Kerapan Sapi Berakhir Ricuh, 1 Orang Terkena Sabetan Celurit

6514 views

image

Sampang, maduracorner.com – Kerapan sapi babak semifinal tingkat kabupaten di Sampang, Madura berakhir dengan kericuhan senin siang (29/9/2014). Keributan antar pendukung sapi kerap ini terjadi di lapangan atau arena pacuan kerapan sapi. Puluhan orang dari dua belah pihak awalnya saling pukul atau hanya memakai pecut saja. Namun kemudian terlihat sebagian diantara mereka menenteng senjata tajam.

Keributan ini bermula saat pendukung pasangan sapi kerap ‘Bentar Alam’ milik Nawaki, warga Torjun, Sampang memprotes hasil lomba. Mereka tidak puas atas keputusan panitia atau juri kerapan sapi yang memenangkan pasangan sapi kerap ‘Jet Matic’ milik Sahid, warga Ketapang, Sampang.

Aksi protes di depan panggung juri ini berubah jadi panas karena juri atau panitia tidak menanggapi protes mereka. Kericuhan makin melebar antara pendukung pasangan sapi kerap ‘Bentar Alam’ dengan pendukung sapi kerap ‘Jet Matic’.

Dari keributan kecil saling pukul tangan kosong dan memakai pecut, kedua pihak mulai beringas. Mereka bahkan mengeluarkan senjata tajam yang kemungkinan sudah dipersiapkan sebelumnya. Mulai celurit hingga pedang. Senjata tajam tersebut dibawa ke tengah arena pacuan kerapan. Beberapa orang terlihat saling kejar dengan senjata tajam terhunus.

Tiba-tiba 1 orang roboh. Ia mengalami luka di tubuhnya. Korban pun segera digotong ke pinggir lapangan oleh sejumlah panitia.

Beruntung, panitia kerapan yang dibantu aparat TNI/Polri dan tokoh masyarakat setempat mampu melerai kedua pihak. Bahkan beberapa kali terdengar letusan pistol aparat yang berusaha membubarkan massa. Khawatir kericuhan ini berubah menjadi bentrokan yang semakin meluas, pihak panitia terpaksa menghentikan kerapan sapi.

Menurut salah seorang panitia kerapan, babak final kerapan sapi tingkat Kabupaten Sampang akan kembali dilanjutkan setelah situasi dirasa aman. “Untuk sementara kita hentikan dulu. Ini juga atas saran dari aparat keamanan”, katanya kepada maduracorner.com seraya menolak berkomentar lebih lanjut.

Amrul Hadi, salah seorang penonton kerapan sapi asal Jrengik mengatakan, pihak panitia seharusnya lebih tanggap dengan situasi seperti ini. Termasuk menambah personil keamanan. “Ini kan sudah masuk babak akhir tingkat kabupaten. Persaingan pasti dengan tensi tinggi. Kalau ribut seperti ini, kerapan sapi menjadi tidak enak ditonton”,sungutnya seraya berlalu ke tempat parkir sepeda motor. “Pulang saja mas”,tambahnya dalam bahasa Madura yang kental.

Bagi masyarakat Madura, adu kerapan sapi memang bukan semata-mata persoalan menang dan kalah. Namun juga menyangkut prestise atau gengsi dan harga diri pemilik kerapan sapi. Maka setiap pagelaran kerapan sapi, mereka (para pemilik sapi kerap) akan berlomba untuk menjadi yang terbaik. Bukan hendak mengejar hadiah yang disediakan panitia. Tapi demi gengsi mereka sebagai juragan sapi kerap.

Di sisi lain, kasus ini menjadi peringatan keras bagi setiap panitia kerapan sapi. Agar lebih memperketat pengamanan dari unsur TNI/Polri. Bahkan panitia perlu kiranya secara terus menerus memberi himbauan atau bahkan larangan membawa senjata tajam ke lokasi kerapan sapi.