Sarangan Pasukan Belanda ke Bangkalan

1449 views

Maduracorner.com, BangkalanPada waktu Belanda melanjutkan serangannya ke kota Bangkalan, telah terjadi pertempuran sengit antara tentara Belanda dengan Pasukan Pesindo yang bertahan di Junok sebelah timur . Pemuda Isandar menderita luka di pahanya.

Penyerangan Belanda di salah satu sudut kota Bangkalan
Penyerangan Belanda di salah satu sudut kota Bangkalan

Mengenai pemuda Abdus Syukur yang memilih sebagai Pimpinan dalam serangan, selanjutnya mencukupi untuk menunjukkan kemampuannya. Bekas kediaman Asisten Residen Belanda yang ditempati menjadi Markas Pesindo, dibumi hanguskan dan sebagian besar hancur. Di gedung yang sekarang dibangun di atas dan sekarang menjadi kantor DPRD, sementara di jalan desa Junok itu sekarang diberi nama Jalan Pemuda Kaffa.

Dari gerakan-gerakan tersebut menjadi jelaslah bahwa Belanda akan membuka kota Bangkalan dengan masuk dari Lambung sebelah timur. Dan desa Junok pertempuran beralih ke seberang Masjid Jamik di kota Bangkalan yang terjadi pada tanggal 16 Agustus 1947, dengan korban di pihak Belanda sebanyak dua orang.

Pada tanggal 23 Agustus 1947 terjadi pertempuran hebat di Gedongan di seberang penjara.
Tidak sedikit jatuh korban di pesta Belanda, sedang di pihak kita pun menderita korban. Karena sengitnya pertempuran di desa tersebut, maka jalan desa Gedongan sekarang diganti dengan nama Jalan Pertempuran.

Pertempuran di Gedongan

Dan Kompi Kelasykaran Pesindo yang dipimpin oleh pemuda Syafiri, yang ditugaskan untuk menyerang kota Bangkalan di sebelah barat kota, termasuk Seksi yang dipimpin oleh Pemuda Doufirul Chusni, berada di sebelah utara dan Kompi Batalyon I sendiri. Hanya sangat disayangkan sebagai serangan umum yang dilakukan hanya karena kegagalan dan pasukan dan jurusan timur saja telah menyerang pasar Kecamatan Tanjung Bumi.

Komando, maka Pasukan dan Seksi Doufirul Chusni kembali ke pangkalan di kampung Bandaran. Keesokan harinya, sekitar pukul 14.00 pasukan Belanda melakukan serangan ke kampung Bandaran dengan maksud untuk diadakannya izin karena Pasukan Pemuda Pesindo bersembunyi di daerah Gedongan.

Dengan operasi menyelamatkan ini ditentang oleh Seksi Doufirul Chusni, dan terjadi kontak senjata mulai dari Jalan Pertempuran / Jalan Pembela sampai di rumah penjara. Pertempuran berjalan yang tidak menyenangkan dengan orang yang dipukul Belanda.

Pada hari kedua Belanda mengadakan serangan lagi ke daerah Gedongan dengan kekuatan kurang dari satu kompi sekitar pukul 14.00, maka terjadi pertarungan sengit di daerah sekitar jembatan rumah penjara, gudang garam, dan di rumah tingkat atas di selatan sungai. Pertempuran berakhir sampai kurang lebih pada pukul 17.30 dengan kerugian Belanda Satu Jeep hancur dan beberapa korban yang tidak diketahui . Dan selanjutnya pasukan kita mundur dan menghilang di pinggir laut yang tidak diketahui oleh pihak musuh.

Pada hari ketiga pasukan Belanda mengadakan serangan lagi, tetapi tidak melawan pasukan kita, mengingat kekurangan yang ada dan pada saat itu pasukan Belanda meneriakkan kata-kata yang dimaksud perkumpulan pemuda yang tidak bisa diloloskan, kampung Gedongan akan dibumihanguskan.

Karena pertimbangan terakhir terjadi, Seksi dan Doufirul Chusni segera meninggalkan daerah Gedongan demi keselamatan masyarakat Gedongan itu sendiri, dan berlanjut pada waktu dini hari sekitar pukul 04.00 sebelum subuh mereka menuju Arosbaya.

Kesepakatan Komandan-Komandan Kompi

Hasil perundingan antara tiga Komandan Kompi dibatalkan: Pasukan kita harus lepas dari pengepungan Belanda, maka pasukan harus kembali ke garis kedua, ke desa Gilih / Socah, dan dengan sendirinya Kamal dikosongkan. Pasukan kita melakukan penerobosan dan pukul 18.00 tepat, mulai bergerak mengambil Arah melalui kota Bangkalan dan kecamatan Bumeh. Gerakan ini berjalan dengan mudah karena masih mengkonsolidasikan diri pada markasnya di Burneh.

