Cerita Risma Soal Penanganan Covid-19 di Surabaya

211 views

Maduracorner.com, Surabaya – Angka penyebaran virus corona atau Covid-19 di Kota Surabaya sempat tinggi. Kota Surabaya juga pernah ditetapkan zona merah penyebaran Covid-19. Bahkan kota pahlawan ini sempat dinyatakan zona hitam.

Namun saat ini Kota Surabaya sudah memasuki zona oranye. Artinya, penularan Covid-19 di Surabaya sudah memiliki risiko sedang dalam penularan Covid-19. Diharapkan kondisi tersebut terus berangsur membaik.

Sehingga masyarakat bisa beraktivitas seperti sedia kala tanpa dihantui rasa takut akan penularan Covid-19. Meskipun begitu, masyarakat tetap dihimbau untuk tetap selalu menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Seperti memakai masker, jaga jarak, rajin mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir. Serta melaksanakan pola hidup bersih dan sehat.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menceritakan bagaimana kisah menekan angka kasus Covid-19 di Kota Pahlawan. Mulai dari cara penanganannya, kendala hingga akhirnya wabah global dapat dikendalikan sampai seperti sekarang ini.

“Kami tidak pernah membayangkan kalau kejadiannya di luar bayangan,” kata Wali Kota Risma di sela mengikuti forum melalui video conference (vidcon) di rumah dinasnya, Jalan Sedap Malam, Surabaya, Kamis (12/11/2020).

Risma menjadi keynote speaker bertajuk Persiapan Rumah Sakit Surabaya dalam Era Kebiasaan Baru. Acara yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) ini diikuti 60 direktur rumah sakit se-Surabaya.

Sebetulnya, sambung Risma, kualitas sumber daya manusia yang dimiliki sangat luar biasa. Seperti tenaga medis yang ada di Surabaya tidak kalah dengan yang dimiliki di negara lain.

Buktinya, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama dengan Persi, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Surabaya serta seluruh rumah sakit dapat mengatasi, menekan dan mengendalikan angka penyebaran.

“Sehingga kemarin hanya tinggal 59 kasus aktif di Surabaya. Meskipun sehari kita tetap melakukan testing swab sekitar kurang lebih tiga ribu spesimen,” papar Risma.

Sebelumnya, Wali Kota Perempuan pertama di Kota Surabaya ini juga memberikan pesan secara khusus kepada warganya saat mengikuti upacara Hari Pahlawan. Meski saat ini Covid-19 di Surabaya sudah dapat dikendalikan, namun masyarakat diminta untuk tetap waspada dan disiplin prokes.

“Agar tidak ada gelombang kedua di kota kita. Jadi saat ini yang perlu kita lawan bukan lah musuh penjajah, melainkan melawan persoalan sosial yang ada termasuk melawan dari wabah global ini,” ujarnya.

Menurut Risma, saat ini seluruh stakeholder menjadi sosok pahlawan kemanusiaan. Di saat pandemi, mereka telah membuktikan bahwa seluruh elemen masyarakat berbondong-bondong memutus wabah dengan cara yang beraneka ragam. Salah satu elemen yang memiliki peran penting dalam mengendalikan Covid-19 ini adalah para Ketua RT/RW yang sudah menjadi pahlawan kemanusiaan.

“Coba bayangkan kadang, malam hari mereka para RT/RW harus membawa pasien ke rumah sakit,” ungkapnya.

Dari situlah ia menyimpulkan, bahwa makna pahlawan bukan lagi membawa senjata. Dan, menjadi pahlawan kemanusiaan itu dapat dilakukan oleh siapapun.

“Nah sekarang ini yang perlu terus kita tingkatkan adalah kita harus menjadi pahlawan-pahlawan kemanusiaan,” pesan Risma.

Risma juga menekankan kepada pelajar Surabaya agar terus mengobarkan semangat para pahlawan untuk meraih prestasi. Ia berharap, kondisi pandemi Covid-19 tidak menyurutkan tekad belajar dan terus berprestasi.

“Saya menyampaikan kepada anak-anakku semuanya, jaga terus semangat para pahlawan untuk terus mengobarkan semangat. Jangan pernah menyerah, sesulit apapun pasti kita bisa menyelesaikan,” tukas Risma. (Syaiful Islam)

Email Autoresponder indonesia