KH. Alawy Muhammad, Tegas Membela Rakyat Kecil

794 views

106_20141111_102410

Bangkalan,Maduracorner.com – Bagi warga Pulau Madura, nama KH Alawy Muhammad sudah tidak asing lagi. Tokoh dan ulama Madura yang satu ini, memang dikenal keras dan tegas dalam berjuang untuk membela rakyat kecil, khususnya kaum petani di Sampang, Madura, Jawa Timur.

Perjuangan dan pembelaan KH. Alawy ini, dibuktikan ketika terjadi pembebasan tanah ratyat untuk pembangunan waduk di Nipah Sampang, yang kemudian dikenal dengan sebutan tragedi Nipah.

Kala itu, tepatnya pada 25 September 1993, tokoh ini getol membela petani Sampang yang terdampak pembangunan Waduk Nipah di Kecamatan Banyuates, Sampang. Pada saat itu masyarakat Banyuites menilai tempat tinggal bukan sekedar bermakna ekonomis, namun juga bermakna kultural, yakni tanah dipahami sebagai sebuah pusaka, peninggalan leluhur yang harus dijaga, dirawat dan dipertahankan. Tanah pusaka, atau tanah warisan bagi warga Nipah dan Madura pada umumnya, tidak boleh dijual, karena merupakan bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah mewariskan tanah itu sebagai pusaka.

Namun, tampaknya pemerintah saat itu hanya melihat bahwa masyarakat Nipah yang meliputi delapan desa membutuhkan sebuah waduk irigasi untuk meningkatkan penghasilan pertanian menjadi dua kali lipat. Hal itu karena pemerintah melihat wilayah Nipah itu hanya sebagai hamparan lahan kering yang tak bermakna, sehingga perlu dimanfaatkan.

Dalam proses pembebasan tanah, masyarakat pemilik tanah tidak dilibatkan, sehingga menimbulkan reaksi keras dari pemilik tanah. Pemerintah dalam hal Pemkab Sampang kala itu tidak mengindahkan penolakan warga, bahkan melibatkan aparat keamanan, yakni TNI. Kebijakan tidak kooperatif pemerintah inilah yang menjadi perhatian KH Alawy Muhammad untuk melakukan advokasi kepada masyarakat di sekitar lokasi pembangunan waduk Nipah Sampang.

Pada masa Orde Baru masih berkuasa, siapa asaja yang melawan kebijakan pasti akan habis, dan KH. Alawi menyadari risiko itu. Bukan hanya itu, gebrakan ulama Sampang ini juga dikenal sebagai tokoh yang berani memprotes kecurangan pemilu yang terjadi pada tahun 1997 oleh penyelenggara pemilu dan pemerintah kala itu.

Ketegasan serta komitmennya membela kaum tertindas menjadikan ulama ini disegani oleh banyak orang dan menjadi sangat terkenal di Pulau Madura, bahkan menjadikan catatan tersediri dalam pemberitaan nasional. Karisma dan sikap pemberani KH Alawy Muhammad diakui oleh masyarakat Madura, dalam memperjuangkan hak-hak rakyat dikenal kritis terhadap pemerintahan. Di sisi lain, KH Alawy Muhammad juga dikenal sebagai tokoh nasionalis. Bahkan, sebelum meninggal dunia, almarhum berwasiat agar masyarakat mengamalkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Dari Keluarga Petani

Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) At-Taroqi, Dusun Tanggumung, Desa Karongan, Sampang, Madura ini, mempunyai latar belakang beda dibanding para pimpinan Ponpes atau KH. umumnya di Madura, yaitu bertanggung jawab secara regenerasi pumpinan keluarga Ponpes sebelumnya.

Namun tidak bagi KH. Alwy, sebagai pengasuh Ponpes bukan karena warisan orang tuanya, namun justru dari kalangan orang biasa, yakni dari keluarga petani. Ihwal ia sampai memimpin pondok kini, karena pengelola Ponpes sebelumnya meninggal dalam usia muda, pada saat Ponpes sekitar 2.000 santri, putra dan putri. Ia dibantu dua dari 11 anaknya mengelola Ponpes At Toriqqi.

Semasa masih muda, KH. Alawy bahkan sempat merantau ke Jawa dengan menjadi pedagang, sebagaimana kebanyakan warga Madura pada umumnya. Bahkan pada usia 27 tahun KH Alawy menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah hingga tiga kali berturut-turut dan yang terakhir pada tahun 1985. Ketika itulah, ia belajar agama kepada ulama-ulama ternama di Mekkah, selain sebagai kepala keluarganya sendiri di Sampang, Madura.

Selain memimpin At Toriqqi KH. Alawy terjun dalam dunia politik karena tokoh kharismatik ini berkeyakinan bahwa terjun di dunia politik merupakan keharusan, dan politik merupakan media dakwah. Meski baginya, politik merupakan keharusan dan umat Islam harus masuk dalam wadah partai politik yang berideologi Islam, namun KH. ini justru menolak jika negara berasaskan Islam atau membentuk negara Islam.

Alawy pernah terlibat pada Partai Bintang, adalah keyakinannya bahwa politik hukumnya fardu ain alias wajib bagi umat Islam. Pada awalnya, KH. Alawy pendukung Nahdlatul Ulama. Kemudian ia selalu berkampanye untuk PPP, karena itulah wadah umat Islam untuk berjuang di bidang politik. Sebab, katanya, salah satu program PPP adalah amar ma’ruf nahi munkar, peluklah kebajikan, dan jauhilah kemungkaran. Meski kemudian ada asas tunggal, semua partai berlandasakan Pancasila, bagi KH. Alawy secara internasional PPP, ya, partai Islam. “Dan secara intern, PPP itu, ya, partainya orang Islam,”

Berpulang ke Rahmatullah       

Pria yang akrab dipanggil Ra Izzu ini juga tidak begitu banyak menjelaskan perihal keluhan almarhum sebelum wafat. Dia menyatakan faktor usia yang sudah sepuh yang membuat almarhum tidak bisa banyak beraktivitas dan akhirnya meninggal dunia. Kiai Alawi lahir di Dusun Tenggumung, Desa Karongan, Sampang, pada 1928.

Ulama kharismatik di Pulau Garam, Madura yang berpulang ke Rahmatullah pada hari Senin 10 Nopember 2014 sekitar pukul 16.30 WIB.

Penulis : Syaf Anton

Editor  :  Jiddan

Sumber : http://www.lontarmadura.com

Email Autoresponder indonesia