Hidup Yang Ketiga Kalinya – Kisah Penderita Kanker

576 views

Maduracorner.com – Bangkalan, Hidupku saat ini adalah hidup yang ketiga kalinya. Saya sudah pernah ‘mati’ dua kali. Mati yang pertama terjadi ketika pada tahun 2000-an dokter di Surabaya menvonisku menderita kanker parotis stadium empat. Ada benjolan yang berada tepat di bawah telinga kananku. Waktu itu dokter memperkirakan bahwa hidupku di dunia ini tersisa tiga bulan lagi.Sedih, stres, depresi dan gundah-gulana menyelimuti keseharianku sejak vonis dokter itu. Mengurung diri di dalam rumah sembari mendekatkan diri dengan Allah SWT menjadi pilihan terbaik saat itu sembari menunggu malaikat pencabut nyawa datang untuk memisahkan jiwa dari ragaku.

Tiga bulan berlalu, malaikat pencabut nyawa yang kutunggu-tunggu tidak kunjung datang. Daripada terus meratapi sakit kanker yang kuderita, kucoba untuk kembali menyapa dunia di sekitarku. Selangkah demi selangkah kucoba keluar rumah dan menyapa orang-orang seperti biasanya, sebelum dokter memvonis hidupku. Lantas, kucoba mencari jalan kesembuhan dengan melakukan operasi, kemoterapi, dan radioterapi di salah satu rumah sakit ternama di Surabaya. Tiga cara pengobatan kanker tersebut kulakukan semuanya demi meraih kesembuhan. Empat kali operasi, tiga paket kemoterapi dan tujuh Pilih dua kali radioterapi sudah kujalani dengan tuntas. Akibat dari empat kali operasi yang dilakukan dokter kepadaku adalah putusnya dua syaraf Taurus syarat kelima dan ketujuh sempat terpotong di bagian kepalaku.

Dua paket kemoterapi juga mengharuskan diirku merasakan siksaan dahsyat setiap kali dokter menyuntikkan obat kemo melalui selang infus di tanganku.Akibat lainnya, wajahku menghitam setelah tujuh Pilih dua kali menjalani radioterapi. Selesai menjadi radioterapi yang ke-dua, dokter yang bertugas di ruang radioterapi menyerah angkat tangan. Ia tidak berani melakukan radioterapi untuk ketiga kalinya karena sangat beresiko bagi keselamatanku. Dokter lagi-lagi menvonis umurku tinggal beberapa bulan lagi.

Inilah kematianku untuk yang kedua kalinya. Beberapa bulan setelah vonis dokter, kematian juga tak kunjung datang namun rasa sakit di leher kananku semakin menjadi-jadi.

Pada suatu hari di tahun 2006, saya membaca berita di koran perihal pengobatan kanker di Guangzhou. Di koran itu disebutkan bahwa ada rumah sakit di Guangzhou yang memiliki kekhususan dalam pengobatan kanker. Kubaca berkali-kali hingga tuntas berita tersebut. Tetapi, keberuntungan belum berpihak padaku saat itu. Koran yang memuat berita tentang pengobatan kanker tersebut hilang.

Samar-samar, satu informasi yang kuingat dari berita di koran tersebut adalah adanya kantor perwakilan rumah sakit Guangzhou di Surabaya. Dengan bantuan kakakku saat itu, alamat kantor perwakilan berhasil kutemukan. Setelah melakukan konsultasi dengan dokter di kantor tersebut, saya berangkat ke Guangzhou untuk berobat ditemani istriku.

Keberangkatan pertamaku ke Guangzhou diantar oleh beberapa teman dan keluarga. Termasuk Buyung Pambudi yang turut mengantar ke Bandara Juanda. Beberapa tahun kemudian, tepatnya di awal bulan Januari tahun 2015 saya mengantar istri Buyung yang menderita kanker ovarium untuk berobat ke Guangzhou. Hampir sebulan saya menemani Buyung di Guangzhou. Rencana Allah SWT sungguh tidak terduga, dan percayalah bahwa rencana Allah SWT adalah sebaik-baiknya rencana karena Dia adalah Dzat yang Maha Pembuat Rencana.

Setelah menjalani beberapa kali pengobatan di Guangzhou, saya dinyatakan sembuh dari kanker parotis yang kuderita. Tanpa operasi, dokter di Guangzhou berhasil melakukan pengobatan dengan cara menanam beberapa partikel radioterapi sebesar biji beras ke dalam benjolan di leher kananku.

Hingga hari ini, hidup yang kujalani merupakan hidup yang ketiga kalinya setelah divonis ‘mati’ dua kali.

Penulis Buyung P

By Jiddan