Guru Honorer Inspiratif, Nyambi Bertani Garam Demi Penuhi Kebutuhan Hidup

SUMENEP, MADURACORNER.COM- Meski digaji hanya Rp 150 ribu rupiah oleh pihak sekolah tidak menyurutkan semangat untuk tetap mengabdi demi mencerdaskan anak bangsa, seperti yang dicontohkan sosok salah seorang guru honorer, Zaini (46) Warga Desa Karanganyar, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep. Dia selama 14 tahun lamanya sampai sekarang tetap bertahan menjadi guru, sedangkan untuk mencukupi kebutuhan hidup bersama istri dan kedua anaknya ia terpaksa bekerja sampingan bertani garam.
Setiap hari sejak pukul 06.00 WIB, Zeini ini berangkat ke sekolah SDN Karanganyar Kecamatan kalianget untuk mengajar dengan berjalan kaki sejauh sekitar satu kilometer. Kondisi ini ia geluti sejak 14 tahun lamanya mulai tahun 2004 silam.

Meski hanya dibayar Rp 150 ribu rupiah per bulan oleh pihak sekolah, Zeini tetap semangat mengajar. Beruntung selain dari digaji dari sekolah, Zeini mendapat tambahan insentif dari Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep, sebesar Rp 350 ribu rupiah per bulan, jadi total pendapatan zeini dari mengajar Rp 500 ribu rupiah per bulannya.
“Gaji Rp 500 ribu rupiah perbulan tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup bersama istri dan kedua anak saya mas, sehingga saya harus bekerja sampingan bertani garam, katanya

Menurutnya, Setiap hari setelah pulang dari mengajar, Zeini pergi ke ladang garam yang tidak jauh dari rumahnya untuk melakukan produksi garam; dan dari hasil bertani garam itu, selama musim kemarau mampu memenuhi kebutuhan hidup dan biaya anaknya bersekolah. “ Alhamdulillah mas dari produksi garam ini, kami bisa memenuhi kebutuhan hidup termasuk biaya kedua anak saya yang masih ada di bangku sekolah,”katanya.
Sementara itu salah seorang siswa di SDN karanganyar, tempat Zeini mengajar, Jufri mengaku, bahwa sosok Zeini, adalah satu guru yang sangat digemari siswa di kelasnya, “ pak Zeini sangat menyenangkan, karena di kelas orangnya humoris tidak membosankan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kepala Sekolah SDN Karanganyar Kecamatan Kalianget, Kadir, menurutnya Zaini adalah guru yang selalu tepat waktu dalam mengajar, bahkan juga sering membantu adminitrasi kantor.
Kadir merasa prihatin akan nasib zaini, karena faktor usia sudah tidak memenuhi syarat menjadi guru PNS, karena terkendala kebijakan pemerintah pusat yang membatasi para calon PNS denagn usia maksimal 35 tahun.

“Semoga ada kebijakan dari pemerintah daerah kabupaten sumenep, untuk para guru honorer agar diberikan kesempatan untuk bisa menjadi guru PNS pada rekrutmen selanjutnya,”harapnya. (Sai)