Makna Filosofi dan Ekspresi Haji Mabrur

923 views
masjidil_haram_by_edgeofuniverse-d1qsnd2
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.
[QS. Ali Imraan (3): 97]

Kewajiban melaksanakan ibadah haji bagi mereka yang mampu dan agar segera dilaksanakan serta tidak menunda-nunda ini, berdasarkan firman Allah SWT, QS Ali Imran 97.

Dalam sebuah Hadits, Rasulullah bersabda: “Dari Ibnu Abbas ia berkata, Rasulullah saw bersabda:Barang siapa yang berkehendak melaksanakan haji, maka bersegeralah, karena dapat saja ia tertimpa penyakit, hilangnya kesanggupan atau munculnya hajat keperluan yang lain.” (HR Ahmed dan Ibnu Majah).

Melalui syariat Ibadah haji ini, Allah SWT banyak memberikan i’tibar-i’tibar atau pelajaran yang sangat berharga bagi umat manusia. Dari sejumlah rukun dan rangkaian kegiatan ibadah haji, apabila dicermati secara cerdas dan mendalam, sesungguhnya mengandung makna filosofis yang sangat luas dan penting bagi kehidupan umat manusia, di dalamnya terdapat mutiara hikmah yang amat berharga bagi umat manusia. Hal ini seperti yang diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ
ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,
supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.
Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).
[QS. al-Hajj (22): 27-29]

 

mathaf-expansion

Makna filosofis yang bagaimanakah yang dapat diperoleh dari rangkaian ibadah haji itu Seberapa banyak kita dapat menggali makna filosofis dari rangkaian ibadah haji ini?

Pertama, seseorang yang melaksanakan rangkaian ibadah haji pada batas-batas tertentu (miqot), ia wajib menggunakan pakaian ihram yang terdiri dari dae lembar kain putih yang dililitkan pada tubuh mereka.

Filosofi pakaian ihram ini menunjukkan, bahwa seorang manusia itu di hadapan Allah SWT, adalah lemah dan tiada memiliki sesuatu apa pun terkecuali atas pemberian Allah Azza wa Jalla. Pakaian 2 lembar kain putih yang dikenakannya, melambangkan betapa miskinnya manusia di hadapan Allah Rabbul Izzati.

masjidil-harom-tahun-1297-h2

Kedua, Thawaf,yang dalam pelaksanaannya dilakukan dengan cara berputar mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali. Ka’bah dalam Islam pada dasarnya melambangkan ajaran tauhid, karena
pada Ka’batullah seluruh umat Islam diperintahkan untuk menghadapkan wajahnya disaat ia shalat.

masjidil-harom-tahun-1371
Ketiga, sa’i yang dalam pelaksanaannya dilakukan dengan cara lari-lari kecil antara bukit Shofa dan bukit Marva. Dari sisi historis,, ibadah Sa’i ini mengisahkan perjuangan seorang lbu “Siti Hajar” istri Nabiullah Ibrahim as, untuk mencari air minum untuk diberikan pada Ismail as. Sa’i ini melambangkan tentang kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Seorang ibu yang tidak merasa letih dan lelah, serta putus asa demi mencari setetes air untuk anaknya, sampai Siti Hajar rela berlari bolak-balik sampai 7 kali antara Shofa dan Marwa.

img-20140214-wa0012
Keempat, Wukuf di Arafah yang pelaksanaannya seluruh umat manusia dari segala penjuru dunia berkumpul di tempat yang lapang di Padang Arafah. Wukuf di Arafah oleh banyak Musafir dinilai sebagai miniatur berkumpulnya manusia di Padang makhsyar nanti. Di tempat inilah digambarkan, bahwa kelak manusia di seluruh penjuru dunia akan berdesak-desakan dan menjalani antrean panjang pada saat menanti hisab amal dan Pengadilan Allah Rabbul Izzati.

“Manusia itu pada dasarnya berkedudukan sama bagaikan gerigi sebuah sisir. Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang bukan Arab, yang membedakan mereka adalah derajat ketakwaannya kepada Allah.”

