Desa Poreh, Dikenal Sebutan Dusun Tikar Siwalan

1527 views
perajin tikar Siwalan-foto: Teguh/MC.com

perajin tikar Siwalan-foto: Teguh/MC.com

Sentra tikar | oleh : Teguh

Maduracorner.com, Sumenep – Siapa yang tidak kenal Desa Poreh, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, bahwa Desa tersebut adalah sebagai sentra tikar yang terbuat dari daun pohon siwalan.

Bahkan 90 persen dari penduduknya berprofesi sabagai pengrajin membuat tikar rakara (daun siwalan). Lalu bagaimana aktifitas keseharian dan cara memproduknya?

Jika kita melintasi atau masuk ke Desa Poreh Kecamatan Lenteng, maka kita akan menemui suatu keguyuban aktifitas warganya. Bahkan jika ditelisik lebih jauh lagi atau dengan jeli memperhatikan sepertinya di setiap warga mempunyai pohon siwalan yang dikenal sebagai bahan pokok membuat gula merah.

Ternyata pohon yang dikenal cukup kuat untuk bahan bangunan itu, daunnya jika dianyam menjadi tikar yang biasanya dibuat pembungkus tembakau yang bakal disimpan digudang itu sangat terkenal dan mempunyai pasar atau prospek yang cukup cerah, paling tidak untuk warga kampong setempat telah memberi sebuah aktifitas yang sekaligus penghidupan yang membuat mereka tetap survife dalam kondisi apapun.

Wajar saja jika dusun itu disebut sebagai dusun tikar daun siwalan atau orang menyebutnya tikar rakara. Hal itu bisa dilihat dari keseharian warga –yang biasanya kaum hawa aktifitasnya membuat tikar rakara. Bahkan 90% dari penduduknya berprofesi sebagai pengrajin tikar rakara.

Untuk membuat tikar rakara warga cukup mengambil disebelah rumah saja, karena memang setiap rumah sudah berdiri dan tumbuh pohon siwalan yang siapa melayani para kaum ibu, untuk menjadikan sebuah tikar yang siap pakai atau siap jual memang tidak terlu sulit atau tidak akan memakan waktu lama, artinya sangat mudah dan gampang lebih bagi mereka yang sudah trampil. Pertama mereka mengumpulkan daun siwalan secukupnya lalu dikeringkan cukup dijemur satu hari saja sudah siap dianyam pada malam harinya.

Bagi yang sudah trampil biasanya mereka menghasilkan 4 hingga 5 lembar tikar dalam seharinya. Itupun mereka tidak berkeja dengan ngoyo, tapi jika bekerja dengan sedikit ngoyo mareka bisa memproduksi 8 hingga 9 lembar tikar rakara dalam sehari.

“Untuk menjadikan satu lembar tikar bagi kami yang cukup makan waktu 1 jam menganyam sudah pekerjaan sehari-hari,” aku salah seorang warga saat diwawancari
 MC.

Saking larisnya tikar rakara yang dibuat oleh warga yang umunya kaum hawa itu, belum jadipun sudah ada yang order. Artinya jika ingin borong ya inden dulu pada pengrajin, karena jika tidak jangan harap dapat barang. Jadi mereka para pengrajin itu tidak memasarkan sendiri, sebab, para pembeli datang sendiri ke sentra-sentra.

“Mereka para pembeli datang sendiri kesini. Sebab jika tidak ya tidak bakal dapat barang,” terang Sukiye yang memang kesehariaanya menganyam tikar sejak masih anak-anak.

Lalu harganya? Harga perlembar tikar hanya Rp 10 ribu, itu katanya termasuk harga yang normal, lho apa ada harga yang tidak normal?
 “Ya itu harga diluar musim temabakau lho! Tapi jika sudah masuk musim tembakau ya harganya perlembar bisa mencapai Rp 15 ribu perlembar tikar,” katanya.

Pengalaman tahun –tahun sebelumnya ini. Tahun dimana temabakau sangat bagus, mereka menjual tikar pelembarnya hingga Rp 20 ribu. “Ya lumayan la pak kan tidak setiap tahun dapat untung besar,” jelasnya.(tgh/lam)

Email Autoresponder indonesia