Penjemputan Paksa Pimpinan Komisi A DPRD Bangkalan Masalah Kasus Pencabulan

BANGKALAN, MADURACORNER.COM- Ketua Komisi A DPRD Bangkalan Kasmu (42) dijemput paksa 6 orang tak dikenal saat memimpin rapat internal di ruang komisi A, Senin (22/1/2018). Diketahui, mereka adalah intelijen Kejaksaan Negeri Surabaya, Kejaksaan Tinggi Jawa Timur dan Kejaksaan Negeri Bangkalan.

Penangkapan yang dilakukan sekitar pukul 12.30 siang itu, merupakan eksekusi atas putusan Mahkamah Agung (MA) yang sudah memiliki kekuatan hukum tetap dan mengikat.

Politikus Gerindra tersebut, terbukti secara sah melakukan tindak pidana bujuk rayu, perbuatan cabul terhadap anak di bawah umur.

“Penangkapan ini dilakukan karena kasasi Jaksa Penuntut Umum atas kasus pencabulan yang dilakukan Kasmu dikabulkan Mahkamah Agung,” Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Richard Marpaung dilansir dari Detik.com.

Menurut Richard, eksekusi Kasmu berdasarkan Putusan bernomor 2645 K/Pid.Sus/2016 yang diterima Pengadilan Negeri Kabupaten Bangkalan pada Oktober 2017 lalu. Dalam putusan tersebut, Kasmu harus menjalani hukuman selama 7 tahun 6 bulan serta pidana denda sebesar Rp 100 juta subsider 6 (enam) bulan kurungan.

“Kasmu langsung dibawa ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Surabaya, di wilayah Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo,” imbuhnya.

Perlu diketahui, kasus ini berawal dari penggerebekan petugas Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim di Hotel Oval Surabaya, 2 Februari 2015 silam, yang tengah menyelidiki kasus penembakan aktivis di Bangkalan, Mathur Husyairi.

Pada saat itu, di salah satu kamar hotel polisi memergoki Kasmu bersama gadis yang masih berumur 16 tahun. Kasus pencabulan itu masuk ke persidangan Pengadilan Negeri Surabaya. Namun Hakim Ketua yang memimpin persidangan Musa Aini meloloskan Kasmu.

Atas vonis bebas itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Surabaya melakukan upaya hukum dengan mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung dan dikabulkan. (*)

Penulis: Heriyanto Ahmad

Editor : Achmad

Email Autoresponder indonesia