Penjual Teh dan Nasionalisme (Kisah penderita kanker bagian 3)

  Anto Li

GUANGZHOU. Awal Maret 2015, suasana di luar rumah sakit terasa dingin disertai hujan rintik-rintik. Dinginnya suasana tidak bisa menutupi ‘galau’ yang sedang bergelayut mesra dalam sanubari. Ternyata, beginilah rasanya, dadaku bergetar, pikiranku berbinar, tekadku membulat utuh. Meski rasa ini sangat subyektif dan sangat rumit untuk dilukiskan secara sederhana. Rasa ini adalah rasa nasionalisme. Kok tiba-tiba bicara nasionalisme, seperti pantun ‘Joko Sembung beli melon, Gak Nyambung son’. Jangan protes dulu, nanti pasti ada hubungannya dengan proses selama menjalani pengobatan kanker di Guangzhou, Cina.

Saat tiba di Guangzhou, pak Jimhur (sapaan akrab Fathur Rahman Said) mengajakku ke salah satu toko yang menjual teh cina. Kita pasti akan kaget, minimal mengernyitkan dahi ketika hendak masuk ke toko teh tersebut. Di salah satu pintu kacanya, tertulis jelas kalimat ‘selamat datang, toko teh Anto Li’. Karena kalimat di pintu tertulis dalam bahasa Indonesia, awalnya saya pikir pemiliknya adalah orang Indonesia asli, ternyata pemilik toko adalah asli Cina.

Namanya Anto Li, meski umurnya sudah berkepala empat, namun raut wajahnya yang mulus disertai senyum ramah yang selalu menempel di bibirnya membuat umurnya nampak lebih muda. Dengan bahasa Indonesia ala kadarnya, dibumbui bahasa Inggris yang sangat terbatas, Anto Li menyambut kami berdua dengan beberapa kali seduhan teh hijau, gratis! Ia menyebutnya, teh Kwan Yim (salah satu teh lokal Guangzhou). Berbeda dengan warung teh di dalam negeri, segelas teh yang disajikan Anto Li tanpa gula.

Cara meminum teh yang benar kata Anto Li, buang air teh seduhan pertama. Lalu tuangkan lagi air panas yang suhunya dibawah 100 derajat celcius. Sebelum diminum, hirup dulu bau wangi teh. Dari aromanya, kita bisa mengetahui kualitas teh sekaligus membuat kita jadi lebih rileks.

DSC_0451[1]

Toko teh Anto Li juga menyediakan beberapa jenis teh. Mulai dari teh yang umur petiknya masih sangat muda, hingga teh yang sudah berumur puluhan tahun. Umur teh menentukan harga jual, semakin tua semakin mahal. Tapi, Anto Li memberi tips, bahwa penikmat teh tidak perlu terpaku pada umur dan harga teh, pilih saja teh yang sesuai selera. Toh, meski dibeli dengan harga mahal tapi kita tidak suka dengan rasanya, percuma saja.

Seteguk demi seteguk, satu jam tak terasa sudah berlalu kami pun berpamitan untuk kembali ke Rumah Sakit. Setibanya di rumah sakit, mata tak kunjung merasakan kantuk. Kalimat dalam bahasa Indonesia di kaca pintu toko milik Anto Li selalu berkelabatan dalam pikiranku. Ribuan kilometer jarak antara Indonesia dengn Cina seolah begitu dekat ketika kalimat dalam bahasa Indonesia ada di depan mata kita. Nasionalisme memang suatu hal yang sulit dijelaskan pada saat ini. Terlebih pada era sekarang dimana batas antar penduduk dunia tidak begitu dipengaruhi secara kaku oleh batas geografis suatu negara.

Dimanapun berada, saya adalah orang Indonesia. Berapa lamapun saya berada di luar negeri, Indonesia adalah sebaik-baiknya tempat kami berasal.

Itulah kenapa dadaku berdegup kencang. Ada orang cina yang dengan bangga berusaha keras mendekatkan diri dengan pembeli asal Indonesia. Padahal, di tempatku dibesarkan, sebutan cina selalu berkaitan dengan kulit putih mata sipit, pedagang, dan pelit. Lha, Anto Li memang kulit putih, mata sipit, tapi tidak ada pelit-pelitnya sama sekali.

Nasionalisme semakin mendidih ketika menyaksikan banyaknya orang Indonesia yang jauh-jauh ke Guangzhou untuk berobat. Tak terhitung berapa banyak tenaga, biaya, dan waktu rela dikorbankan untuk berobat dengan harapan meraih kesembuhan. Muncullah andai-andai, bagaimana seandainya, bukan kita yang ke sana, tapi orang-orang dari luar Indonesia yang berlomba-lomba ke Indonesia untuk berobat?

Saya berandai-andai, ada penjual rujak cingur yang menuliskan huruf-huruf Cina di papan nama warung miliknya sembari melayani banyaknya pembeli berwarna kulit putih bermata sipit.

Simpanlah cita-cita dalam hati terdalam, karena kita selalu berharap Tuhan ada di hati kita memeluk erat cita-cita kita. Lalu, wujudkanlah pelan-pelan dimulai dari hal-hal terkecil dan sederhana.

Kapan itu terwujud? Wallahu a’lam. Tabik!

Penulis : Buyung Pambudi

By  : Jiddan

Email Autoresponder indonesia