Letnan Ramli, Gugur dalam Peristiwa Kamal

704 views

 

Asta Tinggi Tempat bersemayamnya Letnan Ramli

Asta Tinggi Tempat bersemayamnya Letnan Ramli

Di area pemakaman Asta Tinggi Sumenep sebuah makam tampak beda dengan makam-makam lainnya. Bukan karena kijingnya yang bagus, namun aksesoris di sekitar makam tersebut yang berupa pagar rantai besi dan sebuah bambu runcing merah putih yang berdiri tegak di sampingnya. Dari prasasti di makam itu dinyatakan bahwa yang dikubur di dalamnya gugur karena mempertahankan kedaulatan NKRI di pintu gerbang Madura Barat. Sosok yang dimaksud itu ialah Letnan R Mohammad Ramli.

Dalam beberapa literatur, biografi Letnan Ramli tidak banyak ditemukan. Tidak ada keterangan mengenai masa kecil hingga dirinya masuk dalam barisan tentara NKRI (BKR). Dalam buku-buku lokal sejarah Madura tidak pula ditemukan secara rinci asal-usul dan latar belakang keluarganya. Apalagi bagi masyarakat awam di Sumenep, mereka hanya mengenal nama letnan Ramli sebagai salah satu nama jalan di kelurahan Kepanjin kecamatan Kota Sumenep. Namun jika dilihat dari gelar di depan namanya ada huruf “R” yang merupakan singkatan dari kata Raden. Apalagi pusaranya yang ada di pemakaman keluarga Raja-raja Sumenep menunjukkan asal-usulnya secara tidak langsung.

Menurut salah satu keluarga keraton Sumenep, Fakhrurrazi, Letnan Ramli secara genealogis merupakan keturunan adipati Pamekasan yang bersusur galur ke keluarga Cakraningrat Bangkalan. Jalur ini didapat dari pihak ayahnya. Namun dari pihak ibu disebutkan berasal dari trah keraton Sumenep dinasti terakhir.

Namun bukan masalah asal-usulnya yang penting untuk diketahui, melainkan aksi heroiknya yang membawanya gugur sebagai kusuma bangsa. Letnan Ramli gugur dalam peristiwa kontak fisik di daerah Kamal Bangkalan, setahun setelah proklamasi kemerdekaan RI.

Tahun 1946, Letnan Ramli ditugaskan di Madura Barat (Bangkalan). Tepatnya beliau menduduki posisi sebagai komandan Seksi I Kompi IV Batalyon III Resimen V Madura Barat. Tugasnya untuk mempertahankan pantai Kamal, Pier timur dan Jungrate dari rongrongan pasukan Belanda yang tidak mau menerima kedaulatan NKRI.

Posisi ini rupanya sekaligus posisi terakhirnya di BKR. Tepat pada hari Jum’at pagi tanggal 5 Juli 1946, enam buah tank amphibi Belanda yang diangkut kapal laut dengan dilindungi oleh tiga buah pesawat udara jenis Mustang bergerak menuju Kamal. Pesawat udara tersebut menembaki daerah pantai yang diduga terdapat pos-pos pertahanan BKR, sedangkan enam buah tank amphibi yang terbagi dua menuju sasaran daerah pelabuhan DKA dan pelabuhan Pier Timur juga mulai memuntahkan pelurunya.

Kala itu Letnan Ramli yang hanya memiliki dua regu pasukan kecil memerintahkan agar tank-tank tersebut tak sampai mendarat di bumi Madura. Dua regu yang bersenjatakan campuran dan diperkuat satu pucuk PSU kaliber 7 mm dan satu pucuk MG kaliber 7,7 mm itu awalnya dapat membalas tembakan-tembakan dari tiga tank amphibi tersebut. Namun tetap saja kekuatannya tidak seimbang sehingga tank-tank tersebut bisa mendarat. Sementara Letnan Ramli sendiri bersenjatakan sepucuk pistol, sebilah keris, dan sebilah pedang.

Melihat pertempuran yang tak seimbang dan tank-tank amphibi yang mulai mendarat, Letnan Ramli terpaksa memerintahkan sebagian pasukannya mundur, sedangkan dirinya dan sebagian pasukan lain terus maju ke depan. Dengan gagah berani Letnan Ramli yang bersenjatakan keris menaiki salah satu tank amphibi dan membunuh penumpangnya, namun setelah itu dari arah lain melesat peluru-peluru yang akhirnya bersarang di tubuhnya. Letnan Ramli pun gugur sebagai syahid sebagaimana kiyai Sajjad Guluk-guluk, namun di usianya yang masih muda. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un.

Atas permintaan kedua orang tua beliau, jenazah Letnan Ramli yang saat itu masih bujang dibawa ke Sumenep dan dimakamkan di Asta Tinggi. Dalam peristiwa Kamal tersebut disamping Letnan Ramli ikut gugur pula delapan personel lainnya, dan beberapa personel lain yang menderita luka-luka.   M. Farhan Muzammily

Tulisan diatas menyalin dari : http://www.lontarmadura.com

Email Autoresponder indonesia