Penyandang Difable, Paralympian, dan Pemprov Jatim Memandang Sebelah Mata

_MG_7760

Bangkalan, maduracorner.com – Penyandang difable yang ada disekitar kita, sejauh ini memang belum mendapatkan tempat yang layak di tengah masyarakat. Dipandang remeh, dan penuh keterbatasan, adalah derita yang harus mereka alami seumur hidupnya.  Padahal dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang mereka miliki saja, derita yang harus mereka alami sudahlah begitu menyakitkan.

Tengoklah penderita tuna netra, seumur hidupnya mereka tak pernah melihat indahnya dunia, tak pernah tahu eloknya gadis cantik, tak pernah mengerti betapa luar biasanya semua yang Tuhan anugerahkan kepada manusia dalam kehidupan.

Atau kita dalami bagaimana derita seorang tuna rungu. Sepanjang hidupnya, mereka tak pernah bisa mendengar alunan indah musik, bagaimana merdunya kicauan burung, atau riuh rendahnya sebuah perayaan.

Pernahkah kita memikirkan ada pada posisi mereka?

Tentu tak habis kita memikirkannya jika itu memang harus kita alami sepanjang sisa kehidupan kita kedepan.

Tak jarang memang, kaum difable memanfaatkan keterbatasannya untuk hal yang negatif. Makanya tak heran jika kaum difable  selalu diidentikkan dengan pekerjaan yang kotor. Menjadi peminta-minta, kelompok yang menggantungkan nasibnya pada bantuan orang lain, atau menjadi penghuni panti sosial.

Akan tetapi, para penderita difable rupanya  tak selalu  se”kerdil” yang kita pikirkan. Dengan segala keterbatasan yang ada, para penyandang cacat ini pun ingin tampil secara unggul. Layaknya manusia pada umumnya, berprestasi dalam beberapa hal, dan dipandang unggul  oleh orang disekitarnya, tentu adalah cita-cita yang mereka idamkan dalam hidupnya.

Sayangnya, tak banyak ruang yang bisa menampung kaum difable ini untuk berkreasi. NPC (National Paralympic Commite), adalah satu diantara segelintir wadah yang menaungi kreasi dan kegiatan penyandang difable tersebut.

Mendengar nama NPC, persepsi kita tentu akan tertuju pada organisasi yang berisi orang-orang cacat. Ya benar, pernyataan itu tak dapat dipungkiri. Namun yang harus diketahui, dari organisasi tersebutlah, para penyandang cacat itu dapat mengukir prestasi. Tak hanya ditataran lokal, para atlet difable ini ternyata telah mengukir prestasi di kancah internasional dan mengharumkan nama Ibu Pertiwi.

Di jawa Timur, sebut saja nama  Nanda Mei Sholihah, gadis belia berumur 16 tahun tersebut merupakan atlet cabang olahraga (cabor) lari asal kota Kediri. Sekalipun masih sangat muda, namun siswa kelas I SMA di Kediri ini mampu mengukir sejumlah prestasi dan mengharumkan nama Indonesia. Prestasi yang diraih Nanda diantaranya, menyumbang tiga medali emas lari 100 meter, 200 meter dan 400 meter dalam kejuaran Asean Paragame 2015 di Singapura.

Atau nama lain seperti Tatok Hardiyanto, mantan bankir asal Situbondo, Jawa Timur, yang kini harus duduk diatas kursi roda selama sisa hidupnya itu, beberapa kali meraih medali di asean paragames, dan membuat lagu Indonesia Raya dikumandangkan di level internasional.

Sayangnya, segudang prestasi yang diraih para atlet paralympian ini  tak seiring dengan perhatian Pemeritah Provinsi Jawa Timur. Alih-alih mendapatkan perhatian khusus atas prestasi yang bisa mereka raih ditengah segala keterbatasan para atlet, NPC selaku organisasi yang menaungi para atlet difable tersebut justru tak mendapat tempat dihadapan pemerintah. Bukannya mendapat dukungan berupa fasilitas dan support moril, para atlit difable ini malah dikeluarkan dari KONI Jatim selaku induk olahraga yang ada di bawah Pemerintah Provinsi.

Mari sejenak kita tengok nasib atlet difable yang berada di bawah Pemerintah Kota Surabaya. Boleh jadi nasib para atlet paralympian Surabaya jauh lebih beruntung dibanding yang lainnya. Berada dibawah pimpinan walikota yang bijaksana, para atlet paralympian ini mendapat kucuran dana 500 juta setahun. Dana yang tak sedikit memang, namun berimbang dengan prestasi yang selalu diukir atlet paralympian Surabaya, yang hampir selalu menjedi juara umum dalam ajang Pekan Paralympian Provinsi.

Berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di Surabaya, pemerintah Provinsi Jawa Timur selama beberapa tahun terakhir tak pernah menaruh perhatian sedikitpun dalam pengembangan atlet difable. Selama 2014 dan 2015, NPC jawa Timur harus bersusah payah mencari dana untuk pengembangan atlet  dari pihak ketiga, karena Pemprov jatim tak mengucurkan dana sepeserpun. Terakhir tahun 2013, Pemerintah Provinsi Jatim mencairkan dana sebesar 50 juta rupiah untuk satu tahun anggaran, walau demikian anggaran tersebut jauh lebih kecil dibandingkan dana operasional dan pengembangan atlet level kabupaten kota. Padahal, tak semua atlet di tingkat kabupaten atau kota di Jawa Timur bernasib sama dengan Surabaya. Tak jarang, para atlet di daerah pun harus menggantungkan nasibnya pada NPC Jawa Timur, karena Pemerintah Kabupaten / Kota tempat mereka berdomisili pun tak memberi perhatian apapun kepada atlet difable.

Lalu, jika demikian, apakah para atlet tersebut harus bersikap sama dengan saudara senasib mereka yang kini meringkuk ditepian jalan,  dan menengadahkan tangannya meminta belas kasihan orang lain?, padahal tak sedikit prestasi yang sudah mereka ukir di level nasional dan internasional.

Penulis : Jimhur Saros merupakan Ketua NPC Jawa Timur

By : Jiddan

Email Autoresponder indonesia