Catatan Pildun 2014 (Bagian 6): Jerman Memang Pantas Juara!

660 views

 

 Timnas Jerman Merebut Gelar Keempat Piala Dunia di Brazil 2014


Timnas Jerman Merebut Gelar Keempat Piala Dunia di Brazil 2014

Solid di Semua Lini, Subur Mencetak Gol | Oleh Mamad el Shaarawy

maduracorner.com, Bangkalan – Jerman Juara! Ya, Die Nationalmaanschaft merebut gelar Juara Piala Dunia untuk keempat kalinya setelah menekuk Timnas Argentina di laga puncak Piala Dunia 2014. Gol semata wayang yang dicetak Mario Goetze menjadikan Der Panzer sebagai tim terbaik dalam ajang 4 tahunan tersebut kali ini.

Jerman memulai pertandingan final ini dengan percaya diri tinggi. Maklum, selain bermain hebat di semifinal dengan menghajar Brazi (skor 7-1), mereka juga yakin bahwa publik Brazil yang turut ke Stadion Maracana bakal berpihak kepada mereka. Alasannya tentu rivalitas Brazil dan Argentina sebagai musuh bebuyutan sepakbola di tanah Amerika Latin.

Begitu pun dengan Argentina. Setelah mengalahkan Belanda lewat adu penalti di babak semifinal, mereka mengusung spirit 1986. Yakni kala menjuarai piala dunia kedua kalinya dan secara kebetulan saat itu mereka mengalahkan tim yang sama (meski 4 tahun kemudian Jerman membalas di laga final Piala Dunia 1990 dan juara ketiga kalinya). 

Tim Tango juga berkeyakinan bakal juara dengan alasan historis. Yakni belum ada satu pun tim Eropa yang juara piala dunia di tanah Amerika Latin. Meski begitu, Argentina harus rela jadi underdog pada laga kali ini. Di banyak bursa taruhan, Jerman lebih diunggulkan.

Dan seperti yang diduga, Jerman memang lebih mengusai jalannya pertandingan. Anak asuh Joachim Loew tersebut mendominasi. Para pemain pun tak takut bergerak hingga garis tengah lapangan. Beberapa peluang tercipta. Namun tak jua menjadi gol. Sebaliknya, Argentina lebih banyak bertahan dan hanya mengandalkan serangan balik. Ini yang menjadi tidak biasa. Tim sekelas Argentina dipaksa bertahan!

 
Hingga akhir babak I, dominas Jerman terlihat pada statistic pertandingan. Selain penguasaan bola hingga 63%, mereka juga memiliki tendangan ke arah gawang lebih banyak yakni 5 kali percobaan on target. Hal yang tidak biasa juga terlihat, tim sekelas Argentina hanya mempunyai 1 kali tendangan on target! Salah satu penyebabnya mungkin ketidakhadiran Angel di Maria. Pemain Real Madrid tersebut memang tidak bisa turun dalam 2 laga terakhir karena dibalut cidera saat turun pada babak perempat final kontra Belgia.

Meski tampil lebih menyerang di babak II, namun skuad Argentina tetap kesulitan mengembangkan permainan. Persoalannya jelas, lini tengah mereka kalah dibanding milik Jerman. Kombinasi Toni Kroos dan Bastian Schweinsteiger cukup memberi garansi kekuatan lini tengah Der Panzer. Satu-satunya kekurangan mereka hanya karena tidak turunnya Sammi Khedira yang harus absen karena cidera.

 
Posisi Khedira digantikan pemain muda Cristoph Kramer yang kemudian diganti Andre Schurrle. Pemain Chelsea ini menempati posisi sayap, sementara Mesut Ozil ditarik ke tengah. Sebenarnya Ozil kurang paten berpasangan dengan Kroos dan Schweinsteiger. Ia memang bagus saat melakukan serangan, namun sering lupa mem-back up pertahanan sebagaimana halnya yang biasa dilakukan Khedira dengan sempurna. Praktis, Kroos lebih banyak menemani Schweinsteiger dan tidak terlalu merangsek ke depan. Biasanya di laga sebelumnya, Kroos sering masuk ke areal pertahanan lawan karena Khedira bisa bergantian menemani Schweinsteiger.

