Mengemis  Menjadi Budaya Bukan Sebuah Kebutuhan

986 views

Desa pengemis | oleh : Teguh

Maduracorner.com, Sumenep — Bupati Sumenep, A Busyro Karim, prihatin terhadap perkembangan pengemis yang sulit dikikis habis dari bumi Sumekar (sebutan lain dari kota Sumenep). Lebih-lebih jika mendengar Desa Pragaan Daya, Kecamatan Pragaan, Sumenep, yang mendapat predikat sebagai desa pengemis. Daerah tersebut memang tidak dapat dipungkiri, hampir rata-rata penduduknya berprofesi sebagai pengemis.

Di Prgaan, menurut Bupati, mengemis bukan lagi menjadi kebutuhan untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup, melainkan sudah menjadi budaya untuk mendapat penghasilan dengan cara gampang. Sehingga profesi tersebut terus dilakoni meski kebutuhan hidupnya sudah tergolong cukup.
 
“ Kami sangat prihatin dengan sebutan Desa Pragaan Daya, sebagai Desa Pengemis, namun kami tidak bisa berbuat banyak ketika mengemis sudah menjadi budaya, untuk mengumpulkan kekayaan dengan cara gampang,” kata Bupati Sumenep, A Busyro Karim.
 
Namun, Bupati Sumenep tetap berusaha mencarikan solusi tepat untuk memberantas keberadaan  budaya mengemis di Desa Pragaan daya. Beberapa program yang di agendakan Bupati, seperti pemberdayaan ekonomi kemasyarakatan, melalui  usaha  mandiri  yang akan meningkatkan ekonomi masyarakat.
 
Disinggung cara lain untuk memberantas budaya mengemis bagi warga Desa Pragaan Daya, Bupati mengaku perlu ada pendekatan persuasif dari tokoh masyarakat setempat. Disamping itu tokoh masyarakat harus gencar mensosialisakan bahwa mengemis di larang oleh agama, karena pekerjaan tersebut  merendahkan martabat sendiri, baik dihadapan masyarakat maaupun di hadapan Allah.
 
“ Mengemis dan meminta-minta itu pekerjaan yang tidak baik, mengapa masih dilakukan ? bukankah sudah di sebutkan dalam sebuah hadits, jika tangan yang diatas lebih baik dari tangan yang dibawah, saya kira makna dari hadits itu, sudah jelas jika yang memberi lebih baik dari orang yang meminta,” jelasnya.
 
Saat dimintta himbauannya bagi warga Sumenep, agar tidak mengemis hingga keluar daerah pada bulan ramadhan, bupati juga enggan  memberikan himbauan. Sebab kata Bupati, mereka tidak bakal mau bila hanya dihimbau, mereka butuh support yang bisa mengalihkan alibi mereka dari sekedar berhenti  pengemis.
 
“ Kalau hanya  sebatas himbauan, saya kira tidak bakal mempan, pekerjaan mengemis sudah membudaya yang mendarah daging bagi warga Pragaan. Mereka bisa berhenti jika ada program yang mampu menarik perhatian mereka, sehingga dengan sendirinya mereka akan berhenti menjadi pengemis, tapi itu sulit,” katanya. (tgh/lam)

Email Autoresponder indonesia