Jejak-jejak Cina Muslim di Pasongsongan Sumenep

999 views
Keluarga peranakan

Keluarga peranakan

Bangkalan,Maduracorner.com – Dakwah yang disiarkan oleh Sunan Ampel sudah berpengaruh luas hingga ke pelosok Madura. Berita tentang adanya agama baru yang memberi harapan sudah sekian jauh menggema di sanubari masyarakat. Secara sukarela satu persatu masuk Islam. Tak terdapat suatu paksaan dalam konversi agama ini. Namun magnet Islam sudah terlalu kuat di hati orang-orang Hindu maupun Budha karena dalam Islam terdapat kekuatan cara pandang yang canggih dan baru bagi mereka.

Jejak-jejak perjalanan dakwah Sunan Ampel memang tidak terlalu terekam di Madura secara jelas. Namun dipastikan dakwahnya senantiasa memancing keingintahuan masyarakat Madura, salah satunya dalam kisah Aria Lembu Petteng, putra dari Prabu Kertabumi, Raja Majapahit Brawijaya ke V, yang dikirim ke Sampang untuk menjadi kamituwo.

Mendengar berita “agama baru” itu, Aria Lembu Petteng akhirnya berngkat ke Ampel Delta untuk belajar Islam dan menyatakan memeluk agama Islam dihadapanan Sunan Ampel. Namun disayangkan ia tidak sampai kembali ke Sampang, lantaran kemudian wafat di Ampel pula. Akibatnya anak dan cucunya tidak sempat belajar Islam, tetap menganut agama Hindu.

*****

Lain lagi kisah Cina Muslim di wilayah pesisir utara Sumenep, tepatnya di Pasongsongan. Di daerah ini terdapat sebuah perkampungan yang didiami orang Cina Muslim. Mereka mengklaim sebagai warga keturunan Cina yang masih termasuk santri Sunan Ampel. Konon mereka mendiami Madura sejak zaman maraknya penyebaran dakwah di Jawa melalui tangan-tangan para sunan. Diakui Sumenep sebagai lokasi paling timur Madura yang lebih awal mengalami kemajuan peradaban yang ternyata mempunyai jejak-jejak historis masyarakat Cina yang sudah beragama Islam.

Interaksi warga keturunan Cina dengan Madura ujung timur ini diperkirakan sejak tentara Mongol dikalahkan Majapahit pada abad ke 13, pada saat itu Aria Wiraraja punya andil besar dalam strategi perang Majapahit. Konon, orang-orang Cina sisa-sisa prajurit Tartar itu terperangkap siasat yang dilancarkan oleh Aria Wiraraja sehingga mereka tidak bisa kembali lagi ke negara asalnya.

Dikisahkan, pasukan Jokotole Sumenep kembali terjadi perang dengan pasukan Cina, pimpinan Dempo Awang pada abad ke 15. Dan akibatnya serangan Dempo Awang itu banyak orang dari Cina bertebaran di Pulau Madura utamanya di Sumenep

Cina pendatang itu umumnya menganut Konghucu atau Budha. Namun, belakangan banyak berpindah ke agama Katolik dan Protestan karena alasan-alasan strategis pragmatis, seperti keamanan dan ketenteraman, utamanya dalam berbisnis. Akibatnya orang keuturunan itu kerap tidak dusukai dan dimusuhi oleh penduduk setempat yang telah memeluk Islam. Untuk itulah masyarakat pendatang Cina itu lebih suka dan bertahan di perkotaan karena merasa lebih aman dan lebih mudah melakukan aktivitas ekonomi. Diakui, wrga keturunan Cina itu sangat gigih dalam berniaga, hampir di seluruh perkotaan Madura orang-orang Cina menguasai ekonomi dan pasar strategis yang berpusat di kota.

Fakta itu setidaknya bisa dipahami secara jamak. Namun, suatu hal yang cukup unik, bahwa masyarakat Cina yang bermukim di Pasongsongan sudah menjadi Muslim, dan hidup di perkampulan muslim, berbaur dan berasimilasi dengan masyarakat Muslim setempat. Sebuah pertanyaan mungkin akan muncul, mengapa orang-orang Cina bisa hidup di kampung yang jauh dari perkotaan? Lalu mengapa juga mereka beragama Islam, padahal pada umumnya orang-orang Cina beragama Konghucu?

Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang-orang Cina memang selalu terdiskriminasi secara ras. Dengan begitu, secara pragmatis apabila ingin bertahan di daerah-daerah pedalaman, maka mau tidak mau harus menjalani akulturasi dengan budaya dan agama setempat. Sehingga bisa saja menjadi alasan perpindahan agama kepada Islam adalah karena alasan pragmatis. Namun beda orang-orang Cina di Pasongsongan, seorang peneliti Ali Al-Humaidi ini mencatat, bahwa orang-orang Cina di kampung ini sudah Muslim dari nenek moyang mereka.

Dikisahkan, nenek moyang mereka masih bermarga King, sehingga nama depan mereka memakai “K”, merupakan santri dari Sunan Ampel. Ia bernama Kingpangkeng yang makamnya saat ini di Ampel Surabaya. Ia diambil menantu oleh kerajaan Sriwijaya yang kemudian mempunyai dua orang putri, yaitu Tiesi dan Caul. Caul dinikahkan dengan sepupunya yang bernama Biangseng. Akhirnya Caul meninggal dan kemudian Biangseng dinikahkan dengan adiknya yaitu Teisi.

Dari pasangan Biangseng dan Tiesi kemudian dikaruniai anak bernama Cabun. Setelah meninggal, Biangseng oleh Sriwijaya dikuburkan di Ampel dan diberi gelar Tumenggung Ongkowijoyo. Orang-orang Pasongsongan mengklaim bahwa Ongkowijoyo yang berguru langsung ke Sunan Ampel itu adalah nenek moyang mereka. Mereka menyebutnya dengan “Pujuk Ampel”.

Disebutkan dari hasil observasi, bahwa proses migrasi etnis Cina ke Sumenep diperkirakan pada abad ke 14. Sebagian keturunan Biangseng kemudian diambil menantu oleh kerajaan Sumenep pada masa Arya Wiraraja karena Biangseng sendiri adalah dari kalangan Bangsawan Cina sehingga mudah diterima oleh keluarga kerajaan Sumenep.

Orang-orang Cina keturunan di kampung ini meyakinkan bahwa, nenek moyang mereka ini merupakan murid langsung dari Sunan Ampel di Surabaya. Tidak hanya itu, disebutkan juga bahwa ketika menetap di Pasongosngan, di sana juga terdapat murid Sunan Ampel yang lain yang bernama Kyai Ali Akbar yang kemungkinan besar dikirim untuk menyebarkan dakwah Islam dan sesepuh Cina itu menambah ilmu keislamannya kepadanya. Bersama ulama ini Islam disebarkan di daerah Pesisir utara Madura.

(dinukil dari Islamic Civilization, judul asli: Islam di Madura, Legenda dan Fakta)

Tulisan diatas menyalin dari : lontarmadura.com

Editor : Jiddan

Email Autoresponder indonesia