Memilih “Jalan Lain” – Kisah Penderita Kanker (Bagian I)

Buyung Pambudi di depan rumah sakit di Guangzhou

Buyung Pambudi di depan rumah sakit di Guangzhou

 

Guangzhou, Maduracorner.com – Setelah menempuh perjalanan selama lima setengah jam di atas pesawat, akhirnya kami tiba di bandara internasional Baiyun, Guangzhou. Jarak antara jakarta Guangzhou sekitar 3.357 Kilometer. Kami berangkat dari Kabupaten Bangkalan pada Sabtu (3/1/2015) pukul 2.30 dini hari menuju bandara Juanda, Sidoarjo-Jawa Timur. Betul, bandara Juanda memang berada di Sidoarjo bukan di Surabaya, orang sering salah kaprah termasuk saya yang belum pernah naik pesawat sebelumnya. Sebelum ke Guangzhou, kami harus transit dulu ke Jakarta.

Guangzhou merupakan ibukota Provinsi Guangdong di Cina bagian selatan dengan penduduk lebih dari tiga juta jiwa. Sedangkan penduduk di seluruh provinsi Guangdong pada tahun 2010 saja sudah menjadi 12,7 jiwa. Sedangkan penduduk seluruh cina mencapai 1,3 milyar jiwa. Bisa dibayangkan betapa padatnya penduduk di Cina.

Setibanya di bandara Baiyun, kami dijemput oleh tim medis dengan mengendarai ambulan menuju rumah sakit. Perjalanan dari bandara menuju rumah sakit Modern Cancer Hospital Guangzhou menjadi perjalanan yang tidak membosankan. Dengan mengendarai ambulan, mobil yang kami tumpangi bebas hambatan menyalip beberapa mobil di depan kami dengan leluasa hingga ke tempat tujuan. Meski termasuk kota terbesar ketiga di Cina, kemacetan tidak kami rasakan selama perjalanan.

Sepanjang perjalanan, di kanan kiri jalan raya nampak gedung-gedung tinggi baik gedung perkantoran, pusat perdagangan, pemerintahan maupun tempat tinggal. Iya, saking padatnya, penduduk disediakan rumah tinggal bertingkat bukan berjejer atau berderet. Tempat tinggal sebagian besar penduduk layaknya rumah susun, aneka baju bergelantungan di dalam rumah susun bisa terlihat jelas dari luar.

Perjalanan dari bandara menuju rumah sakit memakan waktu sekitar lima puluh menit. Udara dingin belum bisa kami rasakan karena perhatian kami lebih tertuju agar istriku bisa segera ditangani dan mendapat pengobatan mengingat parahnya sakit yang diderita istriku. Perut membesar, tubuh kurus tinggal tulang dan kulit. Apalagi ketika datang nyeri tak tertahankan di punggung dan perut akibat penyakit yang dideritanya.

Pada bulan Juni 2014, istriku divonis menderita penyakit kanker indung telur stadium tiga setelah menjalani perawatan di salah satu rumah sakit swasta di Surabaya. Penyakit tersebut kami ketahui setelah tim dokter melakukan biopsi—operasi untuk mengambil sampel penyakit dari dalam tubuh pasien. Biopsi dilakukan oleh dokter yang katanya merupakan satu dari sedikit dokter yang ahli di bidang kanker dan tumor di Surabaya—bahkan mungkin Jawa Timur.

Dokter menyarankan agar istriku dikemoterapi. Kemoterapi adalah ‘jalan satu-satunya’ yang harus ditempuh bagi pasien yang menderita kanker, apalagi sudah stadium tiga katanya. Itupun kemungkinan sembuh setelah dikemoterapi rata-rata hanya berkisar dibawah 50 persen. Sebuah pilihan yang tidak bisa kami ambil, meskipun itu jalan satu-satunya.

Kami pun berusaha mencari dokter atau siapapun yang mau menawarkan ‘jalan lain’ selain ‘jalan satu-satunya’-nya itu. Akhirnya kami mendapatkan saran dari Pak Jimhur (panggilan akrab Fathur Rahman Said) agar berobat ke Guangzhou-Cina. Kami tidak serta merta menerima ‘jalan lain’ tersebut dengan berbagai pertimbangan. Kami harus mendapatkan informasi awal mengenai metode pengobatan apa saja yang diterapkan di sana.

Hingga sampailah kami di Guangzhou-Cina. Soal metode apa yang diterapkan pada istriku, dan bagaimana hasilnya, nanti akan kami informasikan lebih lanjut di tulisan berikutnya. Tiba di Guangzhou saja, masih serasa hidup di alam mimpi mengingat betapa rumit dan berlikunya jalan yang harus kami tempuh sebelum tiba di sini. Di kota dimana Univertas Sun Yat Sen yang legendaris itu berdiri. Kota para pekerja, kota dimana sejarah Cina juga ditentukan dari sini, kota dimana Masjid tertua berada.

Oleh : Buyung Pambudi

By  : Jiddan

Email Autoresponder indonesia