Derby Suramadu, Persaudaraan Suporter Tanpa Sekat

2149 views
J-Bink (Kelompok Suporter K-Conk Cewek) Berfoto Dengan Latar Spanduk Bonek Bangkalan

J-Bink (Kelompok Suporter K-Conk Cewek) Berfoto Dengan Latar Spanduk Bonek Bangkalan

Bangkalan, maduracorner.com – Persebaya Surabaya akan menjamu Persepam Madura United (PMU) dalam lanjutan kompetisi ISL 2014, jumat (29/8/2014) sore. Pada laga yang bakal digelar di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya ini, bukan hanya pertandingan kedua klub saja yang menarik untuk dibahas. Tapi bertemunya kelompok supporter dari kedua klub tersebut.Ya, laga bertajuk Derby Suramadu ini seperti pertemuan keluarga besar elemen supporter dengan warna kebanggaan berbeda. Karena bisa dibilang antara kelompok supporter Surabaya dan Madura tidak ada sekat sama sekali.

Hal ini disebabkan, sebelum terbentuknya elemen-elemen supporter di Madura, pulau garam ini juga menjadi basis dari para pendukung Persebaya. Mereka biasanya menyeberangi selat Madura dengan kapal ferry (sebelum ada jembatan Suramadu) untuk mendukung Green Force kala bertanding di Stadion Gelora 10 Nopember, Tambaksari Surabaya.“K-Conk dan Bonek itu ibarat saudara sekandung. Karena sebelum kami menjadi K-Conk, kami juga supporter Bajul Ijo”,ujar Rahman, salah seorang K-Conk yang tinggal di Bangkalan kota ke maduracorner.com, kamis sore (28/8/2014). “Coba lihat kalau sedang laga home PMU di Bangkalan, ada banyak supporter berkaos Bonek lengkap dengan syal-nya di atas tribu SGB. Berbaur dengan K-Conk”,tambahnya.

Laki-laki penggemar futsal ini menceritakan, biasanya mereka berangkat pagi hari ke Surabaya via pelabuhan Kamal – Bangkalan jika Persebaya bermain sore hari. “Itu momen tak terlupakan bagi kami. Dari pagi sampai siang, pelabuhan Kamal akan ramai orang berbaju hijau (Bonek) menyeberang ke Surabaya.

Bahkan usai pertandingan petang hari, satu kapal ferry yang hendak menuju Madura bisa-bisa diisi para Bonek yang hendak pulang ke Madura”,kata Rahman menceritakan masa saat ia terbiasa mbonek dulu.Menurutnya, adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa disangkal, bahwa Madura dari dulu juga basis Bonek. Bahkan, komunitas Bonek tumbuh dengan nama-nama berbeda di 4 kabupaten di Madura. “Setahu saya, di Sumenep ada BONKAR’S atau Bonek Area Sumenep. Di Pamekasan ada Bonek Kota Pamekasan (BKP). Sementara di Sampang, selain Bonek Sampang juga ada elemen yang memakai nama Bonek Madura (BOMA)”jelasnya.
“Kalau di Bangkalan, ada Bonek Bangkalan, Bonek Dutam dan lainnya. Elemen Bonek di Bangkalan memang lebih banyak. Maklum, karena secara geografis memang lebih dekat dibanding daerah lain di Madura”,tambahnya lagi.

“Nah, usai ada K-Conk sejak tahun 2009, ya saya jadi K-Conk juga tanpa menanggalkan identitas ke-Bonek-an saya”,katanya sambil terkekeh-kekeh.

Sementara itu, dirigen Mabes K-Conk Mimit Jenggot pun menuturkan hal yang sama. Ia menuturkan, dirinya tak mungkin meninggal sejarah tersebut. Ia juga membenarkan, banyaknya elemen Bonek di Madura sejak dulu. Begitu juga di Surabaya, kini sudah banyak yang memakai identitas sebagai K-Conk Sorbejeh (K-Conk Surabaya). “Mereka ini adalah warga-warga Madura yang tinggal di Surabaya. Mereka juga Bonek”,tutur Mimit.

“Bahwa kami (K-Conk dan Bonek) adalah saudara sejak dulu, itu tidak bisa dibantah. Karena sejarahnya memang begitu. Saya dan Hamin Gimbal (dirigen Bonek) juga masih keluarga dekat. Jadi selain ikatan sejarah, persaudaraan ini juga karena ikatan kekeluargaan”,kata Mimit menambahkan seraya tersenyum.
Namun begitu, keduanya juga berkomitmen untuk tidak mencampuri urusan internal masing-masing. Mulai dari rivalitas antar supporter hingga konflik internal di tubuh Persebaya/Bonek.

“Sejak awal kami mengambil sikap begitu. Semua saudara Bonek adalah saudara K-Conk. Tapi soal kubu permusuhan, kami berusaha menghindari. Artinya, rival (musuh) Bonek belum tentu menjadi rival kami. Begitu juga soal masalah internal Bonek. Siapapun yang berbaju hijau dengan logo bajul ijo atau ndas mangap, maka ia saudara kami. Kami tak mau terjebak untuk berpihak ke salah satu. Semua elemen Bonek tanpa terkecuali adalah saudara”,tegas Mimit.

Penulis: Mamad el Shaaraw

Email Autoresponder indonesia