Pupuk Langka, Serikat Tani Mandiri Gelar Aksi di Sawah

840 views
para Petani saat melakukan aksi protes di sawah

para Petani saat melakukan aksi protes di sawah

Bangkalan,Maduracorner.com– kondisi pupuk yang langka  pada musim tanam ini oleh para petani di kelurahan Bancaran kecamatan kota yang tergabung dalam  Serikat Tani Mandiri (STM) kabupaten Bangkalan. Mereka  melakukan aksi unjuk rasa di areal persawahan mereka, dalam aksinya mekera  mengeluhkan adanya kelangkaan  pupuk. “Langka dalam hal ini petani tidak bisa membeli pupuk dengan alasan kios kesulitan stok. Di sisi lain petani tidak bisa membeli pupuk karena tidak masuk dalam rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) pupuk,” kata humas STM, Nur Rahmad Akhirullah, Senin (15/12/2014).

Dikatakan Nur Rahmad, Karena ielangkaan pupuk terjadi Dalam  dua faktor di tersebut maka petani yang tergabung dalam STM membuat  pernyataan. Peryataan para petani itu diantaranya: . Dalam menentukan kebutuhan pupuk pihak distributor membutuhkan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dari Kelompok Tani (Poktan) dan Penyuluh Pertanian. “Maslahnya sekarang  Pada dasarnya di lapangan masih banyak petani yang tidak menjadi anggota poktan. Sehingga sesungguhnya RDKK akhirnya tidak mencakup petani yang bukan anggota tersebut. Petani-petani inilah yang kerap kesulitan pupuk,” kata Yoyonk panggilan akrabnya Nur Rahmad Akhirullah.

Dikatakan Yoyonk,  Dalam menentukan RDKK, penyuluh pertanian cenderung hanya berdasarkan perkiraan. Sebab, banyak petani tak mengetahui kebutuhan pasti pupuk (dan bibit). Sebab, sebagian besar petani tidak paham ukuran lahannya untuk memastikan kebutuhan pupuk lahannya tersebut. Maka penyuluh pertanian harus memberikan pendidikan pengukuran lahan untuk mengetahui kebutuhan pupuk (dan bibit). “Kami harap penyuluh tidak beralasan petani tidak mau dididik. Jika petani paham luas lahannya maka hampir bisa dipastikan akan tahu kebutuhan pupuk dan bibitnya sehingga pertanian berjalan efektif dan efisien. Dengan begitu petani bisa mendapatkan keuntungan yang besar dan konsisten bertani,” jelasnya.

Lebih lanjut Yoyonk menjelaskan,  Sebelum kelangkaan pupuk muncul di pemberitaan media, sistem pembelian pupuk tidak berdasarkan RDKK, sehingga di lapangan banyak terjadi aksi borong pupuk untuk dijual lagi. Pada tingkat bawah RDKK hanya dijadikan dokumen jika ada pemeriksaan. Sehingga, pembelian pupuk yang mestinya sesuai RDKK tak berlaku. Namun setelah diberitakan di media penjual pupuk melakukan pengetatan (hanya menjual pupuk pada petani yang masuk RDKK). Sangat tidak adil bagi petani saat penjual pupuk melakukan pengetatan pembelian pupuk berdasarkan RDKK namun tidak ada solusi pemenuhan kebutuhan pupuk untuk petani yang tidak masuk RDKK tersebut. “RDKK perorangan yang seharusnya menjadi solusi bagi petani yang belum jadi anggota poktan  tak disosialisasikan dengan baik,” pungkasnya

penulis   : Anto

Editor      : Sohib

Email Autoresponder indonesia