Kemoterapi ‘Si Pencabut Nyawa’ ? (Kisah Penderita Kanker Bagian 2)

Tulips

Guangzhou, Maduracorner.com – Hari kedua di Guangzhou pada Minggu (4/1/2015), dan beberapa hari setelahnya, ternyata kami tidak sendiri. Banyak kisah lebih tragis, lebih menyedihkan, dan lebih mengharukan keluar dari mulut keluarga pasien yang juga mencari pengobatan di sini. Ada pasien kanker rahim bernama Afi (32 tahun) asal Serpong, Tangerang Selatan Provinsi Banten yang sudah pernah menjalani pengobatan di salah satu rumah sakit di Penang-Malaysia. Si pasien sudah merasakan dahsyatnya sebelas kali dikemoterapi. Bukan sembuh yang didapat, melainkan kondisi tubuh yang terus mengalami penurunan tiap selesai kemoterapi.

Ratusan juta rupiah tandas sudah untuk menebus sebelas kali kemoterapi yang belum tentu mampu menghadirkan kabar baik. Nyatanya, kabar buruk yang justru hadir. Kondisi istrinya terus menurun hingga berada di titik yang sangat memperihatinkan. Satu kali kemoterapi, ia harus mengeluarkan biaya antara 25-28 juta rupiah itu belum termasuk biaya kamar, obat maupun biaya ‘riwa-riwi’ Serpong-Penang. Sebelas kali kemoterapi ia jalani selama pengobatan hampir satu tahun sejak akhir tahun 2013 hingga oktober 2014. Tak terbayangkan, betapa kuatnya ia menahan rasa sakit yang ditimbulkan akibat kemoterapi.

Sekedar gambaran, kemoterapi konvensional biasanya akan menimbulkan rasa di sekujur tubuh seperti terbakar hebat sesaat setelah cairan kemoterapi disuntikkan melalui saluran infus. Tidak sedikit pasien yang bereaksi seperti cacing bergeliat kepanasan di bawah terik mentari. Dan, Afi harus menjalani kondisi seperti itu sebanyak sebelas kali, catat! sebelas kali kemoterapi.

Kemoterapi konvensional ditujukan untuk membunuh sel-sel kanker di dalam tubuh yang cenderung berkembang secara cepat. Celakanya, bahan kimia di dalam kemoterapi juga merusak ‘sel-sel baik’ yang berkembang di dalam tubuh misalnya sel penumbuh rambut (folikel/akar rambut), sel di sumsum tulang belakang, dan pencernaan. Efek samping kemoterapi konvensional dengan mudah kita kenali dengan adanya gejala rambut rontok, radang lambung, rasa mual, dan pusing.

Paul (41 tahun), suami Afi menceritakan kisah ‘siksaan’ kemoterapi yang diderita istrinya dengan nada datar. Tak nampak raut sedih, atau mata berkaca-kaca layaknya orang yang menceritakan kesusahan dalam hidup. Mungkin rasa sedih dan getir sudah ia akrabi selama setahun hingga membuatnya berada di level ‘tawakkal’, pasrah atas semua yang sudah digariskan oleh Yang Maha Pemberi Sehat.

“Berusaha itu suatu keharusan, tetapi pasrah setelah berusaha itu juga bagian yang sangat penting,” ujarnya dengan nada datar.

“Memang dokter bukan Tuhan, tapi saya harus terus mencari cara agar istriku bisa diobati. Akhirnya, saya mencoba pengobatan di Guangzhou. Setelah dua bulan pengobatan, perlahan tapi pasti kondisi istriku mulai membaik,” imbuhnya, sekali lagi dengan nada datar.

Lain lagi kisah Arif (41 Tahun), orang asli Madiun yang lama tinggal di Jakarta. Ia awalnya mengalami keluhan nyeri yang cukup mengganggu di bagian telapak kaki hingga membuat dirinya tidak bisa tidur lelap selama dua minggu. Nyerinya semakin bertambah ketika jari kelingking kaki kanannya terluka, ia tidak bisa bekerja dengan kondisi seperti itu. Arif sempat kesal sekali ketika salah seorang dokter di Jakarta yang sudah bergelar profesor dengan lima gelar akademik tidak memberikan jawaban bijak ketika Arif bertanya perihal apa penyebab penyakit yang dideritanya. “Panyakit yang anda derita datangnya dari Tuhan,” kata dokter tersebut. Lantas, dokter di Jakarta mengambil tindakan memotong jari kelingking kaki kanannya.

Meski jari kelingkingnya sudah dipotong, rasa sakit yang dia derita masih muncul. Kemudian dia memutuskan berobat ke Singapura. Selama hampir setahun, dia harus bolak-balik Jakarta-Singapura untuk berobat selama 12 kali. Tanpa diberitahu penyakit apa yang dia derita, Arif rutin membeli obat sesuai resep dokter di Singapura. Sekali membeli obat, dia menghabiskan sekitar 10 juta rupiah. Rasa sakit yang menderitanya mulai berkurang, namun akan kambuh lagi jika efek obat yang selama ini dikonsumsinya habis.

Tanpa tahu penyakit apa yang dia derita dan belum tahu sampai kapan harus berhenti mengkonsumsi obat, Arif mengambil langkah berani dengan memeriksakan diri ke Guangzhou. Dari hasil pemeriksaan dokter di Guangzhou, Arif menderita gejala leukemia (kanker darah). Perlahan tapi pasti, kondisi Arif terus menunjukkan peningkatan yang cukup berarti selama menjalani pengobatan di Guangzhou.

Tetapi, penting untuk dicatat juga bahwa bukan berarti tidak ada pasien kanker yang sembuh setelah kemoterapi. Banyak juga pasien kanker yang sembuh setelah menjalani kemoterapi. Sebagai pengobatan modern yang masih dipraktekkan di banyak tempat, kemoterapi juga masih dinilai sebagai ‘jalan terakhir’ oleh sebagian besar dokter di Indonesia dan Asia Tenggara bahkan Australia untuk membunuh sel kanker.

Lalu, pengobatan model apa yang digunakan di Guangzhou?

By : Jiddan

Email Autoresponder indonesia