Pentingnya Pendidikan Transformatif

1877 views

 

Tingkat pendidikan yang berkualitas akan mampu menjadikan hidup lebih baik, khususnya bagi masayarakat kalangan ekonomi bawah. Pendidikan merupakan senjata penting untuk mengembangkan diri dan menggapai tujuan dari sebuah harapan. Ini merupakan tantangan bagi seluruh masyarakat Indonesia selaku objek dan pihak penanggung jawab dalam hal ini Pemerintah selaku penyelenggara untuk berusaha menjamin kualitas pendidikan bagi anak-anak dan pemuda Republik Indonesia, tanpa melihat dari latar belakang asal keluarga, dari mana mereka berasal, gender, suku, ras dan kecacatan (disapled), mereka semua harus memiliki kesamaan dalam penyelenggaraan penididikan transformatif. Pendidikan harus mampu memberikan ruang bagi perempuan untuk untuk meraih pendidikan tingkat tinggi, mendapatkan pekerjaan yang layak, jaminan kesehatan dan berpartisipasi aktif di masyarakat dan ini akan mendorong seluruh putra-putri Indonesia memiliki kesempatan untuk hidup sejahtera.

Untuk mewujudkan pendidikan transformatif ini maka harus ada jaminan pendidikan bagi seluruh anak-anak untuk tidak menamatkan pendidikan hanya sampai pada jenjang pendidikan dasar namun pada jenjang atas. Dan peningkatan jenjang pendidikan harus ditunjang dengan fasilitas yang mendukung serta kualitas yang baik agar siswa benar-benar belajar.

Konsep pendidikan transformatif didefinisikan oleh Mezirow bahwa “Transformative Learning is a theory of deep learning that goes beyond just content knowledge acquisition, or learning acquisition, memorizing tax codes or learning historical facts and data. It is desirable process for adults to learn to think for themselves, through true emancipation from semetimes mindless or unquestioning acceptence of what we have to come to know through our life experience, especially those things that our culture, religions, and personalities may predispose us towards, without our active engagement and questioning of how we know what we know”. Dalam kaitan ini belajar dipahami bukan hanya sekedar memahami materi, membaca angka-angka dan hafalan belaka namun sebagai sebuah proses untuk menghubungkan antara pemahaman yang diperoleh di ruang-ruang kelas ke dalam kehidupan nyata.

Salah satu tujuan dari pendidikan transformasi ialah meningkatkan peluang untuk mendapatkan pekerjaan, menjaga keluarga dari ancaman kemiskinan. Bagi laki-laki dan perempuan yang berpendidikan, memiliki status sudah bekerja bukanlah hal yang utama, namun mereka harus memiliki pekerjaan yang mampu menjamin dan menyediakan lingkungan yang baik dan pendapatan yang layak. Secara khusus bagi perempuan, pendidikan akan membantu menghilangkan adanya perbedaan gender (gender gaps) dalam hal peluang untuk mendapatkan pekerjaan dan pembayaran (gaji) yang sama dengan laki-laki. Dan ini juga akan menjadi solusi atas permasalahan keluarga yang miskin permanen. Pendidikan akan menjaga mereka dari kemiskinan atau bangkit kembali dari kemiskinan.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh World Bank tahun 2007 (Policy Research Working Paper), menyebutkan bahwa:

–            Di El Salvador, hanya 5%  dari para pekerja dewasa dengan tingkat pendidikan maksimal sekolah dasar (primary education) yang mampu bekerja, berbanding dengan 47% dari para pekerja dewasa lulusan sekolah tingkat atas (secondary education) yang mampu bekerja.

–            Di United Republic of Tanzania, 82% dari para pekerja dengan tingkat pendidikan maksimal sekolah dasar (primary education) hidup dibawah garis kemiskinan. Melalui usaha peningkatan pendidikan hingga tingkat atas (secondary school) mampu mengurangi peluang kemiskinan hingga 60%.

–            Di Pakistan, para pekerja perempuan dengan kecakapan dalam skill baca tulis (literacy) yang baik memiliki gaji 95% lebih tinggi daripada perempuan yang lemah dalam skill membaca dan menulis.

–            Di daerah pedesaan di Indonesia, dengan adanya penambahan program wajib belajar mampu mengurangi peluang jatuh kembali ke dalam kemiskinan hingga 25%.

Dari data di atas, maka sangat penting bagi masyarakat untuk tidak mengabaikan akan pentingnya pendidikan dan bagi Pemerintah agar benar-benar fokus pada upaya-upaya peningkatan kualitas pendidikan. Alokasi APBN sebesar 20% untuk pendidikan yang telah ditetapkan oleh Undang-undang harus benar-benar dikawal dan dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk menyediakan sarana dan prasarana yang menunjuang pengetahuan siswa, penyaluran bantuan pendidikan harus transparan, akses informasi dan peningkatatan profesionalisme guru yang nantinya akan mengasilkan output yang benar-benar mampu mengimplementasikan segala pengetahuan yang diperoleh di ruang-ruang kelas ke dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, jika ini benar-benar mampu diterapkan, maka ‘Generasi Emas’ yang diidam-idamkan oleh bangsa Indonesia tidak hanya menjadi mimpi indah di siang bolong melainkan sebuah keniscayaan. Semoga!

 

penulis : Budy Sugandi

Kolumnis dan Peneliti di Institut für Didaktik der Mathematik und Elementarmathematik

Technische Universität Braunschweig, Germany

Email Autoresponder indonesia