Keset dan Bros berbahan Kain Sampah Kreasi Ibu PKK Kelurahan Mlajah

Kelompok buta aksara Keluhan Mlajah, Bangkalan, membuat keset dari sampah kain-Foto: Son Putra/MC.com

Maduracorner.com,BangkalanРSekelompok ibu rumah tangga di Kelurahan Mlajah, Kecamatan Bangkalan, sedang menggelar tikar di lantai kantor kelurahan. Mereka adalah ibu-ibu tergabung kelompok buta aksara yang sedang belajar baca dan tulis, di kelurahan tersebut. Kegiatan kali ini bukan untuk unjuk  baca dan tulis. Karena mereka sudah cukup mahir. Mereka akan menunjukkan kemampuannya untuk membuat keterampilan membuat keset dan bros, yang bernilai ekonomis.

Menariknya, bahan baku untuk pembuatan keterampilan jahit menjahit ini, diambilkan dari sampah kain perca. Yaitu potongan-potongan kain dari tukang jahit yang sudah jelas tidak terpakai. Kain ini sudah harus dibuang ditempat sampah.

Namun dengan ide dan kreatifitas kelompok ibu buta aksara yang tergabung di kelompok “Seruni”, barang sampah ini akan disulap menjadi barang yang bisa dijual. Mereka ingin menunjukkan pada masyarakat luas, meski dia masuk taraf belajar dan menulis, mereka sudah bisa berwirausaha meski kecil-kecilan. “Kami ingin dari belajar kelompok ini, selain bisa membaca dan menulis. Kami bisa belajar bersama berwirausaha dengan teman kelompok,” kata Siti Jemari, Ketua Kelompok ‘Sruni’, Minggu (30/9).

Bahan untuk membuat keset dan bros ini adalah potongan kain warna-warni. Karena di tempat pemotongan kain paling banyak potongan kain batik (era batik), bahan bakunya kain batik. Kedua disiapkan gunting, jarum, dan benang.
Pertama yang dilakukan memotong kain kecil-kecil ukuran 5×5 cm. Ada sekitar 200 potongan kain yang disiapkan. Selanjutnya kain itu dilipat-lipat hingga membentuk segitiga. Selanjutnya lipatan kain segitiga kecil-kecil ini siap dijahitkan ke alas kain sekitar ukuran 40 x 20 cm.

Sebanyak 10 ibu ini sudah bisa menjahit pecahan kain untuk dibaat keset. “Keset dari kain ini bolak-balik. Alas kain ditempeli segitiga potongan kain depan dan belakang,” ujar Siti Jumari.

Untuk mebuat satu keset ini dibutuhkan hingga dua hari. Setelah keset jadi, lalu dimasukkan dalam kemasan plastik, dan siap dijual. “Harga keset ini Rp 25 ribu. Keuntungan yang didapat ibu-ibu ini Rp 15 ribu setiap kesetnya,” ungkapnya.
Selain belajar membuat keset, anggota kelompok ini dipelajari mebuat bros dari kain. Bahannya sama potongan kain batik. Ditambah manik-manit dari plastik. Untuk membuat bros ini ada sebayak 5 potongan kain segitia kecil-kecil. Pembuatan bros lebih mudah. Setiap hari setiap anggota bisa membuat dua hingga lima bros. Harga bros dijual Rp 2 ribu/biji

Bagi ibu-ibu ini kegiatan ini sangat menguntungkan, dua lipat. Pertama, sekarang setelah tiga bulan berjalan di kelompok buta aksara, bisa membaca dan menulis. Kini mereka bisa membuat keterampilan bernilai ekonomis.

“Senang belajar di kelompok belajar ini. Nantinya setelah selesai dari kelompok belajar ini, saya bisa mempraktekkannya sendiri di rumah,” ujar Munawaroh, anggota kelompok belajar ini. Bagi mereka suatu keuntungan tersendiri belajar di kelompok ‘Sruni’. Apalagi kebetulan kelaurga mereka dari golongan ekonomi lemah. Sebagian besar, suaminya bekerja sebagai tukang becak, kuli bangunann dan lainnya. “Alhamdulillah, dengan kegiatan ini, keuntungan yang saya dapat dua. Bisa membaca-menulit, belajar keterampilan,” kata Munirah, anggota lainnya.

Nurjannah dari tim penggerak PKK Kapuaten Bangkalan mengatakan sangat senang dengan kegiatan ibu-ibu ini yang juga tidak lepas dari pembinaan ibu PKK Kecamatan dan Kelurahan. “Kami terus melakukan pembinaan bagi ibu-ibu ini. Paling tidak hingga Oktober ini, mereka terus berlatih agar hasil karyanya lebih baik lagi,” katanya.

Dikatakan nantinya setelah hasil keterampilan mereka berkembang, kendalanya di bidang pemasaran. “Kalau hasil karyanya bagus, pasti dicari orang,” katanya. (Son)

Email Autoresponder indonesia