Madura antara Identitas, Tradisi, dan Modernitas I Oleh : Agus Lempar

 

Madura dikenal memiliki banyak hal.

Maduracorner.com,Bangkalan – Madura tidak hanya kaya dengan budaya lokal, tetapi Madura di sisi lain adalah pulau yang banyak memberikan sumbangsih nilai-nilai pendidikan, terutama kontribusi pesantren yang menjadi corong dinamika intelektualitas keislaman. Madura juga kaya dengan tradisi-tradisi yang menjunjung nilai-nilai persaudaraan antar sesama. Banyak persoalan sosial yang rela dikerjakan bersama. Rasa simpati dan empati kepada sesama sangat kental dalam kejiwaan masyarakat Madura. Masyarakat Madura siap diminta sumbangsih pertolongan kapanpun dibutuhkan. Menghormati yang tua dan menyayangi yang muda adalah pola hidup yang selalu dilestarikan. Kita akan kenal bahwa bahasa Madura mempunyai tingkatan-tingkatan yang mempunyai cita rasa etika yang berbeda. Enje’-iye misalnya, dipakai dalam percakapan kalangan yang starata sosialnya sama dan satu dengan lainnya sangat akrab, roco istilahnya. Enggi-enten dipakai dalam percakapan dengan posisi yang sama, namun tidak sampai pada batas roco tadi. Enggi-bunten dipakai ketika berbicara dengan mereka yang dihormati dan disegani. Kekayaan nilai-nilai tradisi, pola keberagamaan yang kental, loyalitas dan solidaritas antara sesama, menjadi kunci kokohnya pertahanan Madura dalam menjaga identitasnya dari rongrongan luar selama ini. Namun bagaimana pun, ketika kekayaan tersebut tidak disikapi dengan wawasan yang luas dan pola pandang yang bijak, maka semuanya itu akan hanya jadi ’bumerang’ terpuruknya Madura pada suatu saat nanti. Terlepas dari keutamaan Madura di atas, ada beberapa hal berdampak negatif yang perlu disadari oleh masyarakat Madura, jika berharap Madura ke depan mampu membentengi eksistensi identitasnya berikut mampu berdialektika dan bersaing dengan dunia di luarnya. Rasa memiliki banyak hal telah membuat Madura ’asyik’, ’ektase’, dan ’mabuk’ dengan romantisme dan imaji-imaji kemaduraannya. Akhirnya fanatisme, eklusivisme, dan konservatifisme — disadari atau tidak –menjadi ’ideologi’ pola sosial dan keberagamaan Madura. Slogan ”al-muhafadzah ’ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah’ hanya menjadi ucapan-ucapan basah di lidah, tapi kering di realitas. Upaya mempertahankan tradisi lama lebih mendominasi dari rasa ingin melakukan pembaharuan-pembaharuan. Maka tidak salah jika Madura menjadi tertinggal—meskipun tidak harus divonis katrok. Kenapa hal ini bisa terjadi? Dalam teori ilmu sosial dikatakan bahwa sebuah norma atau tradisi ketika dipahat dan dijadikan ’standarisasi’ pada suatu masa, kemudian diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi tanpa ada kritik dan pembaharuan, maka akan dianggap sebagai sebuah kebenaran yang tidak bisa diotak-atik. Maka apa yang perlu dilakukan Madura dengan krisis semacam ini? Muhammad Abid al-Jabiri, seorang intelektual asal Maroko, di saat mengkaji nalar akal Arab, berkesimpulan bahwa penyebab terpuruknya dunia Arab-Islam dihadapan peradaban lainnya adalah karena kecenderungan mengulang-ngulang tradisi lampau tanpa melakukan kritik dan pembaharuan di masa-masa setelahnya. Dalam istilah beliau, dunia Arab-Islam dijangkiti penyakit ’al-fahmu al-turatsi li al-turats’, membaca tradisi lampau dengan pembacaan lampau. Kondisi keterpurukan seperti ini sebenarnya ada kemiripan dengan apa yang dialami Madura dewasa ini. Modernisasi (al-tahdits), membaca tradisi dengan kaca mata dan tuntutan kekinian, al-fahmu al-hadatsi li al-turats, meminjam solusi yang ditawarkan Jabiri, dan rasionalisasi (aqlanah) adalah mega proyek yang perlu dilakukan oleh Madura. Dengan modernisasi, Madura perlu melakukan rekontruksi tradisi dari dalam tradisinya. Modenisasi bukan berarti mengganti secara totalitas tradisi lokal, kemudian menggantinya dengan di luarnya. Hal itu tidaklah mungkin, karena hanya akan menghilangkan identitas kemaduran itu sendiri. Jika diposisikan Madura sekarang adalah ego (al-ana), dan tradisi masa lalu dan tradisi di luarnya adalah the others (al-akhar), meminjam istilah Hassan Hanafi, maka Madura perlu mampu berdialektika dengan the others tersebut secara proporsional. Maka jargon ”al-muhafadzah ala al-qadim al-shalih wa al-al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah’ bisa dijewantahkan secara imbang. Madura perlu membaca ulang tradisinya, dan memilah-milih yang masih layak ditradisikan; mempertahankam tradisi yang selaras dengan nilai ajaran agama, etika, rasionalitas, dan modernitas, dan meninggalkan tradisi yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut….(Agus Lempar)

Email Autoresponder indonesia