Sang Juara Bertahan Angkat Koper, Ada Apa Dengan Spanyol?

550 views
Spanyol

Spanyol

Skill Bola Kalah Dengan Semangat Tanding | Oleh Mamad el Shaarawy

maduracorner.com, Bangkalan
“They are going home. Spains are going home!”. Itulah diucapkan komentator televisi saat pertandingan antara Spanyol vs Chille sudah memasuki menit 85. Saat itu Iker Casillas dkk memang sudah tertinggal 2 gol tanpa balas dari Alexis Sanchez dkk. Praktis mereka butuh keajaiban besar untuk membalikkan keadaan di waktu sisa. Dan harapan itu tak kunjung datang juga hingga wasit meniupkan peluit panjangnya (19/6).
 
Juara Piala Dunia 2010 itu pun tumbang. Kekalahan ini sangat menyesakkan dada para punggawa tim Matador. Kekalahan yang juga memastikan mereka pasti tersisih sejak putaran grup dari pesta sepakbola akbar di Brazil tersebut. Kekalahan yang membuat mereka tidak mampu mempertahankan gelar pada Piala Dunia 2014 kali ini.
 
Ini merupakan kekalahan kedua mereka setelah sebelumnya dihabisi Timnas Belanda di laga perdana mereka dengan skor menakjubkan, 5-1. Tanpa mengemas 1 poin pun dalam 2 laga membuat mereka harus tersingkir. Karena laga terakhir melawan Australia takkan mengubah posisi mereka di klasemen Grup B. Dari grup ini pun sudah dipastikan Belanda dan Chille.

Melihat kondisi ini, tentu banyak yang mengernyitkan dahi. Ada apa dengan Spanyol? Mana kejayaan yang mereka tunjukkan 4 tahun lalu saat menggenggam gelar juara Piala Dunia 2010 Afrika Selatan? Mana kehebatan para bintang Real Madrid, Atletico Madrid hingga Barcelona. Padahal 2 klub yang kami sebutkan pertama adalah penguasa benua biru tahun ini, finalis Liga Champions Eropa 2014.
 
Tim Matador berangkat ke PD 2014 Brazil dalam kondisi bagus. Tak ada pemain bintang Spanyol yang cidera parah sehingga batal berangkat. Ini berbeda dengan beberapa timnas negara lain. Semisal Schweinsteiger dan Marco Reus yang batal tampil bersama Jerman karena cidera. Ada lagi Frank Ribery (Prancis), Radamel Falcao (Kolombia) hingga Montolivo (Italia).

Tapi takdir berkata lain. Tim Matador luluh lantak dihajar lawan-lawannya. Gawang mereka bobol 7 gol dan hanya memasukkan 1 gol dalam 2 pertandingan. Catatan ini tentu rekor buruk untuk sang juara bertahan. Ada apa sebenarnya dengan Spanyol?

Sebenarnya tidak ada masalah dalam skuad ini. Para pemain bintang bertaburan di semua lini. Mayoritas diisi oleh para punggawa 3 klub La Liga yang kami sebutkan diatas. Sebagian kecil lainnya dari klub Arsenal, Chelsea hingga 2 klub asal kota Manchester, MU dan Man City. Mereka adalah para pemain dengan label bintang. Pemain kelas 1. Terus apa yang salah?

Jika berkaca pada laga perdana saat melawan Belanda, pilihan strategi yang dipakai del Bosque dituding sebagai biang kerok. Gaya tiki-taka yang ditunjukkan para pemain Barca yang mengisi pos lini tengah mati kutu. Aliran bola memang mereka kuasai. Terbukti dari ball possession mereka yang lebih tinggi dari Belanda. Xavi Hernandes, Pedro, Iniesta dan Busquet menunjukkan kemahiran mereka bertiki-taka.

Namun sayang, aliran bola mereka mentok. Tak bisa menembus rapatnya pertahanan tim Orange. Semua yang mereka lakukan seakan mudah terbaca oleh para pemain Belanda. Apalagi gelandang Belanda bertipikal petarung seperti De Jong dan De Guzman tampil nyaris sempurna sebagai pemutus aliran bola ke lini depan Spanyol.
 
Dalam kondisi seperti ini, Xavi Hernandez seperti mulai frustasi. Begitu mereka kehilangan bola, tim Orange-lah yang memegang kendali. Serangan balik mereka begitu cepat. Sekali hentak, bola sudah pindah ke kaki duo pemain yang menempati pos terdepan. Yakni Arjen Roben dan Robin Van Persie. Dan bermodal kecepatan kaki mereka serta
skill individu ciamik, dengan mudah keduanya mengelabuhi duo centreback Spanyol yang tampil di bawah
form, Gerald Pique – Sergio Ramos. Gol demi gol pun terjadi. Hancur lebur, 5 gol Belanda hanya mampu dibalas sebiji gol. Itu pun lewat
penalty kick Xabi Alonso.

Saat melawan Timnas Chille, anak asuh del Bosque sebenarnya bermain lebih bagus. Tak hanya mengandalkan umpan satu dua sentuhan, namun permainan mereka lebih cepat. Tiki taka dikombinasikan dengan umpan jauh yang lebih efektif. Tapi kenapa bisa kalah lawan Alexiz Sanchesz dkk? Mungkin Vicente del Bosque sekarang tengah termenung. Menyesali banyak hal.

Namun yang pasti, dalam laga Chille vs Spanyol menunjukkan 1 hal. Kumpulan pemain hebat bisa dikalahkan dengan kekompakan serta semangat tanding.  Lihat bagaimana lini tengah Chille bermain. Jika diukur secara tekhnis, kemampuan olah bola Vidal, Diaz, Aranguiz, Mena dan Isla masih kalah dibanding lini tengah Spanyol.
 
Namun semangat tempur mereka diatas Silva, Pedro, Iniesta, Alonso dan Busquet yang mengisi pos vital tersebut. Kemana bola mengalir, pasti ada 1 atau 2 pemain Chille yang melakukan preassure ketat. Ketidakmampuan Iniesta dkk lepas dari tekanan ini membuat mereka menjadi frustasi.
Chille seperti banteng yang tak kenal lelah. Mereka mampu menaklukkan sang Matador. Padahal biasanya, banteng-lah yang selalu jadi pecundang di arena. Dan sang Matador yang menang. Namun kali ini, Matador jadi pesakitan. Mereka harus rela dipulangkan lebih awal.
 
Sebagai catatan, Spanyol merupakan juara bertahan ke 3 dalam 5 piala dunia terakhir yang harus tersingkir di putaran grup. Sebelumnya sudah menimpa Timnas Perancis juara bertahan Piala Dunia 1998. Tapi Zinedine Zidane dkk gagal lolos putaran grup pada Piala Dunia 2002. Hal yang sama menimpa Timnas Italia. Meski menyandang status
Il Campione del Mundo 2006, tim berjuluk La Nazionale  ini gagal lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2010 lalu.
 
Ini seperti sebuah peringatan bagi para tim juara maupun tim besar lainnya. Tak selamanya pemain bertabur bintang bisa berjaya. Dan tak selamanya tim kecil bisa dengan mudah dikalahkan. (mad)