Eksistensi Sepak Bola Bangkalan Tak Sehijau Rumput SGB

417 views

BANGKALAN, MADURACORNER.COM- Stadion Gelora Bangkalan (SGB) dengan rumput Zoysia Japonica menjadi salah satu ikon Kota Bangkalan sejak diresmikan Mantan Bupati RKH Fuad Amin pada 18 Nopember 2012 silam.

Kualitas mentereng rumput stadion berkapasitas 15 ribu penonton itu dijadikan venue laga uji coba Tim Pra PON Jatim (Perseba Bangkalan) melawan Timnas U-19 bersama Coach Indra Sjahfri pada Februari 2014

Namun, eksistensi sepak bola di Bangkalan tak sehijau rumputnya. SGB hanya sebatas lapangan sepak bola komersil. Klub-klub papan atas Indonesia berdatangan ketika melakoni laga tandang menghadapi Madura United. Klub di Madura asal Kabupaten Pamekasan.

Tim kebanggan masyarakat Bangkalan, Perseba yang pernah berlaga di Divisi Utama pada era 1970 an, saat ini masih berkutat di Liga 3 Indonesia.

“Kapan warga Bangkalan bisa bermain di situ? Kita tonton di stadion milik sendiri,” ungkap Wakil Bupati Bangkalan Mohni ketika membuka Saresahan ‘Membangun Sepakbola Bangkalan Menjadi Lebih Baik’ di Pendapa Agung, Minggu (9/12/2018).

Mohni mengerti betul proses panjang pembangunan SGB. Kala itu, ia menjabat Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bangkalan.

Ia menjelaskan, Pemkab Bangkalan saat itu menggelontorkan anggaran pembiayaan rumput senilai Rp 1 miliar dan lampu stadion senilai Rp 9 miliar.

“SGB adalah stadion ketiga di Indonesia yang menggunakan rumput itu. Kalau tidak bisa dinikmati kita akan dinikmati klub lain,” jelasnya.

Sarasehan tersebut digelar Dinas Pemuda dan Olahrag (Dispora) Kabupaten Bangkalan bersama Bangkalan Soccer Academy (BSA).
Selain unsur Forpimda, asisten pemerintahan, dan sejumlah kepala OPD, hadir pula puluhan pegiat sepakbola Bangkalan.

Mohni mengatakan, sarasehan tersebut menunjukkam masyarakat dan tokoh olahraga khususnya makin meningkat untuk meningkatkan prestasi sepakbola Bangkalan.

“Pemerintah mendukung penuh segala upaya guna memajukan sepakbola di Bangkalan. Kita rindu kejayaan Perseba di tahun ’70 an,” pungkasnya.

Mantan punggawa sekaligus Kapten Tim Perseba Bangkalan Suratman Herianto (67) yang hadir dalam sarasehan tersebut menceritakan, perjalanan Perseba mulai dari Divisi II, I, hingga Divisi Utama membuat seluruh mata tertuju pada Bangkalan selama periode 1975-1980.

“Di luar dugaan, kami hadir sebagai kekuatan baru di Jatim. Tim kuat kala itu Persebaya dan Persema (Malang). Persema kami gilas 2-0,” kenang mantan gelandang bertahan ini.

Kala itu, lanjut pria yang akrab disapa Yayak itu, semua pemain terbaik di Madura disatukan di Perseba dengan kombinasi para pemain dari Pulau Jawa.

Pria kelahiran Jember itu menuturkan, prestasi Perseba Bangkalan mulai menurun seiring pergantian Bupati Bangkalan, Jacky Sudjaki (1971-1982).

Selama dua periode itu, lanjut Yayak, Bupati Sudjaki turut andil dalam mencari pemain, membentuk tim, hingga mengangkat Coach Misbah asal Surabaya.

“Ada faktor kebijakan pemerintah saat itu. Ketika Perseba berlaga di Divisi Utama, performa kami mulai menurun seiring berakhirnya masa bhakti Bupati Sudjaki,” tuturnya.

