Harta, Tahta, dan Wanita

1098 views

ilustrasi

Rubrik Renungan

HARTA,TAHTA, DAN WANITA

            Bangsa Indonesia dengan bermacam-macam suku bangsanya masih kuat budaya patrilineal (kedudukan laki-laki masih lebih tinggi dari perempuan) maka kita akan sering mendengar tentang adagium harta tahta wanita, yang merupakan godaan di dunia, untuk laki-laki. Walaupun pada masa kini sudah ada pergeseran makna, dimana kedudukan laki-laki dan perempuan merupakan hal yang bisa dikondisikan, dinegoisasikan, atau dimaknai ulang khususnya dalam ranah keluarga. Adagium ini muncul karena dalam budaya patrilineal ini, rentan terjadinya persaingan. Persaingan yang terkadang harus berlebihan alias tidak wajar.

Harta merupakan bekal bagi manusia untuk bisa bertahan hidup, menafkahi keluarga, membantu sesama, dan harta merupakan sarana mempermudah beribadah kepada Allah SWT. Ketika dia dimaknai sebagai sebuah tuntutan dan keharusan, maka akan timbul perasaan cemas terhadapnya. Cemas akan kehilangan, cemas akan berkurang, waktu dan tenaga juga akan terkuras memikirkan cara mencari dia kembali.

Tahta dipakai untuk mengatur kehidupan antara sesama manusia, yang tanpanya manusia akan kehilangan tata karma dan aturan-aturan. Disini terlihat jika tahta erat kaitanya dengan kekuatan politik seseorang, dimata orang lain. Dia merupakan sebuah amanah, bahwa kita dipercaya oleh orang lain untuk melaksanakan suatu tugas. Ketika dia, menjadi sebuah tuntutan dan kebutuhan, hanya akan berusaha menguasai orang lain tanpa mempedulikan nasib orang tersebut.

Wanita bagi laki-laki merupakan salah satu jalan memperoleh ketentraman. Baik itu hasrat seksual, emosional, dan spiritual. Hasrat seksual menjadi sarana laki-laki yang sudah menikah, menyalurkan kebutuhan biologisnya. Emosional yang dimaksud adalah ketika laki-laki dalam hal ini suami, perlu berbagi cerita, masalah, kebahagian, ada istri. Spritual yang dimaksud adalah mereka menjadi pendamping ketika suami beribadah, dan tentu saja nilai ibadah suami istri lebih besar dibanding ibadah sendiri. Laki-laki membutuhkan makmum, sedangkan wanita membutuhkan imam yang bisa membimbingnya. Hubungan antara keduanya tidak dapat dipisahkan dan saling melengkapi satu salam lain

Memaknai wanita sebagai sebuah tuntutan justru membuat kesetiaan laki-laki pudar. Peran laki-laki yang seharusnya melindungi wanita (jiwa, fisik, dan martabatnya) menjadi tidak muncul. Akibatnya, laki-laki tersebut kehilangan wibawa, tentu saja masyarakat akan mencemooh. Pikiran untuk menambah istri memang boleh dalam agama, namun perlu juga mempertimbangkan kemampuan sebagai imam. Jika kemampuan sebagai imam, terbatas malah akan merusak keharmonisan keluarga yang sudah ada.

 

Biodata Penulis

 

Nama                           : Muhammad Fathul Farikh Fauzy

Pekerjaan                     : Mahasiswa Program Pascasarjana Antropologi UGM

Telepon                       : 085 736 587 093

Email                           : muhammad.farikh@gmail.com

 

 

Email Autoresponder indonesia