Catatan Pildun 2014 (Bagian 5): Hancurnya Selecao, Luka Makin Perih Disiram Air Garam Tim Oranye

 
Belanda Rebut 3
rd Place WC 2014 | Oleh Mamad el Shaarawy

maduracorner.com, Bangkalan – Menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014 tidak bisa jadi jaminan bagi Brazil untuk berjaya. Mereka malah menderita dan mencetak rekor buruk bagi penampilan tim Selecao sepanjang keikutsertaan mereka di ajang 4 tahunan tersebut. Bagaimana tidak, Thiago Silva dkk dihabisi dengan skor telak 1-7 oleh Jerman di babak semifinal. Ini merupakan rekor kekalahan terbesar timnas Brazil di piala dunia.

Penderitaan mereka tidak berhenti disitu saja. Pada perebutan tempat ketiga, anak asuh Luiz Felipe Scolari tersebut kembali dihajar skor telak, 0-3 oleh Timnas Belanda. Ibarat kata, luka akibat kekalahan dari
Der Panzer malah disiram air garam oleh tim Oranye. Perih! Dua kekalahan dengan margin tak biasa untuk sekelas tim Brazil ini benar-benar menghayat hati publik Brazil yang menempatkan sepakbola sebagai ‘agama kedua’ mereka.
 
Tim Samba memulai laga ‘hiburan’ ini dengan sangat buruk. Saat baru memasuki menit 2, akselerasi Arjen Roben setelah mendapat terobosan matang dari Robin Van Persie, terpaksa dihentikan dengan tarikan oleh Tiago Silva. Alhasil, wasit pun menunjuk titik penalti. RVP yang bertindak sebagai algojo mampu menuntaskan tugasnya dengan baik.
 
Tertinggal 1 gol, permainan Brazil tak juga membaik. Selain bermain tegang, mereka juga terlihat kurang bergairah. Kondisi ini dimanfaatkan dengan baik oleh Belanda. Mereka kembali memperlebar jarak melalui sepakan Daley Blind pada menit 17. Pemain sayap ini memanfaatkan dengan baik kesalahan David Luiz. Sepakan kaki kirinya pun menghujam sudut atas gawang Julio Cesar. Pertandingan ini pun ditutup dengan skor 3-0 untuk kemenangan Belanda setelah Giorginio Wijnaldum mencetak gol di menit 90 atau di penghujung laga.

Kekalahan ini tidak hanya menghadirkan tangis dan raut wajah muram durja para pemain Samba maupun penonton yang hadir di Estadio Nacional Brasilia. Selain catatan buruk kekalahan dengan margin gol besar, hasil ini juga menjadi catatan buruk lainnya. Yakni kekalahan beruntun di kandang sendiri sejak 1940. Saat itu, mereka kalah 0-3 dari Argentina (Februari 1940) dilanjutkan dengan skor 3-4 oleh Uruguay (Maret 1940).
 
Usai laga, skuad Samba menuturkan alasan kekalahan dari tim Oranye tersebut. Mereka ternyata masih merasa belum bisa bangkit dari kekalahan paling menyakitkan di laga sebelumnya, yakni dibekuk Jerman 7-1. Seperti yang disampaikan David Luiz di SportTV, ia menyatakan bahwa secara mental para pemain Brazil sedang berada di titik paling bawah. “Setelah menelan kekalahan telak (dari Jerman), kami berada di dasar secara emosional”,ujarnya.

Hal yang sama disampaikan Ramirez. Gelandang klub Chelsea FC ini mengatakan, skor telak dari Jerman masih mengantui mental dan perasaaan para pemain. Hal ini dikarenakan gol-gol yang tercipta tersebut sulit dipercaya dan menjadi noda hitam dalam persepakbolaan Brazil. “Kami tidak menyangka akan kalah dengan 7 gol di laga sebelumnya”,ucapnya pada
Globo.

Kekalahan dari Belanda ini juga menepis anggapan orang sebelumnya yang menyatakan, skor 7-1 dari Jerman akibat ketidak hadiran sang kapten Tiago Silva di laga tersebut akibat akumulasi kartu kuning. Nyatanya, kehadiran pemain klub PSG tersebut tetap tidak banyak menolong rapuhnya lini pertahanan Brazil.

Bagaimana dengan Belanda? Tim besutan Louis Van Gaal ini tidak seperti Brazil. Meski juga terasa menyakitkan gagal lolos ke laga puncak, tapi kekalahan mereka dari Timnas Argentina masih bisa mereka maklumi. Hal tersebut terjadi karena hanya masalah keberuntungan saja.

Seperti diketahui, Arjen Roben dkk kalah dalam adu penalti dari Lionel Messi cs. Maka wajar, Tim Oranye lebih baik secara mental dari pada tim Samba dalam menghadapi laga perebutan tempat ketiga. 

Jika dilihat masa sebelum turnamen major 4 tahunan ini digelar, prestasi yang dicapai Belanda ini sebenarnya sudah lumayan baik. Hal ini apabila dilihat dari komposisi dan persiapan yang mereka lakukan. Skuad gabungan senior-junior yang mengisi tim asuhan Van Gaal ini masih dibawah tim Eropa lainnya. Ditambah lagi cideranya pilar utama lini tengah mereka, Kevin Strootman. Maka wajar, mereka sebenarnya tidak terlalu diunggulkan akan mencapai 4 besar.

Komposisi tim oranye masih dibawah Jerman, Spanyol bahkan Inggris sekalipun. Mereka juga tak lebih baik dari para pemain yang ada di skuad Uruguay, Brazil dan Argentina. Wajar saja, mereka pun tidak diunggulkan oleh para pengamat sepakbola. Tapi nyatanya, strategi aneh Van Gaal dengan mengusung komposisi 5-3-2 ternyata cukup ampuh. Maka pencapaian bisa menembus babak semifinal serta merebut posisi 3 bisa dianggap sudah memenuhi ekspetasi mereka.
 
Meskipun demikian, prestasi ini sebenarnya tak lebih baik jika dibandingkan dengan pencapaian 4 tahun sebelumnya. Di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, Arjen Roben mampu mencapai babak final sebelum akhirnya tumbang di tangan Spanyol dengan skor tipis 1-0 yang dicetak Andres Iniesta. Lagi lagi, Timnas Belanda dan publiknya harus bersabar melepas dahaga. Sebagai catatan, mereka memang belum pernah sekalipun jadi kampiun piala dunia. (bersambung ke bagian 6, mad)

Piala Dunia Brazil (illustrasi)

Piala Dunia Brazil (illustrasi)

Email Autoresponder indonesia