Pelaksanaan Pangantan Tandhu

954 views

 

pengantin-madura-4

Bangkalan,Maduracorner.com – Pada proses terdiri dari pangantan bini’ kemudian di belakang pangantan bini’ diiringi alat musik tabuh-tabuhan yang terdiri dari gendhung, hadrah, gempak. Disusul kemudian dengan pangantan lake’dengan mengendarai jaran serek atau kuda yang dipayungi kuade dan diiringi oleh saronen. yang terakhir ini disebut pangantan jajar. Jajar artinya mempertemukan kedua mempelai dalam hajad atau pesta pernikahan yang diselenggarakan oleh pihak wanita. Iring-iringan pangantan jajar

Sesampainya di beranda rumah pengantin wanita kedua mempelai didudukan di atas tala kuningan yang berisi beras serta dilapisi kain kuning yang disebut lekser talam. Kemudian dilanjutkan dengan nyacap yaitu para sesepuh kerabat dan sanak famili meneteskan air dengan menggunakan kuntum melati yang direndam dalam air dan sisa air harus diminum oleh kedua mempelai dengan harapan mudah-mudahan dikaruni

rezeki serta keturunan saleh dan sholeha serta ketentraman dalam bahtera kehidupan.

Selanjutnya kedua mempelai duduk bersanding di pelaminan dan untuk menghibur para tamu undangan biasanya dihibur oleh topeng dalang semalam suntuk atau hiburan kesenian mamaca lengkap dengan sindennya. Pada saat malam telah bertambah larut kedua mempelai siap masuk ke peraduan yang diikuti dengan tembang-tembang mamaca.

Tembang-tembang mamaca yang dilatunkan umumnya berisi hadits-hadits dari Rasulullah SAW.

Di dalam pelaksanaan tradisi pangantan tandhu ini terdapat beberapa hal yang berkenaan dengan masalah pemilihan tanggal yaitu bulan, hari, weton dan jam. Hal ini bertujuan agar jika memilih tanggal yang baik maka selama pelaksanaan pangantan tandhu akan mengalami keselamatan dan kelancaran sebaliknya jika memilih tanggal yang buruk maka akan mengalami kesengsaraan atau celaka. Berikut nama bulan beserta artinya

  1. Bulan Muharram/Sora artinya menimbulkan perebutan harta atau wanita.
  2. Bulan Safar/Sappar artinya banyak hutang bisa berlaku pada yang menikahkan atau yang dinikahkan.
  3. Bulan Rabiul Awal/Molod artinya salah satu ada yang meninggal bias berlaku pada yang menikahkan atau yang dinikahkan.
  4. Bulan Rabiul Akhir/Rasol artinya bisa menimbulkan perceraian
  5. Bulan Jumadil Awal artinya mendapatkan masalahBulan Jumadil Akhir artinya kaya
  6. Bulan Rajab artinya kaya anak
  7. Bulan Sya’ban/Rebba artinya bahagia/senang
  8. Bulan Ramadhan artinya banyak bencana
  9. Bulan Syawal artinya banyak hutang
  10. Bulan Dzulkaidah/Takepe’ artinya miskin
  11. Bulan Dzulhijah artinya berkecukupan

Berikut ini jumlah atau nilai dari nama hari dan weton beserta arti dari jumlah angka tersebut:

  1. Minggu  5
  2. Senin   4
  3. Selasa   3
  4. Rabu   7
  5. Kamis    8
  6. Jumat   6
  7. Sabtu   9
  8. Manis/Legi    5
  9. Pahing   9
  10. Pon        7
  11. Wage/Baji   4
  12. Kliwon/Kalebun  8
  1. Jumlah 10 artinya langit/gunung
  2. Jumlah 11 artinya bunga
  3. Jumlah 12 artinya setan
  4. Jumlah 13 artinya bintang
  5. Jumlah 14 artinya bulan
  6. Jumlah 15 artinya matahari
  7. Jumlah 16 artinya air
  8. Jumlah 17 artinya bumi besar
  9. Jumlah 7 artinya bumi kecil
  10. Jumlah 8 artinya api kecil
  11. Jumlah 18 artinya api besar
  12. Jumlah 9 artinya arat