Tujuan penerobosan adalah Kecamatan Aroshaya sejauh 35 kilo meter dari kota Bangkalan. Pukul 01.00 tengah malam, baru tiba di desa Tonaan, di tempat bertemu dengan Komandan Batalyon Walikota Hanafi. Sementara itu Belanda terus bergerak maju dengan tanknya sampai kota Bangkalan dikuasai dan menempatkan pos-pos penjagaannya di setiap jalur dan jurusan jalan keluar kota. Dengan penyerangan tersebut, Komando Sektor I Bangkalan (Batalyon I dengan semua Kompinya termasuk TKR Lautnya dan pasukan Kelasykaran lainnya) dipusatkan di Arosbaya dan desa Karang Duwak sebagai daerah pertahanannya yang baru.

Perintah Mundur

Walikota Hanafi memberikan perintah mundur ke Arah kecamatan Arosbaya sesuai dengan rencana semula. Di situ bahan makanan cukup tersedia dan masyarakatnya benar-benar berhasil mengatasi penjajah.

Dua orang sesepuh yang pengaruhnya sangat hesar, R. Abujamin Suriowinoyo dan R. Bahar Suryodiputro yang jiwanya sangat anti Belanda sangat menebalkan keyakinan kita untuk bentahan di sana. Selain itu Wedananya RP Mohammad Noer, seorang pamong dan pembina masyarakat (bekas Chudancho PETA), dilengkapi semangat pemeliharaan daenah yang belum diduduki oleh Belanda. Dan ulama yang ikut berpartisipasi adalah, K. Marsoeki dan K. Munif.

Kiranya perlu dikemukakan di sini, satu Kompi dipimpin oleh Kapten Salik Munir yang ditugaskan di kota, tetapi kemudian ditarik ke Batalyon dengan tugas pengalihan antara lain penculikan di dalam kota dan lain sebagainya.

Kapten Hamid dengan Kompinya mempertahankan jalan besar BangkaIan – Arosbaya, semua jembatan harus dirusak untuk mcnghambat pasukan dan harus semua pohon di tepi jalan harus dtebang.

Kompi Fatah dan Kompi Abdussalam mengambil Komandan Batalyon dan mengmbil tempat agak ke dalam di desa Karang Duwak, Arosbaya dan sebagai Markas Umum Pertahanan didukung oleh Lasykar-lasykar Pesindo dan PPI (Pasukan Polisi Istimewa).

Akhirya Arosbaya jatuh juga karena dihujani tembakan mortir dan howitzer dari arah Bangkalan selain artileri dari pantai dan penembakan dari udara, sehingga menimbulkan banyak korban, hal mana sangat menyibukkan dokter Sularto dari bagian kesehatan .

Penggabungan Batalyon I dan VI Resimen 35

Dalam kesulitan yang serba sulit Walikota Hanafi mengadakan perundingan dengan Walikota Azis untuk maksud penggabungan Batalyon I dan Batalyon VI serta menyatukan semua kekuatan, dan disetujui mempergunakan menggunakan Cobra. Taktik Cobra hanya dijalankan oleh Batalyon Walikota Hanafi dan juga Laskar Iainnya, sedangkan Batalyon Walikota Azis terhalang karena Walikota Azis diterima untuk Belanda.

Pembagian tugas selanjutnya adalah: Walikota Hanafi sebagai Komandan Sektor III dengan para Komandan dan Kompinya, Kapten Salik Munir, Kapten Fatah, Letnan Satu Mohammad Sabirin, Letnan Satu Abdussalam, Kapten Hamid dan Letnan Satu Hafidz (penggabungan Kompi-kompi dan Batalyon Azis). sesuai rencana dalam serangan, mengacaukan memuaskan pasukan / Gerakan Raider ke dalam kota.

Kapten Salik Munir dipercayakan untuk mcnghacurkan / membumihanguskan dan di mana perlu menghabiskan mata-mata Belanda. Kapten R. Abdul Hamid yang merupakan penduduk asli Arosbaya, diserahi tugas khusus masyaraikat dengan tokoh ulama dan juga dengan yang lainnya seperti R. Abdul Hadi sebagai Pesindo, R. Ruslan dan PM, R. Supardi sebagai Ketua Umum dan lain-lain ( Lontar Madura)

Tulisan diangkat dari buku Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia di Madura, oleh Tim Penyusun Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI di Madura, 1991, Bab III, dengan sub judul: (1) Aksi Militer Belanda di Madura , (2) Pembentukan Komando Pusat Pertempuran Madura (3) Pasukan Belanda Menuju Bangkalan , (4) Gerakan Belanda dan Pendudukan Arosbaya, (5) Pengerahan Tenaga di Daerah Pendudukan Belanda , (6)Serangan Umum di Kota Pamekasan , (7) Penghianatan Dalam Pertempuran Klampar , (8)Serangan Balasan menentangadap Belanda di Desa Morsomber , (9)Pusat Pemerintahan Sipil Pindah Ke Sumenep , (10)Serangan Final Belanda Besar-Besaran Ke Sumenep

By Jiddan