Orang Jawa dan Madura Buta Warna (Bali-2-habis)

1176 views

NUSA DUA, BALI. Maduracorner.com – Mengapa saya membuat tulisan sepulang dari Bali hingga dua judul? Alasannya sangat pribadi, bahkan cenderung hiperbolis. Iya, saya terobsesi dengan Pulau Bali, itu alasannya. Sifat obsesif itu gambaran sederhananya seperti ini, perasaan amat sangat sekali ingin ke Bali. Meski terobsesi dengan Bali, level keinginan berkunjung ke Bali masih berada beberapa level di bawah keinginan untuk ke Mekkah.

Wajar jika setiap orang yang sedang dirundung kesulitan merasa bingung bahkan putus asa. Keinginan untuk bisa ke Bali seolah menjadi mimpi yang terlalu mewah untuk orang yang isi kantongnya sudah terkuras sangat dalam, nyaris kering. Tetapi, bukankah hidup kita selalu tidak bisa lepas dari campur tangan Tuhan. Di situlah indahnya hidup. Jika hidup yang kita jalani lempeng-lempeng saja dan selalu sesuai keinginan kita, terus apa indahnya?

IMG_20150411_173513[1]

Malam sebelum berangkat ke Bali menjadi bukti nyata betapa Tuhan memiliki rencana yang indah, tak terduga dan simpel. Padahal, malam itu biaya untuk berobat kembali ke Guangzhou belum kami miliki. Pengajuan pinjaman ke bank belum juga cair. Tiket ke Guangzhou (pulang-pergi) untuk dua orang sudah kadung kami beli. Padahal, tanggal 21 April kami harus berangkat lagi untuk melanjutkan pengobatan.

Malam itu (malam sebelum berangkat ke Bali), perut lapar memaksaku untuk keluar membeli makanan. Bukannya pergi ke warung, sepeda motor yang kukendarai justru berhenti di depan rumah pak Jimhur (nama panggilan akrab Fathur Rahman Said). Sebelum membeli makanan, tidak ada salahnya mengobrol dulu dengannya. “Pak Jimhur kapan berangkat ke Bali?” tanyaku padanya sekedar basa-basi untuk membuka obrolan malam itu. Jawaban tak terduga keluar dari mulut pak Jimhur, “Besok siang, kamu mau ikut?”. “Siapppppp, mau pak!” sahutku tanpa ragu.

IMG_20150412_100122[1]

Kemudian pak Jimhur memesan satu tiket pesawat (pulang-pergi) ke Bali untukku ke Bu Andriani melalui pemesanan online. Alhamdulillah, bisa ke Bali. Tiket gratis, penginapan gratis tentu makan juga gratis sudah terbayang di depan mata. Suatu hal yang nyaris mustahil namun berubah menjadi kenyataan di saat ceruk kantong semakin dalam, dalam sekali. Bahkan untuk membeli tiket ke Guangzhou pun, kami terpaksa menguras tabungan si kecil serta merelakan beberapa untai emas simpanan untuk ditukar dengan rupiah.

Bukankah menikmati hidup dengan bahagia itu harus dilakukan sekarang, bukan kemarin ketika kita belum banyak masalah, maupun kelak di kemudian hari saat harta kita belum tentu melimpah. Kebahagian yang terjadi kemarin itu adalah kenangan. Sedangkan kebahagian di kemudian hari masih hanya berupa harapan. Saat ini, detik ini, ketika sedang tidak punya uang sekalipun, tidak menjadi halangan untuk merasakan bahagia. Apalagi…saya bisa ke Baaaaliiiii…..!!!!!

IMG_20150412_145030[1]

Belum menginjakkan kaki di pulau Bali, keindahan Bali sudah terlihat sejak dari udara. Letak bandara I Gusti Ngurah Rai yang berada di bibir pantai membuat para penumpang pesawat yang hendak mendarat bisa melongok keindahan laut Bali yang berawarna biru langit bersih. Kenapa biru langit? Karena kalau biru daun berarti itu warna hijau (dalam bahasa Madura).

