Dukungan Kepada BRM Mohammad Moenir Tjakraningrat Duduki Tahta Keraton Surakarta Terus Mengalir

Maduracorner.com, Salatiga – Para alim ulama Se-Jawa Tengah dan Tokoh masyarakat di Salatiga terus memberikan dukungannya kepada BRM Mohammad Moenir Tjakraningrat sebagai ahli waris yang sah dan asli dari Raja Pakubuwono X dan Permaisuri GKR Mas untuk menduduki tahta Keraton Surakarta.

Deklarasi dukungan sekaligus pengukuhan BRM Mohammad Moenir sebagai ahli waris yang sah dan asli dari Raja Pakubuwono X digelar Jum’at, 30 Agustus 2019 di Joglo Sekarlangit Rt 02.RW 13 Pengon Mangun Sari, Salatiga.

” Hari ini adalah sejarah di mana semua ide, gagasan, pikiran, kesadaran, tekad, semangat dan keberanian mendobrak tembok yang selama ini menghalangi kebenaran untuk mendobrak sejarah yang selama ini kita dininabobokan oleh insinuasi yang dibuat di atas kebohongan,
sehingga membuat kita terpanggil untuk bergerak memperjuangkan, mengungkapkan, meluruskan
dan menjemputnya, karena kebenaran tetaplah kebenaran”, tegas BRM Moenir.

BRM Moenir menyadari selama 80 tahun ada sebuah kondisi
yang tidak seharusnya terjadi, berdampak kepada bengkoknya sejarah dalam kraton Surakarta.

“Percayalah bahwa hari ini adalah saksi bagi kita semua, untuk kembali meluruskan ke-bengkok-an sejarah tersebut.
Semangat dan loyalitas dari hadirin semua tentu menjadi energi tambahan buat saya untuk kembali terpanggil dan muncul ke hadapan publik,” paparnya menyebut dirinya sebagai ahli waris yang sah dari Pakubuwono X dengan Permaisuri GKR Mas/Hemas.

Menurut dia, kisruh Keraton Solo bukan soal harta, melainkan ada memanipulasi silsilah keluarga.

“Kami sendiri terpanggil memperjuangkan berangkat dari idealisme untuk melawan,” tegasnya.

Dalam sambutannya pula, BRM Moenir Tjakraningrat mengatakan pasca wafatnya Pakubuwono XII sebuah suguhan “Akrobat” Politik di keraton jadi konsumsi publik, di mana dua pihak saling mengklaim sebagai pewaris tahta yang sah sehingga terdapat dualisme raja. saling mengklaim sebagai pewaris tahta yang sah , sehingga terdapat dualisme raja, saling berebut asset dan membangun pembatas, penghargaan dan gelar kehormatan semu diobral agar kas keraton yang kosong dapat terisi, belum lagi permasalahan permasalah lain yang sangat sulit untuk diungkap, semoga kedepan mampu membenahi kondisi Kraton, mengakhiri sambutannya. (By Jiddan)