Kostarika, Kejutan Besar Sang Pembunuh Para Raksasa! (Bagian 2)

Skuad Timnas Kostarika( foto : Reuters)

Skuad Timnas Kostarika( foto : Reuters)

Gol Bryan Ruiz Bekuk Italia 1-0 | Oleh Mamad el Shaarawy

maduracorner.com, Bangkalan – Pasca membantai Uruguay dengan skor 3-1, kejutan Kostarika terus berlanjut. Kali ini Timnas Italia yang menjadi korban
Los Ticos dengan skor tipis 1-0 (21/6)
. Hasil ini sudah cukup membawa Bryan Ruiz dkk untuk lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2014.
 
Sebelum laga ini berlangsung, ada 2 kemungkinan yang disuarakan orang. Baik oleh pengamat sepakbola maupun para pencinta si kulit bundar tersebut. Kemungkinan pertama, Italia akan memenangkan pertandingan. Menurut mereka, kemenangan Kostarika atas Uruguay hanyalah kejutan sesaat dan kebetulan belaka. Kemungkinan kedua, Kostarika bakal kembali memetik 3 poin. Bahwa apa yang mereka lakukan bukan sebuah kebetulan. Tapi berkat pilihan strategi/taktik permainan pelatih serta kerja keras para pemain.

Di awal laga, semua masih berjalan normal. Dalam arti Timnas Italia sebagai tim mapan dengan para bintangnya mampu melakukan dominasi permainan. Pelatih Cesare Prandelli tetap pakem memakai pola
direct pass yang membuat tim lawan kesulitan mengembangkan permainan mereka. Alhasil, para pemain Kostarika memilih merapatkan barisan pertahanan mereka daripada kebobolan lebih dulu.

Apalagi La Nazionale memang memiliki sejumlah peluang bagus yang mengancam pertahanan mereka termasuk lewat kaki Mario Balotelli.
Dominasi tersebut berlangsung hanya di 30 menit pertama saja. Karena apa mau dikata, orang Eropa tak tahan panas. Cuaca tropis Brazil membuat stamina para pemain Italia mulai keteteran.

Di sisi lain, skuad Kostarika yang berasal dari wilayah sub tropis lebih bisa menyesuaikan dengan kondisi cuaca tersebut. Mereka pun tetap fokus dan mampu melakukan
preassure ketat terhadap para pemain Italia yang memegang bola. Dan lama kelamaan, dominasi Andrea Pirlo cs mulai runtuh.

Anak asuh J Pinto mulai bisa mengimbangi permainan lawannya. Mereka pun sesekali melakukan serangan balik cepat yang langsung menusuk ke jantung pertahanan lawan melalui aksi Christian Bolanos.
 
Yang mengherankan, Cesare Prandelli tampaknya tidak belajar banyak dari apa yang terjadi Timnas Uruguay. Meski awalnya pola direct pass sukses diperagakan Andrea Pirlo, nama lama kelamaan mentok menghantam kokohnya tembok pertahanan Los Ticos.

Pelatih Kostarika Jorge Luis Pinto juga tetap memakai pakem dia seperti saat mengalahkan Uruguay. Secara matang formasi 4-5-1 dia persiapkan. Lima gelandang menumpuk ditengah guna meredam agresifitas dan kreatifitas Italia macam Pirlo, De Rossi, Motta maupun Marchisio.
 
Bryan Ruiz dkk pun secara cerdik berusaha menarik para pemain Italia utamanya gelandang untuk melewati garis tengah lapangan. Namun saat bola berpindah ke kaki mereka, secara cepat pula mereka melakukan
counter attack mematikan lewat Joel Campbell, Bryan Ruiz, Celso Borgez dan Christian Bolanos untuk meneror pertahanan Gli Azzuri. 

Pujian layak diberikan pada Matteo Darmain dan Ignazio Abate. Mereka beberapa kali sukses menahan serbuan dari sektor sayap. Kecepatan keduanya juga mampu menutupi kelemahan duet centreback di jantung pertahanan Italia, Andrea Barzagli – Giorgio Chiellini yang memang memiliki masalah pada kecepatan.
Namun lama kelamaan jebol juga soliditas pertahanan Italia.

