Risma Ingatkan Warga Disiplin Terapkan Prokes saat Main Ludruk

Maduracorner.com, Surabaya – Walikota Surabaya Tri Rismaharini terus mengingatkan warganya supaya disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan (prokes) saat main ludruk bersama Kartolo. Seperti memakai masker, jaga jarak dan harus rajin cuci tangan memakai sabun dengan air mengalir.

Sebab dengan disiplin prokes dalam kehidupan sehari-hari bisa mencegah penularan Covid-19. Pesan tersebut disampaikan Risma beberapa kali di sela-sela pertunjukan. Diharapkan masyarakat melaksanakan pesan tersebut, sehingga terhindar dari Covid-19.

“Kudu gawe masker, kudu jaga jarak, kudu rajin cuci tangan yo (harus pakai masker, harus jaga jarak, harus rajin cuci tangan ya),” pesan Wali Kota Risma, Sabtu (17/10/2020) malam.

Pertunjukkan Parade Seni dan Budaya Surabaya ini berlangsung virtual di Gedung Balai Budaya. Risma hadir sebagai bintang tamu utama. Ia membawakan peran sebagai Ibu RW dalam cerita ludruk berjudul “Ger-Ger An Yes, Gegeran No”.

Sementara itu, Cak Kartolo, Kirun, Ning Tini (istri Cak Kartolo) beserta seniman lain tampil sebagai warga dalam cerita ludruk itu. Meski tanpa persiapan yang matang, Risma tampak begitu lihai membawakan perannya sebagai sosok Ibu RW.

“Aku lali mau rek dikongkon ngomong opo yo. Lali aku rek. (Saya lupa tadi disuruh ngomong apa ya. Lupa saya),” kata Wali Kota Risma saat di atas panggung.

Walaupun begitu penampilan Risma ketika berada di atas panggung bisa dibilang sukses. Meski tanpa persiapan yang matang, Risma dapat mengikuti jalannya alur cerita beserta mengimbangi guyonan-guyonan khas ala Cak Kartolo.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya, Antiek Sugiharti mengatakan, Wali Kota Risma tampil dalam pertunjukkan ludruk kali ini tanpa persiapan khusus. Sebelum tampil, pihaknya hanya memberikan konsep naskah alur cerita.

Esensi dalam cerita ludruk kali ini ada pesan mendalam yang disampaikan ke masyarakat. Risma ketika tampil sebagai sosok Ibu RW, ingin mengajak warganya agar disiplin menjalankan protokol kesehatan.

“Intinya untuk membangun Surabaya itu kita harus tetap menggunakan protokol kesehatan, peduli terhadap lingkungan dan masyarakat untuk tidak berselisih paham atau bertengkar,” ujar Antiek. (Syaiful Islam)

Email Autoresponder indonesia