Ia menambahkan, terbentuknya akademi sepakbola usia dini, BSA yang baru berjalan empat bulan telah meletupkan kembali gairah persepakbolaan di Bangkalan.

Menurutnya sepakbola tidak bisa dimulai dengan cara instan atau langsung jadi. Harus diawali dari usia anak dengan pembibitan berkelanjutan.

“Lihat saja saat latihan, anak-anak seusia itu sudah bagus dan sudah kelihatan cara bermainnya,” pungkas Yayak yang kini tetap menjaga kebugaran melalui bersepeda dan tenis lapangan.

Pemateri sarasehan sekaligus pendiri BSA Imam Syafii mengatakan, permasalah akut pada pembinaan sepakbola usia dini di Indonesia adalah pencurian umur.

“Karena apa? Targetnya adalah juara, juara, dan juara. Padahal filosofi dari pembinaan sepakbola usia dini adalah ‘fun’. Usia anak belum saatnya dibebani menang dan juara,” ungkap Magister Kesehatan dan Doktor di bidang olahraga itu.

Sebelum mendirikan BSA, pria kelahiran Desa Jaddih Kecamatan Socah itu telah mendirikan Indonesia Soccer Academy (ISA) di Sidoarjo, Mataram Soccer Academy (MSA), dan Lamongan Soccer Academy.

Dalam kurun waktu sekitar 5 tahun, MSA telah menelurkan dua pemain Timnas U-15 Pelajar. Keduanya adalah I Putu Krisna Saputra dan Marcel Januar Putra. Mereka kini dikontrak Bali United.

Sedangkan ISA yang dibentuk pada 2012 di Sidoarjo, mampu menjadi barometer akademi sepakbola di Indonesia karena sukses menelurkan banyak pemain Timnas U-15. Di antaranya Imam Fauzi, Januarius Wameka (dikontrak Barito Putra Liga 1), dan Brilian Aldama.

Sebelum menggeluti sekolah sepakbola usia dini, Imam yang juga Dosen Fakultas Ilmu Olahraga (FIO) itu melakukan studi banding terkait pengelolaan akademi sepakbola usia dini di Stanford University USA pada 2011.

Setahun berikutnya, Imam dipercaya sebagai penanggung jawab Real Madrid Academy di Sidoarjo.

Pada tahun 2013, ia datangi markas klub sepakbola Inggris Arsenal untuk mempelajari Arsenal Academy dan dilanjutkan ke Fandi Ahmad Academy di Singapura.

Ia bahkan diundang otoritas sepakbola Thailand sebagai keynote speaker di Chiang Mai Academy, Buntonom Academy, dan Anuzon Academy di tahun 2013.

“Di negara-negara itu, juara festival sepakbola usia anak tidak dihitung, bukan atensi utama. Di sini juara dan juara yang dibicarakan. Akhirnya pencurian umur terjadi,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dispora Kabupaten Bangkalan Sa’ad Asjari mengemukakan, ketika pemkab membangun stadion berstandar nasional, masyarakat Bangkalan diselimuti perasaan rindu masa kejayaan Perseba.

“Banyak bentangan poster ‘Kami Rindu Perseba’ beberapa tahun yang lalu di pinggir jalan protokol. Kini Perseba masih terseok-seok,” ujarnya.

Ia menjelaskan, upaya membangkitkan kembali masa keemasan Perseba Bangkalan harus diawali dengan pembinaan usia dini karena sepakbola tidak serta merta berprestasi.

“Ini tugas bersama. Kami ada agenda kompetesi sesuai kelompok umur dari beberapa kecamatan. Semoga ini menjadi embrio kebangkitan sepakbola Bangkalan,” jelasnya.

Ia menambahkan, saresehan ini merupakan tindak lanjut dari beragam kritikan konstruktif, masukan, dan letupan pikiran masyarakat atas prestasi olahraga di Bangkalan khususnya sepakbola.

“Terilhami dari BSA yang kini sudah memiliki lebih dari 60 siswa,
Dispora Bangkalan berencana mendirikan sekolah catur dan tenis meja mulai usia 10 tahun,” tandasnya. (*)