Keterangan: misalnya jika menikah pada hari Rabu Manis berarti angka dari Rabu adalah 7 sedangkan angka dari Manis adalah 5 jika dijumlahkan adalah 7+5 = 12 dan angka 12 adalah setan. Maka pernikahan pada hari tersebut tidak boleh terjadi karena takut menjadi seperti setan juga yang perlu dihindari adalah api kecil dan api besar. Untuk jam juga ada jam-jam tertentu yang tidak boleh dilakukan pernikahan karena bisa mengakibatkan mati atau celaka. Jam-jam tersebut biasanya juga digunakan untuk melakukan carok.

1. Jumat jam    08.00-19.00
2. Sabtu jam    06.00-11.00
3. Minggu jam 10.00-17.00
4. Senin jam    08.00-15.00
5. Selasa jam 06.00-07.00
6. Rabu jam    12.00-15.00
7. Kamis jam 10.00-15.00

Pernikahan merupakan salah satu unsur kebudayaan yang berpengaruh dan cukup penting bagi masyarakat. Istilah Pangantan Tandhu secara garis besar berarti pengantin yang diusung menggunakan tandu, sedangkan pengertian secara lengkap adalah adat pernikahan masyarakat Legung, Kecamatan Batang-batang, Kabupaten Sumenep yang setiap proses tahapan pelaksanaan mempelai wanita diusung menggunakan tandu. Tradisi pangantan tandhu memiliki beberapa fungsi dan makna dalam pelaksanaannya. Fungsinya sebagai alat mempertebal rasa solidaritas suatu kolektif, sebagai alat pendidikan, sebagai alat peningkatan ekonomi, sebagai pengesahan dan pelestarian kebudayaan, sebagai sarana rekreatif, dan sebagai upaya melestarikan keturunan.

Makna simbolik yang terkandung dalam tradisi adalah menjunjung tinggi nilai pernikahan serta penghormatan terhadap kaum wanita yang sudah bersuami. Selain itu juga bermakna bahwa di tengah-tengah arus globalisasi, mereka tetap konsisten dalam menjaga kebudayaan bangsa.

Begitu juga kehidupan gotong royong yang masih kental dan rasa kebersamaan merupakan karakter khas dari masyarakat. Nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut berujung pada nilai moral sosial yang meliputi nilai ketuhanan, menghormati orang lain, kegotong royongan, mempererat hubungan kekeluargaan, kerukunan begitu juga pada nilai moral individu yang meliputi tanggung jawab, permohonan restu, kemandirian, kesabaran, kepatuhan, dan rela berkorban.

Daftar Rujukan/Buku

  • Anonim. 2000. Kepariwisataan Kabupaten Sumenep Ditinjau Dari Segi Kelembagaan. Sumenep: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumenep.
  • Arikunto, S. 1991. Prosedur penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rieneka Cipta
    Badan Pusat Statistik. 2009-2010. Kabupaten Sumenep.
  • Dinas Pariwisata. 2000. Kebudayaan Pariwisata Kabupaten Sumenep. Kabupaten Sumenep.
  • Moeloeng, L. J.2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya
  • Nasution, S.1996. Metodologi Penelitian Naturalistic Kualitatif. Bandung : Tarsito Pranowo, M Bambang. 1998. Islam Faktual Antara Tradisi dan Relasi Kuasa. Yogyakarta: Adi Cita Rasa Kuasa.
  • Subaharianto, Andang. 2004.Tantangan Industrialisasi Madura (Terbentur Kultur, Menjungjung Leluhur). Malang: Bayumedia Publishing.
  • Suharsono. 1996. Fungsi Upacara Bagi Masyarakatnya Pendukungnya Pada Masa Kini. Jakarta ; Depdikbud.
    Pramita, Chandra Enggar. 2010. Kepemimpinan Oreng Beddhel di Desa Legung Timur, Kecamatan Batang-batang, Kabupaten Sumenep (1999-2009). Jurusan Sejarah. Skripsi: tidak diterbitkan. Universitas Negeri Malang

(Selesai)

Email Autoresponder indonesia