Jimpitan

2043 views
Jimpitan,5 / 5 ( 1voting )

image

Tuban, maduracorner.com – Sembari menjalani terapi untuk menyembuhkan benjolan sebesar biji salak yang sudah bersemayam di leher kananku selama lima tahun, saya berkeliling di sekitar lokasi terapi. Lokasi terapi berada di desa Gedongombo, kecamatan Semanding, kabupaten Tuban. Berjarak tiga kilometer dari pusat kota Tuban. Nampak beberapa potongan botol maupun tutup botol air mineral yang digantung di tiap pagar rumah warga.

Karena penasaran, kutanyakan hal tersebut pada salah satu warga. “Itu namanya jimpitan,” jawabnya. Memang kata tersebut pernah akrab di telingaku waktu masih kecil dulu di Pati-Jawa Tengah. Namun, istilah jimpitan berangsur terlupakan setelah sekian lama di perantauan, seiring dengan mulai memudarnya kegiatan jimpitan itu sendiri.

Jimpitan, berasal dari istilah bahasa Jawa jimpit: yakni kegiatan mengambil sesuatu dengan posisi jari seperti menjumput. Karena hanya menjumput, berarti yang diambil hanya sesuatu yang berjumlah sedikit atau kecil. Kemudian istilah jimpitan menjadi lekat dengan kegiatan menyediakan beras sejumput untuk diambil oleh warga yang sedang melakukan ronda atau dalam istilah orde baru: SISKAMLING.

Beras-beras yang disediakan oleh warga kemudian dikumpulkan oleh petugas ronda yang berkeliling ke tiap-tiap rumah pada malam hari. Biasanya tengah malam hingga dini hari. Mengumpulkan beras jimpitan sekaligus patroli ke rumah-rumah warga untuk mencegah terjadinya tindak kriminal. Beras tersebut kemudian dijual, uang hasil penjualan beras jimpitan dijadikan uang kas keamanan.

Dalam satu RT (rukun tetangga) biasanya terdapat tujuh kelompok warga yang bergiliran melakukan Jimpitan selama satu minggu. Masing-masing anggota kelompok ronda akan merasa malu jika tidak ikut atau jarang bergabung dengan kelompoknya untuk melakukan ronda.

Lambat laun, budaya jimpitan mulai banyak ditinggalkan. Baru beberapa bulan terakhir, kegiatan jimpitan mulai digalakkan oleh warga sekitar tempatku menjalani terapi. Jimpitan kembali digalakkan karena meningkatnya angka kehilangan benda berharga (terutama sepeda motor) milik warga setempat, lebih-lebih pada malam hari.

Tidak lagi menggunakan beras, warga menyisihkan uang pecahan kecil seikhlasnya, mulai dari koin 500 rupiah untuk di-jimpit. Jika dalam satu RT terdapat 100 rumah, maka uang yang terkumpul bisa mencapai 50 ribu rupiah tiap malamnya. Dalam satu bulan, bisa terkumpul sekitar 1,5 juta rupiah. Uang yang terkumpul bisa digunakan untuk keperluan warga, misalnya untuk biaya perayaan tujuh belas Agustus, atau untuk membeli perlengkapan umum yang dibutuhkan warga. Tidak heran, jika gardu yang digunakan untuk ronda sudah dilengkapi dengan TV layar datar berukuran cukup besar.

Dalam satu budaya jimpitan, tersaji beberapa konsep tentang harmoni sosial, solidaritas sosial, norma sosial dan tentu saja konsep tentang rasa aman. Jimpitan bukanlah hal yang bertentangan dengan pengamanan yang dilakukan oleh institusi resmi milik negara, semisal polisi mapun hansip. Jimpitan merupakan pilihan alternatif yang memang memiliki akar budaya cukup kuat, terutama di masyarakat Jawa.

Kota Tuban bukanlah kota asing bagiku. Bertahun-tahun Tuban menjadi salah satu kota yang harus kulalui ketika hendak mudik ke Pati. Tahun 2006, awal bekerja sebagai wartawan TV lokal Jawa Timur (JTV) saya menderita gejala tifus. Karena tidak ada sanak-saudara di Madura, saya memilih tinggal di Sidoarjo selama menjalani perawatan. Sialnya, ketika hampir dinyatakan sembuh oleh dokter, saya mengalami alergi (baca: keracunan) pil antibiotik. Efek yang ditimbulkan dari alergi antibiotik berupa batuk, keluar keringat dingin, gatal di sekujur tubuh, dan keluar bintik-bintik merah di kulit.

