Legenda Mata Air Desa Paseraman Kamal

2173 views

tepian-kolam-kamal

Bangkalan, Maduracorner.com – Pada zaman dahulu kala, berdiri sebuah kerajaan di pulau Madura (sekitar Pamekasan, Madura). Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja yang sangat dihormati dan dicintai oleh rakyatnya. Selama pemerintahan sang raja, rakyat hidup tentram dan sejahtera. Hasil panen, air, dan perekonomian berjalan dengan lancar. Sang raja memiliki seorang putri yang sangat dicintainya. Sang putri sangat cantik dan baik hati, semua rakyat menyukainya dan mengaguminya.

Banyak pangeran dari kerajaan lain yang ingin meminangnya, namun sang putri menolak dan memilih untuk dinikahan dengan seorang pemuda petani miskin yang merupakan salah satu rakyatnya. Namun, sang raja menentang pilihan sang putri dan menolak untuk menikahkan putri semata wayangnya dengan seorang petani miskin itu.

Mengetahui hal itu, si petani miskin memutuskan untuk meninggalkan kerajaan tersebut dan pergi ke daerah lain. Sang putri pun sangat cemas dan merindukan si petani miskin yang dicintainya itu. Berbulan – bulan ia menunggu kedatangan si petani, namun ia tak kunjung kembali ke kerajaan. Akhirnya sang putri berhenti menunggu si petani dan memutuskan untuk menerima tawaran ayahnya untuk menikah dengan pangeran dari kerajaan lain.

Beberapa tahun setelah itu, keadaan kerajaan menurun dan tidak stabil. Kekeringan terjadi dimana – mana, air bersih sangat sulit diperoleh, hasil pertanian menurun drastis, rakyat kelaparan, dan banyak rakyat yang terjangkit penyakit. Sang putri dengan hatinya yang tulus mencoba membantu rakyatnya, namun malang nasib sang putri, ia terjangkit penyakit kulit yang sangat mengerikan.

Wajah cantiknya berubah menjadi buruk rupa, sang pangeran yang telah menjadi suami sang putri pun meninggalkannya. Sang putri sangat sedih dengan keadaannya, ia merasa kesepian. Sang raja pun turut sedih atas keadaan yang menimpa putrinya, ia telah mencoba beberapa pengobatan untuk menyembuhkan penyakit sang putri, namun penyakit kulit itu tak kunjung sembuh.

Pada suatu hari, seseorang menyarankan sang putri untuk mencoba pengobatan tradisional untuk mengobati penyakitnya di pulau Jawa ( sekitar kota Gresik sekarang ) yang tersohor kemanjurannya dalam mengobati penyakit seperti yang sang putri alami.

Keesokan harinya, ia pergi dengan kereta kuda bersama 4 orang pengawal. Karena perjalanan cukup panjang, ia membawa sejumlah makanan dan beberapa barang berharga. Setelah tiga hari perjalanan, tibalah sang putri di sebuah hutan, karena lelah setelah tiga hari menempuh perjalanan jauh, ia pun memutuskan untuk makan dan beristirahat sejenak.

Namun ternyata ada sekelompok perampok yang telah mengetahui keberadaan sang putri dan berniat jahat. Sekawanan perampok itu pun berhasil mengambil barang – barang berharga sang putri dan membunuh empat orang pengawal, beruntung sang putri dapat lari dari kejaran para perampok. Ia terus berlari dan berlari, sang putri sangat ketakutan dan kelelahan. Ia sendirian di tengah hutan dan tak tahu arah pulang.

Sampai akhirnya ia menemukan gubuk kecil di tengah hutan tersebut dan memberanikan diri untuk mengetuk pintu gubuk bambu itu, berharap ia dapat meminta sedikit air dan makanan. Betapa terkejutnya sang putri ternyata gubuk itu ditinggali oleh seorang pemuda tampan, ia adalah si petani miskin yang dicintainya. Sang putri amat bahagia dapat bertemu dengan pujaan hatinya itu.

Si petani sangat terkejut dengan keadaan yang menimpa wanita cantiknya itu. Ia sangat sedih telah meninggalkan sang putri sendirian dan memilih untuk tinggal sendiri di tengah hutan. Selama beberapa hari sang putri yang malang itu tinggal di gubuk bambu si petani miskin. Si petani memiliki sepetak tanah yang ditanami padi dan jagung, selama beberapa hari sang putri hanya mengkonsumsi padi dan jagung hasil panen si petani, namun sang putri sangat bahagia dan bersyukur dapat bertemu lagi dengan si petani miskin yang dicintainya itu.

