Pemerintah Mengupayakan Jenazah TKI Asal Desa Kebun Kamal Dibawa Pulang

BANGKALAN, MADURACORNER.COM-Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Abdul Halim akan mengupayakan pemulangan jenazah Mochammad Zaini Misrin (47), Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Desa Kebun, Kecamatan Kamal Bangkalan, Madura, yang dieksekusi mati oleh Pemerintah Arab Saudi, Minggu 18 Maret 2018.

“Kami sudah koordinasi dengan Gubernur Jawa Timur melalui kepala UPT P2TKI untuk pemulangan jenazah, setelah mendapat informasi bapak Zaini dieksekusi,” jelas politikus Gerindra itu usai takziah ke rumah duka, Rabu (21/3/2018).

Sesuai penyampaian Gubernur Jawa Timur kata Abdul Halim,pemulangan jenazah tersebut menjadi kewenangan Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) RI. Hingga saat ini, pihaknya masih menunggu apa yang menjadi keputusan Kemenlu.

“Kami berupaya semaksimal mungkin untuk pemulangan jenazah supaya sanak keluarga paling tidak masih melihat jasad almarhum,” imbuhnya.

Selain mengupayakan pemulangan jenazah, anggota komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur yang membidangi kesejahteraan masyarakat itu, juga akan membantu Mustofa Kurniawan (19) putra kedua almarhum mendapatkan pelatihan keterampilan khusus di Balai Latihan Kerja (BLK) milik pemerintah provinisi (Pemprov).

“Kebetulan Mustofa baru lulus sekolah. Selain dilatih keterampilan, juga akan diberikan modal. Minimal, nantinya bisa menopang perekonomian keluarga, karena almarhum yang menjadi tulang punggung selama ini,” ucapnya.

Menurutnya, pemerintah sudah mengupayakan pendampingan luar biasa dalam mengawal kasus ini agar Zaini Misrin bisa bebas dari jeratan eksekusi mati. Bahkan, pemerintah juga telah memfasilitasi dua putra almarhum berangkat ke Arab Saudi sebanyak tiga kali untuk bertemu langsung dengan almarhum di penjara.

“Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Tentunya, kita harus menghormati proses hukum di Arab Saudi, sama halnya negara Indonesia yang juga pernah melakukan eksekusi bagi warga negara lain,” tandasnya.

Sementara itu, putra sulung Zaini Misrin, Syaiful Thoriq mengaku sangat menginginkan jenazah orang tuanya bisa dibawa pulang dan dikebumikan di kampung halaman. Dia tidak menyangka jika komunikasi melalui sambungan telepone satu hari sebelum eksekusi itu, menjadi percakapan terakhir kalinya.

“Saya masih sempat bercanda lewat telepone sehari sebelum dieksekusi. Abah tidak bilang kalau mau dieksekusi,” tuturnya. (*)

Penulis: Riyan Mahesa

Editor: Achmad

Email Autoresponder indonesia