Menggugat Citra Polisi

779 views

ilustrasi-polisi-tersangkut-narkoba

Akhir-akhir ini Kepolisian banyak dirundung malang banyak prestise Kepolisian diuji, lagi-lagi nama institusi Polri harus tercoreng. Berbagai peristiwa yang melanda intitusi Polri yang perlu dijadikan bahan renungan yaitu : Polisi kadang melakukan salah tangkap, bentrok antara anggota Brimob dan Sabhara di Semarang, Jawa Tengah, seorang polisi menembak atasannya !, dan renungan yang terkini adalah Polisi mendemo Polisi. Begitulah nasib polisi. Mereka dicaci-maki tetapi sekaligus dirindukan dan dipuji.

polisi demo

Padahal persepsi masyarakat awam, polisi itu dididik dalam suatu “iklim komando” yang patuh kepada atasannya. Dengan demikian, kalau sampai ada polisi yang menembak atasannya, ini suatu yang sangat mengagetkan masyarakat awam dan ratusan anggota Polres Pamekasan, berunjuk rasa menuntut tiga pimpinan kepolisian di wilayah hukum Pamekasan mundur dari jabatannya, Sabtu (04/10/2014).TNI dan Polri itu memiliki suatu kesamaan dalam pendidikannya, yaitu menanamkan spirit korps atau semangat korsa yang tinggi dan patuh terhadap atasan.

Ketika hal itu sudah terjadi, siapakah yang salah ? Apakah pendidikan bintara kepolisian terlalu cepat ? Sehingga, dalam pencetakan anggota Polri, terutama anggota-anggota yang akan diterjunkan menghadapi masyarakat, kurang terbina mental dan emosinya ?

Pengamat Kepolisian Bambang Widodo Umar mengatakan bahwa pendidikan kepolisian di Indonesia saat ini amburadul. Faktor itu bisa memungkinkan penyebab polisi bintara berani menembak atasannya yang jabatannya sudah perwira menengah sekalipun.
Menurut dia, kasus antara antara Brigadir Susanto dan AKBP Pamudji sangat banyak faktornya. Faktor pertama dari banyaknya karakter pemimpin yang sewenang-wenang pada anak buahnya, atau karakter bawahan yang mudah tersulut emosi berkepanjangan. (merdeka.com) Rabu (19/3).

Kita mengenal pendidikan masuk menjadi polisi di SPN atau Sepolwan, tetapi setelah itu ke mana? Memang ada pendidikan kejuruan. Tetapi bagaimana dengan pendidikan dan pembinaan karakter ? Ini menjadi pertanyaan besar.

Padahal yang berinteraksi dengan segala lapisan masyarakat dan berhadapan langsung dengan para penjahat atau sejenisnya, kadang resiko nyawa akan melayang. Semua itu adalah para bintara. Apakah sistim pendidikan bintara selama 6 bulan mampu mencetak karakter yang mumpuni sekaligus humanis, berbudaya dan mempunyai mental yang bersahabat, mampu bersosialisasi dengan siapapun, serta yang terpenting bukan sosok yang menakutkan bagi masyarakat awam.

Berbagai ragam peristiwa ini menjadi jadi evaluasi, bagi sistem pendidikan di  kepolisian khususnya jenjang Bintara atau Brigadir perlu segera mendapat perhatian. Sangat berbeda dengan pendidikan perwira. Pendidikan perwira dilakukan secara berjenjang dan terstruktur, sedangkan pendidikan bintara hanya sebatas SPN. Jadi jangan salahkan para bintara yang mendemo atasannya dengan berbagai alasan, sekalipun harus diselesaikan dengan timah panasnya.

Bahan renungan masyarakat awam yang masih peduli dan respek terhadap intitusi Polri. (Bersambung)

By : Rahman

Email Autoresponder indonesia