Rahasia Aksi Koreo Suporter Timnas di Stadion Maguwoharjo

1429 views

timnasLaga uji coba antara Timnas U-23 kontra Brunei U-23 di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Kamis (16/8/2013) kemarin bakal menyisakan kesan tersendiri bagi masyarakat Yogyakarta. Bukan hanya atas kemenangan yang berhasil diraih garuda muda, namun juga menjadi momentum tepat jika Yogyakarta layak dijadikan tempat menggelar pertandingan sepakbola kelas internasional.

Hal tersebut bukan hanya dipertegas oleh kelancaran pertandingan lantaran fasilitas stadion Maguwoharjo yang memang sudah bertaraf internasional. Namun juga atas sambutan para suporter yang notabene didominasi oleh para suporter asal Yogyakarta.

Dipenuhinya seluruh area tribun penonton menjadi satu bukti bahwa euforia yang ditunjukan masyarakat Yogyakarta kepada timnas sangat luar biasa. Ini menjadi bukti jika kemeriahan stadion Maguwoharjo tidak kalah dengan keriuhan Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.

Sejak awal pertandingan, yel-yel dan teriakan suporter menggema di stadion Maguwoharjo. Berbagai suguhan spektakuler juga tersaji selama laga berlangsung. Satu yang cukup menyita perhatian tentu aksi koreo dari para suporter yang duduk di tribun utara dan selatan stadion.

Seperti mendapat satu komando, kerumunan suporter membentuk formasi dengan membentangkan kertas berwarna merah dan putih. Luar biasanya, aksi tersebut tampak membentuk formasi bertuliskan angka 68 diapit dengan dua anak panah di samping kanan dan kiri serta formasi bendera di sisi lainnya.

Sontak aksi tersebut menyita perhatian ribuan suporter lainnya. Tampak raut muka takjub dan komentar memuji aksi para suporter tersebut.

Salah satu koordinator suporter, Trimurti Wahyu Wibowo mengatakan jika aksi yang ditunjukkan para suporter itu bukan tanpa rencana. Jauh-jauh hari sebelum hari H pertandingan, telah dilakukan upaya koordinasi dan perencanaan tentang bentuk koreo.

“Terutama, tentang tulisan atau gambar apa yang akan kita sajikan nanti,” kata Wahyu, Jumat (16/8/2013).

Wahyu sendiri mengatakan jika pemilihan bentuk koreo tidak bisa dipilih secara asal-asalan. Artinya, harus ada korelasi antara bentuk koreo dan momentum yang tengah hangat di masyarakat atau momen pertandingan yang dijalankan.

Khusus untuk pertandingan timnas junior kemarin, lanjut Wahyu, sengaja dipilih membentuk angka 68. Hal itu dimaksudkan untuk menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-68.

“Entah apapun bentuk koreonya, harus ada makna didalamnya, jadi tidak asal desain saja,” imbuh Wahyu.

Diakui Wahyu, tak butuh waktu banyak bagi dirinya dan para suporter membentuk satu desain koreo. Sebelum laga, koordinator yang ditunjuk akan menggambar pola koreo di tribun penonton dan membentuknya sebuah kerangka (mal-red).

Nantinya, para suporter harus mengikuti pola yang telah diatur. Pun dengan warna kertas yang dipegang para suporter harus sesuai dengan warna yang tertera dalam pola koreo.

“Setelah sesuai pola, akan ada beberapa leader yang berdiri di barisan paling depan memberi arahan kapan membentangkan warna kertas putih atau merah,” kata Wahyu.

Menurut Wahyu, banyak faktor yang menentukan keberhasilan aksi koreo tersebut. Diantaranya kerapihan pola serta jumlah suporter yang datang ke stadion. Makin banyak suporter maka koreo akan semakin tampak megah.

Wahyu sendiri merasa diuntungkan oleh desain tribun stadion yang terbilang besar dan tinggi hingga mampu menampung banyak suporter. Dengan hal itu, akan ada banyak pilihan desain yang bisa dibuat.

Meski demikian, rasa khawatir selalu muncul di benak Wahyu dan para suporter andaikata hujan tiba. Jika hal itu terjadi, maka desain koreo tidak akan sempurna karena kertas menjadi basah dan rawan rusak atau robek.

“Tapi untung saja kemarin tidak hujan, jadi semuanya bisa sesuai keinginan kami,” pungkas Wahyu.
Sumber : TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN

Email Autoresponder indonesia