Mengunjungi Warung Tempat Nongkrong Aktivis Hingga Pejabat

749 views
Pak Saleh saat menunggu pelanggan-foto: Fatahillah/MC.com

Pak Saleh saat menunggu pelanggan-foto: Fatahillah/MC.com

Pamekasan, Maduracorner.com – Kepulan Asap Putih dari belakang warungnya di Jalan Brawijaya menjadi tanda bahwa Solehuddin sudah siap membuka warung sore itu. Mengenakan kaos merah putih dan sarung warna coklat, lelaki berusia 58 tahun itu duduk didepan tungku untuk memasak air dengan alat seadanya.

Tangan kirinya sibuk memungut kayu bakar yang sudah disiapkan sebelumnya, dari hasil meminta kepada tetangga sekitar. Atau hasil memungut ranting kering yang berjatuhan dari pohon. Dengan satu tiupan Pak Saleh (panggilan akrabnya) sudah berhasil menyalakan api.

Sambil menunggu airnya matang, Pak Saleh kembali ke warung yang hanya berdinding seng tanpa tutup tersebut. Dia menyapa setiap pelanggan yang mulai berdatangan dan memesan kopi. Lantas dia mempersiapkan kopi dan gula dalam gelas dan cangkir kosong.

Sekilas dia menyelinap ke belakang warung untuk mengambil air matang dengan gayung warna kuning yang sudah kusam. Sekembalinya dia langsung menyeduhkan air panas tersebut kedalam gelas dan mengaduk hingga airnya melampaui bibir gelas.

“Kalau ada yang pesan susu jahe, airnya saya campur dulu dengan jahe yang sudah saya tumbuk,” kata Salehoddin sambil menyodorkan kopi kepada Maduracorner.com, Sabtu (23/08/14) sore.

Menurut Saleh, satu hal yang membedakan kopinya dengan kopi di warung lain adalah adonannya yang pas. Bahkan bubuk kopi sudah dicampur dengan jahe sehingga memberikan rasa khas dan kental dibalut rasa pedas.

Setelah melayani pelanggan, barulah dia duduk dipojok kursi dekat kotak barang. Ditempat menyandar itulah dia simpan bungkus rokok kosong dan sejumlah gelas yang sudah bersih . Di sebelahnya lagi ada beberapa gelas air mineral yang dia tata dengan rapi.

Saleh mengakui pelanggannya beraneka ragam, mulai dari aktivis, wartawan, polisi, anggota Dewan hingga Pejabat Pemkab Pamekasan. Setiap hari ada sekitar 20 hingga 30 penikmat kopi yang datang silih berganti untuk hanya sekedar menikmati secangkir kopi.

“Kalau sudah berkumpul semuanya jadi rame warung saya karena mereka saling bercanda tawa. Meskipun mereka berbeda pekerjaaan” ceritanya dengan penuh semangat.

Menurut Saleh dia tidak terlalu banyak mendapat untung dari menjual kopi. Meskipun setiap harinya banyak pelanggan yang berdatangan. Dia hanya bisa mengumpulkan Rp. 50 ribu sampai Rp. 100 ribu. Karena dia menjual semua jenis kopi Rp. 2 ribu pergelas.

“Hanya saja kalau ada pejabat ataupun dewan yang minum kopi disini biasanya membayar lebih dan sisanya suruh saya ambil,” kata Saleh senang.

Saleh menuturkan, selama 30 tahun berjualan di depan eks kampus STAIN Pamekasan itu dia juga sering kemalingan. Bahkan uang dan rokok eceran yang dia jual sempat habis dibobol pencuri. Meski demikian Saleh mengaku ikhlas.

“Sudah berulang kali warung saya dibobol oleh pencuri. Tapi saaya yakin pasti ada gantinya,” kenang Saleh.

Penulis : Fatahillah Kamali
Editor : Gebril Altsaqib

Email Autoresponder indonesia