Nama Liga Indonesia Sejak Era Penggabungan Kompetisi Galatama dan Perserikatan

image

QNB League

Bangkalan,maduracorner.com – Pemakaian nama Indonesian Super League (ISL) akhirnya berakhir musim ini. Hal ini setelah PSSI dan PT Liga Indonesia secara resmi memperkenalkan sponsor utama kompetisi 2015 kepada publik (3/4/2015). Yakni Qatar National Bank (QNB). Kesepakatan kerjasama ini membuat ISL berganti nama menjadi QNB League dengan masa kontrak 2 tahun (2015-2017).

Pemakaian nama sponsor utama sebagai nama liga sebenarnya bukan musim ini saja. Namun sudah dilakukan di musim kompetisi sebelumnya. Dan ini lumrah atau wajar.

Sebagai pengingat, kompetisi sepakbola nasional dulu sempat memiliki 2 liga sekaligus. Yakni kompetisi Liga Sepakbola Utama (Galatama) yang berisi klub-klub ‘swasta’ serta kompetisi perserikatan yang menaungi klub-klub ‘plat merah’. Kedua kompetisi ini lalu dilebur menjadi 1 kompetisi teratas bernama Liga Indonesia sejak tahun 1994. Penggabungan inilah yang disebut-sebut sebagai upaya dimulainya profesionalisme klub-klub sepakbola tanah air.

Nah, mulai sejak itu berdatangan sejumlah sponsor raksasa untuk menyokong roda kompetisi. Awalnya ada pabrikan rokok yang mensponsori yakni Dunhill. Sehingga musim 1994-1996, Liga Indonesia bernama Liga Dunhill. Berlanjut berikutnya, rokok Kansas mengganti peran Dunhill. Nama liga pun berubah menjadi Liga Kansas.

Sementara kompetisi musim 1999-2003, Bank Mandiri tampil sebagai sponsor utama kompetisi. Kucuran dana dari bank baru milik pemerintah ini menjadikan nama kompetisi pun berubah menjadi Liga Bank Madiri. Berikutnya masuk lagi salah satu pabrikan rokok terbesar yakni Djarum sebagai sponsor. Kembali nama liga harus mengikuti nama sponsor menjadi Liga Djarum.

Sempat pula nama Djarum digabungkan dengan embel-embel ‘super’ untuk nama liga. Yakni antara tahun 2008-2011 sehingga namanya menjadi Djarum Indonesian Super League. Barulah sesudah itu, nama liga kembali ke ‘khittah’-nya. Yakni Indonesian Super League (ISL).

Sekali lagi pergantian nama liga ini lumrah dan wajar di tengah industrialisasi sepakbola dunia. Kedua pihak (baik sponsor maupun sepakbola) sama-sama diuntungkan. Pihak sponsor mendapat promosi lewat pemakaian brand perusahaannya. Sementara sepakbola (dalam hal ini federasi) memperoleh kucuran dana besar untuk memutar kompetisi mereka.

Tentu menarik ditunggu kiprah QNB sebagai sponsor kompetisi teratas di Indonesia ini. Jika mereka menilai Liga Indonesia menarik dan layak dijadikan ajang promosi, bukan mustahil pihak QNB akan memperpanjang kontrak mereka. Bukan sekedar 2 tahun.

Pengelolaan kompetisi yang baik, profesional, transparan dan mampu menghadirkan aura kompetitif yang layak ditonton akan menjadi nilai positif bagi sponsor. Namun jika kondisi sebaliknya yang terjadi, pihak sponsor pasti akan berhenti di masa 2 tahun kontrak mereka tersebut. Bisakah PSSI dan PT Liga Indonesia berubah ke arah yang lebih baik dalam mengelola sepakbola Indonesia agar sponsor betah mensupport mereka? Kita tunggu. (mad)

Penulis : Mamad el Shaarawy
Editor  : Mamad el Shaarawy

Email Autoresponder indonesia