Jelang Masa Panen, Petani ‘Daun Emas’ di Sumenep Kebingungan

Petani di Kabupaten Sumenep ketika menyiram tembakau di lahannya. (FOTO: Sai)

SUMENEP, MADURACORNER.COM- Menjelang masa panen, petani tembakau di Kabupaten Sumenep merasa kebingungan. Penyebabnya, hingga saat ini belum ada patokan harga standar minimal dari pabrik untuk tanaman yang dikenal dengan sebutan daun emas itu.

Salah satu petani tembakau Somad (45) warga Kecamatan Pasongsongan mengatakan, sebagian petani di daerahnya sudah panen. Bahkan, ada yang sudah menjual hasil panen tembakau itu ke pedagang.

“Hanya saja harganya sangat murah kisaran Rp 35.000- Rp 40.000 per kilogram, tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan,” keluhnya, Rabu (1/8/2018)

Menurutnya, biaya yang dikeluarkan untuk membayar pekerja mengalami peninggkatan setiap tahun. Kemudian, ditambah biaya operasional pengairan setiap satu tangki air sebesar Rp 125.000.

“Air harus beli karena tidak punya sumber pengairan,” ucapnya.

Somad menambahkan, kualitas tembakau tahun ini sangat bagus karena pengaruh cuaca panas. Musim kemarau memang cocok untuk kondisi tanaman tembakau. Oleh sebab itu, tidak ada alasan untuk membeli tembakau dengan harga murah.

”Petani menginginkan harga tembakau di atas Rp 60.000 per kilogram,” harapnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Sumenep Tolabuddin mengatakan, kebutuhan tembakau tahun ini untuk pabrik maupun gudang tidak ada kejelasan.

“Hal itu berakibat pada minimnya petani yang menanam tembakau,” tuturnya.

Tolabuddin memaparkan, jumlah petani yang menanam tembakau hanya sekitar 40 persen yang tersebar di 14 kecamatan penghasil tembakau di Kabupaten Sumenep.

“Harganya harus berpihak pada petani, karena yang menanam sedikit,” katanya.

Sejauh ini sambung Tolabuddin, belum ada regulasi yang melindungi nasib petani tembakau. Sehingga, petani sangat bergantung kepada pabrik dan gudang selaku pihak yang mengakomodir hasil panen tembakau.

“Belum ada kabar dari pabrik dan gudang kapan akan membeli tembakau petani,” tandasnya. (*)

Penulis: Sai

Editor: Riyan Mahesa