadi pemutus alur serangan trio Jerman Bastian Schweinsteiger – Sammi Khedira dan Toni Kroos. Mereka juga gagal sebagai lini yang harus memback-up serangan bagi Oscar, Hulk dan Bernard yang berada di depan mereka. Alhasil,
central forward Fred Chaves terisolasi sendirian di tengah pengawalan ketat duo centreback Jerman Jeremy Boateng ataupun Per Mertesacker.
 
Jika pun berhasil mengimbangi dan bola bisa dialirkan ke depan oleh Luis Gustavo dan Fernandinho, serangan yang dilakukan pun terkesan sporadis. Akibatnya, aliran bola gampang dipatahkan oleh pertahanan Jerman. Ditambah lagi aksi brilian yang ditunjukkan kiper Manuel Neuer. Ia beberapa kali menunjukkan ketangguhannya kala menahan tendangan on target baik yang dilakukan Oscar maupun Luis Gustavo dan Fernandinho.

Lemahnya lini tengah sebagai penyuplai bola ke depan terlihat dari statistic babak I. Bayangkan saja, tim sekelas Brazil hanya bisa melakukan 1 kali shoot on target. Macetnya aliran bola dari lini tengah membuat Fred matu kutu. Begitu pun dengan Oscar. Hal yang sama terlihat pada Hulk dan Bernard yang juga gagal melakukan serangan dari sektor sayap.
 
Kelemahan lini tengah sebagai
filter pertama serangan lawan juha membuat kuartet lini pertahanan Brazil yakni Dante, David Luiz, Marcello dan  Maicon nampak keteteran bahkan bisa dibilang hancur lebur. Mereka dengan mudah diporak porandakan. Apalagi, saatJerman  melakukan serangan cepat begitu mampu merebut bola, Toni Kroos dan Khedira ikut serta melakukan tusukan ke kotak penalti lawan.

Ya, Jerman hanya menyisakan Schweinsteiger di pos gelandang bertahan sebagai antisipasi serangan balik. Sementara Toni Kroos dan Khedira turut membantu lini depan yang diisi Mueller, Klose dan Ozil. Kroos dan Khedira bahkan seringkali terlihat bergerak ke sisi sayap ketika Mueller maupun Ozil masuk ke kotak penalti. Hal ini terlihat pada gol-gol yang tercipta. Dengan mudahnya Kroos – Khedira masuk ke kota penalti tanpa filter lagi dari para gelandang Brazil.

Maka bisa dibayangkan, betapa kuartet lini belakang Brazil harus susah payah menahan serbuan Jerman. Karena selain harus mengatisipasi pergerakan Ozil, Mueller dan Klose, mereka juga harus mewaspadai Kroos – Khedira. Bahkan dari saking longgarnya lini tengah Brazil, Philip Lahm juga ikut serta dalam proses serangan Jerman.
Lihat saja proses gol ketiga yang diciptakan Kroos. Philip Lahm bermain umpan bersama Khedira dengan nyaman. Begitu mendekati kotak penalti, Khedira bergerak ke sisi sayap kanan mengisi posisi Mueller yang masuk ke kotak 16. Lahm lalu memberi umpan ke Khedira. Meski dijaga Maicon, pemain berdarah Tunisia ini tetap bisa mengumpan kembali pada Lahm yang sudah ikutan masuk ke kotak penalti. Hanya sekali control, kapten timnas Jerman ini meneruskan umpan pada Kroos yang berdiri tanpa pengawalan di depan gawang Julio Cesar. Gol!

Secara umum, lini pertahanan Brazil benar-benar terlihat payah. Mereka tak menyangka alur serangan Jerman begitu cepat dan disertai pergerakan para pemainnya yang saling bertukar posisi dengan cepat pula. Permainan tenang dan konsisten sepanjang laga adalah kunci.

Banyak yang bilang, bocornya pertahanan Brazil karena absennya sang kapten Thiago Silva. Bisa jadi kemungkinan itu benar. Namun rasanya, jika Khedira dkk bermain sempurna seperti saat ini, kehadiran Thiago Silva pun takkan bakal banyak menolong. Meski mungkin saja margin gol akan lebih sedikit. Yang pasti, malam itu skuad Der Panzer memang bermain sempurna sebagai sebuah tim tanpa memperlihatkan permainan individu. Alhasil, permainan cantik mereka berbuah skor mencolok 7-1 untuk kemenangannya.
 
Pelatih Timnas Brazil Luiz Felipe Scolari bahkan tidak mampu memberikan penjelasan mengenai kekalahan menyakitkan yang diderita anak asuhnya tersebut. Seperti yang lansir Daily Mail, Scolari secara jantan memuji permainan anak asuh Joachim Loew. Ia juga tidak habis pikir kelengahan timnya karena bisa dijebol 5 gol hanya dalam rentan waktu 29 menit di babak I.

Mengenai ketidakhadiran Neymar di lini depan Brazil, Scolari pun mengungkapkan bukan itu penyebab kekalahan timnya. Meski ia mengakui, absennya Neymar yang cidera memang mengurangi daya dobrak tim Selecao. “Dia adalah seorang striker. Dia tidak akan membantu kami bertahan dalam serangan-serangan itu. Jerman mampu memanfaatkan kesempatan yang mereka miliki dan itu tidak ada hubungannya dengan Neymar”. (bersambung ke bagian 5, mad)