Di babak II, berbagai peluang tercipta. Termasuk sepakan Messi di depan gawang Manuel Neuer yang masih melebar, serta heading Howedes yang masih membentur tiang gawang Romero. Saat skor akhir babak II tetap berkesudahan sama kuat 0-0, penguasaan bola Jerman masih dominan. Yakni mencapai 60%. Dan momen indah tim Panser itu pun datang di extra time babak II. Mario Goetze yang masuk menit 88 menggantikan Klose, mampu menjadi penentu kemenangan sekaligus memastikan gelar juara keempat bagi Jerman menit 113.

 
Penguasaan bola yang baik berkat solidnya lini tengah juga tergambar dari pemilihan man of the match laga final kali ini. Bastian Schweinsteiger dianugerahi pemain terbaik pertandingan tersebut. Ia menjadi sosok penentu alur serangan dan sukses mematahkan serangan lawan sebelum menyentuh garis pertahanan Jerman. Rasio tekel sempurna pemain enerjik milik Bayern Muenchen ini berbanding lurus dengan kontribusi besarnya saat membantu serangan. Lihat saja statistiknya, ia tercatat melakukan umpan sukses mencapai 90 persen!

Kuatnya lini vital Jerman ini tidak hanya tergambar saat laga final saja. Namun sepanjang pagelaran Piala Dunia 2014, mereka juga demikian adanya. Kekuatan mereka sedikit banyak dipengaruhi oleh keberadaan trio Kroos- Schweinsteiger dan Khedira. Andaikata Marcos Reus bisa dibawa ke Brazil, tentu akan lebih superior lagi. Sayang, pemain Borussia Dortmund ini harus menepi karena cidera sebelum turnamen digelar.

 
Soliditas lini tengah ini mampu  dibarengi kuatnya pertahanan dan serangan Jerman. Sepanjang Piala Dunia 2014, mereka mencatat hasil mengagumkan. Yakni memasukkan 18 gol dan kemasukan 4 gol. Jumlah gol tersebut tentu luar biasa karena diciptakan hanya dalam 7 pertandingan saja. Pencetak gol pun tidak hanya didominasi lini depan, namun pemain tengah macam Khedira, Kroos hingga centreback Mats Hummels.
 
Catatan diatas menggambarkan betapa dahsyatnya skuad Jerman. Bandingkan dengan tim finalis lainnya yakni Argentina. Dalam 7 laga di Piala Dunia 2014, mereka hanya mencetak 8 gol dan kebobolan 3 gol. Dari 8 gol yang mereka ciptakan, 4 diantaranya dicetak Lionel Messi. Inilah mengapa banyak pengamat menyatakan, salah satu kekurangan Argentina adalah besarnya ketergantungan mereka pada sosok Messi.
 
Padahal, mereka memiliki striker-striker kelas wahid. Lihat saja barisan penyerang tim Tango, ada Aguero dan Higuain. Namun keduanya tak bisa berbuat banyak untuk menjadi mesin gol. Ini juga ditambah kenyataan bahwa lini tengah mereka juga tidak sehebat Jerman. Mereka hanya memiliki 1 pemain sebagai sumber kreativitas, Angel di Maria. Ketidakhadiran sosok ini di laga semifinal dan final akibat cidera, membuat sektor depan Argentina mengalami kemandegan untuk mencetak gol.
 
Khusus untuk skuad Die National Mannschaft, dengan raihan gelar juara di Brazil, mereka kini mengoleksi 4 bintang yang akan menghiasi jersey Timnas Jerman. Ini sebagai perlambang 4 gelar juara yang sudah mereka torehkan yakni pada tahun 1954, 1974, 1990 dan 2014. Tim besutan Joachim Loew memang kombinasi pemain senior berpengalaman dengan pemain muda potensial yang sangat layak meraih kampiun. Skuad ini pun bisa jadi akan kembali berjaya di turmanen major berikutnya, Piala Eropa 2016 mendatang. (bersambung ke bagian 7, mad)

 

Email Autoresponder indonesia