Pil antibiotik yang membuatku alergi, diresepkan dokter sebagai antibiotik pengganti dari antibiotik yang sudah kuminum sebelumnya karena stoknya habis. Ini dokter apa juru tulis resep? Kok pasien dibuat coba-coba? Gerutuku.

Efek selanjutnya, kedua kakinya tidak bisa ditekuk. Untuk berjalan ke kamar kecil harus dipapah. Pun ketika di dalam kamar kecil, harus buang air besar dan kecil dengan cara berdiri karena tidak bisa jongkok.

Meski belum benar-benar sembuh, saya memutuskan untuk mengikuti saran agar berangkat ke Tuban untuk mengambil air minum di salah satu sumur tradisional di kota Tuban. Hanya bermodal nekat, saya berangkat naik bus ke Tuban. Tidak perlu pertimbangan logis, apalagi pertimbangan berbelit-belit.

Singkat cerita, kesehatanku kemudian berangsur-angsur pulih. Ternyata, nekat merupakan modal penting selama menjalani pengobatan. Tanpa nekat, kita akan mudah putus asa ketika didera dengan rasa sakit yang timbul saat kita sedang menjadi pasien.

Begitu juga dengan saat ini, di tahun 2015 ini, saya kembali nekat untuk mengobati benjolan di leher kananku ke Tuban. Benjolan ini disebabkan adanya penyakit TBC kelenjar (penyakit yang disebabkan bakteri tuberkulosis). Bakteri tuberkulosis yang kita kenal biasanya menyerang paru-paru hingga menyebabkan batuk. Ternyata, bakteri tuberkulosis juga bisa menyerang ke kelenjar getah bening maupun tulang.

Kata dokter onkologi di Surabaya, TBC kelenjar yang kuidap tidak ganas. Dokter menyuruhku menjalani pengobatan selama setengah tahun dengan rutin meminum obat TBC. Tidak boleh putus. Kalau putus satu hari saja, harus mengulang dari awal, katanya.

Alhamdulillah, benjolan di leher kananku tidak membesar, tetapi tetap ada. Benjolan yang bercokol di dalam tubuh, bisa berubah ganas jika kondisi ketahanan tubuh kita mengalami penurunan, atau juga karena bertambahnya usia. Karena khawatir suatu saat berubah jadi ganas, kupilih untuk mengobati benjolan ini.

Setelah menggeluti berbagai pengobatan dengan penanganan medis, kali ini saya mencoba terapi alternatif. Memang, pengobatan alternatif tidak memiliki bukti ilmiah yang bisa diuji berulang-ulang. Suatu hasil penelitian medis bisa disebut ilmiah jika hasil tersebut memiliki beberapa syarat, salah satunya hasilnya harus reliable, terukur dan tetap. Artinya, pengobatan dengan cara medis untuk mengobati suatu penyakit merupakan hasil penelitian berulang-ulang yang hasilnya harus tetap atau sama ketika diuji di manapun oleh siapapun.

Sedangkan pengobatan alternatif lebih cenderung dikategorikan sebagai cara pengobatan yang sekadarnya, tradisional, tidak ilmiah bahkan ada yang mengategorikannya ke dalam klenik. Tidak ilmiah, karena cara pengobatan alternatif yang dilakukan oleh seorang terapis belum tentu cara tersebut bisa dipraktekkan oleh terapis lain. Tolok ukurnyanya pun hanya berdasarkan pengakuan dari para pasien yang berhasil sembuh. Biasanya, kemampuan melakukan pengobatan alternatif dilakukan berdasarkan kemampuan yang ‘diwariskan’ dari orang tua maupun leluhurnya.

Lha, Jimpitan juga masuk kategori cara alternatif, yakni cara alternatif dalam mengelola keamanan kampung. Sedangkan cara mainstream selama ini yang kita kenal adalah cara pengelolaan keamanan yang ditawarkan oleh aparat keamanan resmi baik polisi maupun hansip.

Pengobatan alternatif menawarkan dua hal, pengobatan dan usaha untuk sembuh. Tidak jauh beda dengan dua hal yang sama juga ditawarkan oleh pengobatan ala medis, pengobatan dan usaha untuk sembuh.

Dengan cara medis sudah saya lakukan, hasilnya belum sembuh total. Apakah dengan cara alternatif dijamin pasti sembuh total? Belum tentu juga, namanya juga usaha. Bismillah!!!

Penulis : Buyung Pambudi

Email Autoresponder indonesia