Si petani ingin sang putri terbebas dari penyakit mengerikannya itu. Ia berjanji akan mengantarnya ke pulau Jawa agar penyakitnya dapat sembuh. Selang beberapa hari, mereka memutuskan untuk pergi ke pulau Jawa agar penyakit sang putri dapat segera disembuhkan. Mereka melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, karena mereka tak punya kuda untuk ditunggangi.

Mereka membawa sejumlah makanan sebagai bekal dalam perjalanan. Setelah beberapa hari berjalan, mereka tak kunjung menemukan tepi laut agar dapat menyeberang ke pulau Jawa.

Sang putri merasa sangat kelelahan dan keadaannya semakin menurun, ia tak bisa melanjutkan perjalanannya lagi. Si petani sangat cemas dengan keadaan sang putri, ia mencoba mencari desa ditengah hutan tersebut untuk meminta sedikit air, namun ia tak menemukan tanda – tanda kehidupan di hutan tersebut. Keadaan sang putri terus memburuk, ia memerlukan air untuk kerongkongannya yang sudah beberapa hari tidak merasakan kesegaran air karena bekal air bersih mereka sudah habis selama perjalanan.

Pada suatu malam, si petani menggendong sang putri dan merebahkan tubuhnya di sebuah pohon yang kokoh dan rindang. Ia berdoa agar sang putri dapat terus bertahan hidup dan disembuhkan dari penyakitnya. Keesokan harinya, saat si petani terbangun, ia menemukan sebilah tombak di dekat tempat ia tertidur. Ia tidak mengerti mengapa benda tajam itu tiba – tiba muncul begitu saja padahal hanya ada dua orang di hutan itu dan mereka berdua tidak membawa tombak itu sebelumnya. Ia sangat bingung akan digunakan untuk apa tombak itu, ia lebih membutuhkan air atau obat bagi sang putri.

Saat ia akan melanjutkan perjalanannya, ia mencoba untuk membangunkan sang putri cantik yang tertidur disampingnya. Berkali – kali ia mencoba membangunkan sang putri, namun tidak ada respon sedikitpun. Sang putri tetap menutup matanya dan terbujur kaku, si petani mencoba untuk mengguncang – guncangkan tubuh sang putri, namun sang putri tetap membisu. Ia sangat ketakutan jika sang putri tidak terbagun lagi. Ia sangat sedih dan menangis tersedu – sedu. Ia marah dengan dirinya sendiri yang tak mampu menjaga sang putri.

Ia melemparkan tombak disampingnya dan menancapkannya ke tanah. Namun apa yang terjadi begitu mengejutkan, sebuah mata air mengalir dari tanah berlubang bekas tancapan tombak itu. Si petani sangat senang, ia mencoba untuk menggali lubang itu, ternyata mata air yang keluar tidak kunjung hentinya hingga membentuk sebuah kolam. Si petani mencoba membersihkan jasad sang putri di kolam tersebut. Namun mukjizat pun terjadi, sang putri tebangun setelah dimandikan di kolam tersebut dengan keadaan seperti sebelum terjangkit penyakit kulit mengerikan itu. Sang putri kembali menjadi cantik rupawan, alangkah bahagianya mereka berdua.

Karena air yang tak kunjung surut, sang putri memerintahkan kepada beberapa pengawal di kerajaannya untuk mengambil air bersih dari sumber mata air itu, sehingga rakyat di kerajaannya dapat memperoleh air dan mengembalikan keadaan kerajaan menjadi lebih baik.

Sebagai tanda terima kasih, mereka memutuskan untuk tinggal bersama disana dan merawat kolam mata air yang telah menyelamatkan mereka tersebut. Lambat laun, banyak orang mengetahui tentang keberadaan kolam mata air tersebut dan banyak dari mereka membuat pemukiman disana. Air kolam tersebut digunakan sebagai pemandian oleh warga sekitar karena sulitnya mendapatkan air bersih disana.

Daerah tersebut adalah Desa Paseraman yang berada di Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan. Dinamai Paseraman, yang dalam bahasa Madura berarti pemandian karena disana pada zaman dahulu merupakan satu – satunya sumber mata air yang digunakan oleh mayoritas rakyat Bangkalan untuk mandi. Terletak di dekat Pelabuhan Kamal Bangkalan, diantara Pelabuhan Barat dan Pelabuhan Timur. Sekarang sumber mata air itu sudah kering, namun bekas kolam mata air itu masih dapat disaksikan disekitar lapangan bola warga Paseraman Kamal.

 

Ensiklopedimadura

Penulis : Novita

Sumber : Lontar Madura
By : Jiddan