Kelima, Melontar Jumroh, yang dalam praktiknya dilakukan dengan cara melontarkan batu kerikil pada sebuah tempat semacam tugu, yang merupakan gambaran wujud syaitan laknatullah. Prosesi melontar jumroh ini, melambangkan agar umat manusia mampu mengusir dan melempar jauh nafsu-nafsu jahat yang menguasai dirinya.

Dari Jabir RA dia berkata Rasulullah saw bersabda : “Hanya surga balasan (kualitas) haji mabrur.
Para sahabat bertanya: “wahai Nabi, haji mabrur itu apa?”
Nabi menjawab: “(haji mabrur) ialah memberikan makanan dan menyebarkan salam”

Dengan terang hadits di atas menjelaskan dua hal. Pertama, balasan orang yang meraih kualitas haji mabrur itu adalah surga. Kedua, ekspresi kemabruran itu dilakukan dengan dua hal yaitu menebarkan salam dan memberikan makanan.

Menegaskan makna haji mabrur. Kata haji secara leksikal berasal dari hajja-yahujju-hajjan-haajjan yang berarti berkunjung. Dalam term agama, haji bermakna berkunjung ke Makkah untuk menunaikan rangkaian ibadah (haji) dan umrah berupa thawaf, sai, wuquf, mabit di Mina, melempar jumrah yang ditunaikan dalam bulan tertentu. Sedangkan mabrur adalah isim maf’ul dari kata barara (barra) yabirru, birran, baarrun, mabrurun. Kata ini sejatinya bermakna melakukan kebajikan. Salah satu ungkapan yang sering terdengar birr al-walidayn. Itu bermakna melakukan kebaikan kepada kedua orangtua. Kata mabrur dengan demikian bermakna orang yang senantiasa dipenuhi kebaikan. Sedemikian melimpahnya kebaikan yang dilakukannya sampai dia tidak terbersit untuk melakukan kekhilafan. Karena itulah, di lain tempat, kata mabrur dimaknai sebagai khaalishun maqbuul laa khalala fiihi wa lam yukhaalithu syayun – bersih (ikhlas hanya untuk Allah) dan diterima (oleh Allah) tidak ada cacat dan tidak bercampur dengan sesuatu yang jelek. Secara singkatnya al-Ashfahani mabrur maknanya diterima sehingga haji mabrur berarti haji yang diterima (maqbul). Memastikan diterimanya haji seseorang tentu saja Allah Huwa A’lam, Dialah Yang Maha Tahu, namun berdasarkan hadits yang tersyarah pembelajar dituntunkan bahwa kemabruran haji seseorang antara lain ditandai dengan kegemaran alumni haji untuk melakukan kebajikan, antara lain, menebarkan salam dan menyediakan makanan.

banjir-di-makkah-tahun-1941

banjir-di-makkah-tahun-1941

Dari penjelasan di atas dapat ditegaskan bahwa tidak ada kemabruran tanpa kebaikan atau tidak ada al-mabrur tanpa disertai al-birr. Kebaikan pertama yang dilakukan peraih kualitas haji mabrur adalah menebarkan salam. Sederhananya itu dilakukan dengan mengucapkan assalaamu’alaikum, keselamatan buat orang-orang di sebelah kanan dan kiri pengucapnya. Lebih dari itu, ucapan tersebut disertai dengan hati yang penuh kedamaian. Sementara perbuatan pengucap salam itu pun mengekspresikan keteduhan, kedamaian, kejernihan. Tidak ada tetangga yang tersakiti oleh perkataannya. Tidak ada teman yang ternistakan oleh perilakunya. Tidak ada makhluk Allah yang teraniaya karena perbuatannya orang yang mengenalnya selalu mendapatkan kedamaian dari perilakunya.

Wallahu A’lam bish-shawab.

By : Agus Liansyah, S.P.

Sumber : Muhammadiyah Malang

Email Autoresponder indonesia