Biru daun biasanya menjadi olok-olok untuk orang Madura yang dianggap tidak memiliki perbendaharaan kata hijau. Padahal, orang Jawa juga buta warna. Orang Jawa tidak memiliki kata cokelat. Orang Jawa menyebut gula jawa dengan sebutan gula merah (gulo abang:Jawa), warna gula yang berasal dari pohon aren maupun tebu yang warnanya kecokelatan itu kok disebut abang (merah).

Sesampainya di bandara I Gusti Ngurah Rai, saya teringat dengan kemegahan bandara Baiyun di Guangzhou. Bedanya, bandara I Gusti Ngurah Rai cenderung artistik-kultural, sedangkan bandara Baiyun terkesan futuristik. Yah, citarasa Bali lebih mempesona bagiku karena megah sekaligus artistik, ditambah lagi alunan gamelan Bali yang selau menyambut setiap tamu yang tiba di bandara.

Rombongan tiba di hotel pinggir pantai Nusa Dua pada pukul dua siang. Waktu di Bali sama dengan waktu di Guangzhou, satu jam lebih cepat daripada waktu di Surabaya. Saya dan pak Jimhur diundang untuk menghadiri seminar kanker yang diadakan oleh rumah sakit Modern Guangzhou. Semua akomodasi ditanggung oleh pengundang.

Para pasien kanker berserta keluarganya diperlakukan layaknya pahlawan oleh seluruh bagian yang ada di rumah sakit Modern Guangzhou. Kami tersanjung bukan kepalang, seumur-umur baru kali ini saya diberi selempang kehormatan layaknya sang juara. Piala, rangkaian bunga mawar dan pengalungan medali juga turut menambah haru suasana. Tanpa dikomando, mataku berkaca-kaca, tanda haru.

Kami bukanlah pahlawan, kami hanyalah orang-orang yang berusaha dengan gigih untuk mendapatkan kesembuhan atas penyakit kanker yang kami derita atau yang diderita keluarga kami. Kami bukan sang juara, kami hanyalah orang-orang yang berusaha menghargai hidup. Pahlawan dan sang juaranya adalah kalian. Iya, kalian para dokter, perawat, penerjemah bahasa, staf di kantor perwakilan dan seluruh tim rumah sakit Modern Guangzhou yang layak mendapatkan gelar sebagai pahlawan. Kalianlah pahlawan itu. Kalianlah yang membuat hidup kami menjadi lebih hidup, bahkan dengan berlipat-lipat kebahagiaan.

Selama tiga hari di Bali saya memiliki kesempatan untuk melihat sunset dua kali yakni Sabtu sore dan Minggu sore. Sembari memakai celana kolor kunikmati keindahan pantai di Nusa Dua, karena berlibur ke Bali serasa belum lengkap tanpa menikmati indahnya pantai. Tapi sial matahari selalu tertutup awan ketika hendak kembali ke peraduan.

IMG_20150411_173513[1]

Senin sore, setelah tiba di bandara Juanda saya pulang ke Madura mengendarai sepeda motor yang sebelumnya kutitipkan di rumah kakakku di Sidoarjo. Ingat! Bandara Juanda letaknya di Sidoarjo, bukan di Surabaya.

Perasaan kecewa karena gagal menikmati sunset di Bali masih menggelayut di hati. Ditambah lagi guyuran hujan deras sejak dari dari Gedangan-Sidoarjo hingga Pandegiling-Surabaya membuat bajuku basah kuyup. Hujan mulai reda ketika sepeda motor yang kukendarai melintas di Kedung Cowek, jalan akses Suramadu sisi Surabaya.

Setelah membayar tol Suramadu tiga ribu rupiah (sambil menggerutu karena banyaknya sampah tiket tol yang dibuang sembarangan) kususuri jalur khusus roda dua di Suramadu. Di situlah kadang muncul keindahan tak terduga, matahari bersinar kuning kemerahan karena hendak tenggelam ke peraduan membuat sedikit hangat tubuhku yang dibalut baju basah akibat hujan. Lumayan…bisa menikmati sunset meski bukan di Bali.

Buyung2

Cerita percakapanku dengan dokter onkologi kan sudah saya ungkapkan pada tulisan sebelumnya. Jadi, tinggal cerita indah-indah tentang Bali yang juga harus dibagikan, supaya imbang. Matur Sukseme! Mator sakalangkong! 

Penulis : Buyung Pambudi

By : Jiddan

Email Autoresponder indonesia