Haji

621 views
Haji,5 / 5 ( 1voting )
10538644_558636240949811_1169163088472562335_n
Bangkalan,Maduracorer.com – Adakah kebahagiaan yang melebihi dibandingkan terpilih sebagai tamu agung? Air mata menetes saat menyadari engkau terpilih menerima undangan agung. Berjuta-juta umat Islam di dunia, tetapi engkaulah yang (terpilih) tamu agung itu.

Tak semua orang mampu melaksanakan ibadah haji. Penyebabnya, dibandingkan ibadah lain, ibadah terakhir pada Rukun Islam itu mesti dilaksanakan pada waktu yang ditentukan di Tanah Suci, Makkah. Dengan demikian, ibadah yang sering disebut sebagai penyempurnaan keislaman seseorang itu, membutuhkan berbagai syarat: mampu dalam pendanaan, mampu fisik dan psikis. Mengingat syarat tersebut, Allah mewajibkan ibadah itu hanya bagi yang mampu (QS. 3:97).

Tapi, jangan berkecil hati, menganggap Allah pilih kasih: hanya orang kaya yang patut berhaji. Tak seorang pun dapat mengukur kemahaan Allah karena banyak umat Islam yang kaya, tetapi tidak mendapatkan undangan-Nya. Sebaliknya, tak sedikit orang yang tidak mampu, justru terpilih sebagai tamu agung-Nya

Maka engkaulah salah seorang tamu agung dari sekitar dua juta orang yang melaksanakan ibadah haji. Sejatinya, engkau hanya arwah yang lama mengembara, dan kini mendapat kesempatan untuk bertemu dan dijamu Sang Majikan. Engkau, wahai arwah yang lelah dan carut-marut berbalut debu dan dosa di dunia, dengan keletihan pengembara menyahuti undangan Sang Majikan:

“Labbaik Allahumma Labbaik, Engkau datang dari berbagai penjuru bumi dengan sahutan yang sama: kami datang memenuhi panggilan-Mu” (lihat QS. 22:27).

Wahai arwah yang lama mengembara, basuhlah debu yang melekat, sebelum mencicipi hidangan-Nya. Bukankah sebagai tamu, selaiknya terlebih dulu membersihkan diri, sebelum mengikuti jamuan-Nya? Maka berbagai cobaan di Tanah Suci sejatinya merupakan proses penghancuran ego duniawi menjadi serpih tepung, untuk kemudian dibentuk-Nya kembali sebagai arwah yang kembali kepada fitrinya. Siapa yang menunaikan haji dan umrah tanpa merusaknya dengan kemaksiatan, maka dia kembali seperti baru dilahirkan (bersih dari dosa) (HR. Imam Muslim).

Di saat debu mulai terbasuh, engkau hai arwah, cicipilah hidangan-Nya. Betapa kini kian terasa kebenaran dan kesempurnaan agama yang dianut. Lihatlah: saudara seiman yang berserakan di penjuru bumi, yang putih dan hitam dan terpisahkan geografis, ternyata hanya memiliki satu kiblat peribadatan. Baitullah, siapakah arsitek di zaman sebelum Masehi yang telah mampu berpikir, membangun kubus segi empat yang setiap sisinya menjadi arah peribadatan. Di Masjidil Haram, di saat setiap hamba shalat menghadap ke setiap sisi Ka’bah, baru tampak begitu terang kemahasempurnaan-Mu (belum lagi bagi mereka yang mendapat kesempatan merasakan ‘magnet’Mu yang memancar dari Ka’bah sehingga membuat sendi bergetar, bahkan, mencucurkan air mata. Banyak lagi pengalaman spritual yang menjadi rahasia masing-masing pribadi saat menghadap-Nya).

Puncak perjamuan telah tiba. Maka wahai arwah, kenakanlah ihrammu — yang diandaikan Dr Ali Shariati di bukunya bertajuk Haji — lambang kafan saat engkau kelak kembali menghadap-Nya. Dengan kain serba putih, engkau para arwah, menuju satu titik: Padang Arafah. Di Hari Arafah, engkau para arwah, sejatinya seperti yang diungkapkan Ali Shariati sedang memainkan lakon `Kebangkitan di Hari Kemudian’ di saat matahari hanya sepenggalah di kepala, di saat setiap hamba mempertanggungjawabkan amalannya.

Engkaulah para arwah — yang menjadi tamu-Nya mendapat kesempatan melakonkan skenario Allah — melepaskan status duniawi, menjadi kumpulan yang sama: serba putih-putih. Di Padang Arafah ini, engkau baru menyadari kekuasaan dan kemampuan keuanganmu sama sekali kehilangan daya, karena dapatkah uang yang selama ini dipuja-puja membeli sutra mahal dan bewarna-warni untuk dikenakan saat menghadap-Nya? Dia maha kaya sehingga engkau hanya patut mengenakan kain putih.

Putih tak sekadar melambangkan kesucian tetapi juga sejatinya bermakna ketiadaan — putih tak akan menyemburatkan warna. Gelar VIP yang dipersembahkan dunia padamu menjadi seperti besi yang terpanggang panas, meleleh kehilangan kekuatan. Ini karena Dia yang Mahakuat dan Mahakuasa sehingga tiada kekuatanmu di hadapan-Nya. Maka di Arafah, semestinya engkau memiliki kesadaran baru: betapa tiada berarti harta yang engkau perebutkan, betapa tiada bermakna kekuasaan yang ditimang.

Maka di saat engkau menginsyafinya, Allah justru telah mengangkat derajatmu, tanpa memandang harta dan kekuasaan duniawimu. Bukankah di saat engkau berkumpul di Padang Arafah — yang menjadi simbol Padang Mashar — seperti yang senantiasa diriwayatkan ulama, Allah turun ke lapis langit terbawah diiringi para malaikat. Di saat itu, Allah membanggakanmu sebagai tamu yang menghadiri perjamuan-Nya, kepada para malaikat. Ingatlah, di saat Allah hendak menciptakan Adam, malaikat sempat `memprotes’: mengapa Allah hendak menciptakan makhluk yang akan melakukan kerusakan di muka bumi? Tak cukupkah para malaikat yang semata-mata beribadah pada Allah?

Maka, di hari Arafah ini, Allah `menjawab’ protes tersebut. Dengan membanggakanmu, mudah-mudahan merupakan bentuk kesenangan-Nya, sehingga mengangkat derajatmu di hadapan para malaikat dan mendapatkan kesempurnaan-Nya. (lihat QS 7: 11 dan 17:70) Bukankah itu merupakan bentuk kebahagiaan yang tak terperikan?

Maka wahai arwah yang mengembara, setelah bersua dengan Sang Majikan, kembalilah ke negerimu dengan senantiasa memelihara kebanggaan Allah itu.

Itu karena engkau haji,

tamu yang diagungkan-Nya!

By : Rudy H. Alm

Email Autoresponder indonesia