Hal ini berawal dari rasa frustasi yang berpadu dengan kecapekan akibat didera cuaca panas Brazil bercampur menjadi satu. Petaka pun datang. Dari sebuah umpan silang akurat fullback Junior Diaz, sang kapten sekaligus striker Kostarika Bryan Ruiz mampu meng-heading bola dengan sempurna. Bola pun meluncur menembus gawang Italia yang dikawal Buffon. Chiellini yang juga gagal membersihkan bola
crossing matang tersebut hanya termangu.
 
Gol di penghujung babak I ini pun disambut riuh seisi stadion. Meski 2/3 penonton di Itaivapa Arena Pernambucano, Recife tersebut adalah penonton netral, tapi nampak jelas mereka senang melihat tim liliput kembali mengejutkan tim raksasa. Mereka berjingkrak ikut senang melihat tim besar tersiksa. Ini memang anomaly dari sebuah pertandingan sepakbola modern. Tim kecil akan lebih banyak mendapat dukungan dari para penonton/supporter netral.
 
Para punggawa La Nazionale seperti tersengat. Baik pemain maupun sang
allenatore Cesare Prandelli.

Di awal babak kedua, dia langsung menarik Tiago Motta dan memasukkan Antonio Cassano untuk menambah daya dobrak ke gawang lawan. Ya, gelandang bertahan digantikan striker. Bahkan kemudian Prandelli kembali menambah daya gedor dengan tenaga yang lebih bugar, Alessio Cerci dan Lorenzo Insigne.
Berbagai cara dilakukan oleh mereka untuk menjebol gawang Kostarika. Umpan pendek merapat ala
cortostretto, umpan panjang atau
crossing dengan sasaran kepala Balotelli hingga tendangan-tendangan
canon ball dari luar kota penalti. Meski beberapa kali berbuah peluang emas, namun semua upaya tersebut gagal. Pertahanan La Sele tetap kokoh dan rapat.
 
Di tengah stamina yang kian menipis, mereka pun kian frustasi hingga puncaknya peluit panjang wasit melengking tanda berakhirnya pertandingan. Para punggawa
Los Ticos pun berlonjak kegirangan. Bryan Ruiz sang kapten pun dielukan sebagai pahlawan.
 
Tapi sebenarnya semua komponen tim tersebut adalah pahlawan. Mereka mampu membungkam mulut-mulut nyinyir yang meragukan kemampuan mereka. Mereka bisa membuktikan bahwa kemenangan sebelumnya saat lawan Uruguay bukanlah kebetulan dan keberuntungan semata.
 
Los Tricolore seperti anomali di grup neraka ini. Bagaimana tidak, mereka mampu melenggang lebih dulu masuk 16 besar Piala Dunia 2014 di tengah kepungan tim besar dengan seabreg pemain bintang nan berpengalaman. Apalagi ketiga tim tersebut adalah tim yang pernah merasakan manisnya mengangkat trophy piala dunia. Inggris juara sekali, Uruguay 2 kali dan Italia 4 kali. Sementara Kostarika nir juara alias belum sekalipun menjadi Campione del Mundo. 

Yang perlu diingat, kejutan yang diraih anak asuh Jorge Luis Pinto tersebut tidak melulu menuhankan sang Dewi Fortuna. Karena biasanya memang tim kejutan mengandalkan pertahanan yang kuat, bermain monoton dan berharap keberuntungan. Tapi bagi Kostarika tidak hanya itu. Mereka mampu bermain cerdas dan kolektif sebagai sebuah tim. Ada kualitas dan kerja keras yang dilakukan oleh Bryan Ruiz dkk untuk lolos.
 
Kejutan memang sudah lazim terjadi pada turnamen mayor 4 tahunan tersebut. Sebelumnya ada Ghana, Korea Selatan hingga Turki yang menjadi tim kejutan dan mampu lolos ke babak semifinal. Apakah Kostarika mampu mengikuti jejak ketiganya atau bahkan tampil sebagai kampiun di akhir pagelaran ini? Kita tunggu saja.
 
Namun jika berkaca pada pagelaran piala dunia sebelumnya, tim kejutan memang selalu ada. Namun mereka sulit sampai puncak (juara). Tradisi dan mental juara umumnya akan tetap dikuasai oleh tim-tim mapan. Masih ada Jerman, Brazil, Argentina hingga Prancis yang mempunyai amunisi lebih dari cukup untuk menghadang tim kejutan. (Bagian II Tamat, mad)